Perahu (4)

Posted: October 11, 2011 in CerBung, Ibu
Setelah makan siang, aku masuk k peahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras, untuk kehidupan dan untuk orang tua di rumah sakit. ABRI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran ar.
Angin menyeruak dari laut. Kamu harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pad sebuah paluh. Kami mulai menetak pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau. Sesekali aku menebar jala. AKu kurang pintar mengembangkan jala. AKu berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidk dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jalan bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. AKu menariknya lamat-lamat. seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakak merah yang nyasar ke paluh. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorangnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.

“Bu ne, kamu cantik sekali,” rayuku.
“Apa benar, Mas?”
“Ya… benar kamu cantik sekali, kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling.
“Maukah kamu mengisap tititku?” kataku memohon. Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. AKu mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kotolku.
“Aku senang, Mas…” katanya. Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
“Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?” tanya Suti.
“Terserah saja…” Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. AKu melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan maniku dalam mulutnya. AKu mendengar spermaku tertelan oleh Suti.
“Asin Mas…”
“Karena belum terbiasa,” kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
“Kamu mau?” tanyaku?
“Dijilat saja ya Mas…” katanya tersenyum. Aku mengangguk. Kuminta dia mencucui memeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar Kakap dan sembilangnya tidak mati.

Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. AKu memulai menjilati memeknya. UJung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang memek-nya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedau kakinya sudah berpindah. Kedau kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
“Akhhhh….” desahnya kuat lalu melemas. Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali menetak pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki paluh. Orang itu, berhenti dan memutar haluannya, karena melihat kami dan paluh sempit itu tak mungkin dilintasi dua perhu yang bercadik.
“Sudah banyak dapat?” orang itu menegur kami.
“Baru satu Mang…” jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
“Dia melihat kita tadi, Mas?” tanya Suti.
“Aku yakin tidak,” jawabku. Aku kembali mengambil jala dan menbarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yag ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah, sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari paluh. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit enang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.

“Ada dapat dik?” tanya pak tentara.
“Satu ekor pak. Untuk kami masak dan kami bawa kerumah sakit untuk ayah,” jawabku. Tentara itu tersenyum.
“Ya… hatimu bagus sekali dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua,” katanya bangga. Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba, tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
“Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan,” kata bu Bidan yang ikut dengan tim ABRI masuk Desa.
“Ya.. BU. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?” kataku.
“Boleh… setengah jam lagi aku ambil,” kata bu Bidan. Kami cepat mempeisangi ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. IKa dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami mun makan setelah usai shalat mahgrib. Kami mempersiapkan makanan untuk besok subuh ke laut. Semuanya sudah beres.
“KIta tidur yuk… biar besuk cepat bangun dan ke laut. Kamu iku Bu ne?” tanyaku.
“Ya mas. Aku ikut,” kata Suti. Karena belum laurt, kami mengecilkan lampu saja di ruang tengah dan kami berangkat tidur dikelilingi kain pembatas. Dalam gelap kami melepas pakaian kami. Kami mulai berpelukan.

“Kamu mau bukti, kalau sekarang sudah tidak sakit lagi, malah akan nimmat,” kataku mulai merayu Suti.
“Pasti gak sakit lagi, kan Mas?”
“Ya.. pasti,” kataku sembari mencium bibirnya dan melumatnya. Lalu aku mengisap-isap teteknya dan sebelah tanganku mengelus-elus memeknya. Suti mendesah-desah. AKu merasakan memeknya sudah ada lendir.
“Mas masuki ya, Bu ne..” bisikku.
“Ya..”
Aku mengarahkan kontolku ke memeknya. Ujungnya sudah mulai menyentuh lubang memeknya. Perlahan aku menekannya. Perlahan dan perlahan. Masuk…masuk…dan masuk.
“Sakit?” tanyaku.
“Dikiiiiitttt…” jawabnya. Perlahan kutarik kontolku dan perlahan pula aku mendorongnya. Begitu terus bergantian. Suti mendesah dan memelukku.
“Dimasukin semua, Mas…” pintanya mendesah.
Aku menekan semakin dalam dan dalam.
“Yang cepat Mas…” bisik SUti mendesah dan memelukkukuat. Aku menggenjotkan semakin cepat…. cepat dan cepat.
“Ayo Mas… lagi…. ayooo….” Suti mendesah lagi. Aku menggenjotnya semakin cepat dan cepat dan cepat dan ccepat dan cepatttt.
Tubuhku dan tubuh SUti demikian rapatnya. Lengket. Kami sama-sama mengejang dan melepaskan kenikmatan kami. Beberapa kali aku menyemprotkan mani ke dalam lubang Suti. Dia memelukku sekuat tenaganya.

Kami beperlukan dan kontolku yang melemas, lepas dari lubang Suti.
“Kamu cantik sekali Suti..” biskku.
“BUkan Suti Mas. Bu Ne…” bantahnya.
“Ya… kamu cantik sekali Bu ne…” ulangku. Suti memelukku dan mengecup pipiku. Kami tertidur nyenyak. Kami terbangun saat menjelang subuh. Kami menyiapkan jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Kami pun menuju ke tengah laut, untuk mencari ikan dan akan kami jual untuk kehidupan kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s