Bersama Bude-ku (2)

Posted: December 12, 2011 in Keluarga

Setelah mengunci pintu kamar dengan aman, aku menarik Bude ke atas ranjang. Aku menciumi Bude, sembari tanganku meraba-raba bagian tubuhnya. Tanganku sudah berada dia selangkangannya, persis pada bibir memeknya. Sudah basah dan berlendir. Ternyata kalau sudah begini, Bude ku justru hanya bisa diam dan mendewah-desah. Justru tidak ada perlawanan. Berbeda kalau dia menagih uang pada pelanggannya, mulutnya bisa merepet dan menyindir tajam bahkan membentak. AKu malah jadi takut, karena aku tidak terbiasa kasar kepada siapapun juga.

Kuamsuakkan pebntil tetek Bude ke mulutku dan mengulumnya serta mempermainkannya. Pentil berwarna hitam dan besar itu membuatku senang. Sebelah tanganku membelai teteknya yang sebelah lagi. Tanganku yang satu lagi membelai memeknya yang sudah berlendir.
“Ohhhhhh….” Bude melenguh seperti sapi yang mau dipotong lehernya.
“Mansuuuurrrr… kamu apakan Bude mu ini sayaaaaang…” lenguhnya. AKu semakin semangat dan terus menjilati perutnya. Turun ke bawah dan kukuakkan kedua pahanya yang besar. Lalu kujilat memeknya seperti yang selalu kusaksikan pada BF dan seperti apa yang pernah diajarkan oleh tetanggaku kepadaku setahun lalu.
“Mansyur… kamu apakan Bude mu ini sayaaaang…” lenguhnya kembali. Aku diam saja dan kujilati terus memek yang berlendir itu. Lendir itu sepertinya keluar membuncah-buncah dari dalam memeknya. Aromannya sangat merangsang nafsuku.

“Ooooooooohhhh….” BUde melenguh panjang sembari menjambak rambutku dan menjepitkan kedua pahanya yang besar itu di kepalaku membuatku susah bernafas. Dan lenguhannya semakin menjadi-jadi sembari menyeracaukan kata-kata dari mulutnya.
“Mansyuuuurrrrr… Kamau nakal Nak. Kamuuuuu naaakkaaaa…lll…” katanya terbata-bata dengan semburan lendir yang terasa begitu membanjir. AKu tahu Bude sudah orgasme. Lama kelamaan jepitan kedua kakinya melemah.
“Sudah dulu sayang. Nanti Bude Maaattttiiiii….” katanya memelas. Sangat memelas.

Aku memeluknya dan tidyur di sampingnya. Kalau aku mau senang,. inilah saatnya aku harus berbuat, bathinku.
“Bude perempuan luar biasa,” pujiku.
“Benarkah sayang,” katanya masih terbatas dan tersenyum dalam keleahan.
“Bude aku mencintaimu. Jadilah pacarku,” kataku.
“Ya sayang. Ya. Mulai sekarang aku adalah pacarmu,” kata Bude.

Kukecup pipinya dan kuelus rambutnya. Padahal aku yang selalu diperlakukan tante tetanggaku semasa aku dikampung. Aku senang kalau kepalaku dielus-elus. Kini kuperlakukan kepada Budeku.
“Tidak seharusnya kini seperti ini,” kata Bude.
“Seharusnya kita bagaimana Bude?” tanyaku menyindir.
“Ya.. aku kan mBakyu Bapakmu.”
“Tapi Bude kan perempuan dan aku laki-laki. Aku sudah lama mencintai Bude,” kataku.
“Ya, tapi tidak seharusnya?” dia tetap bertahan.
“Kalau begitu, menurut Bude, aku harus kembali ke rumah bapakku?” aku setengah mengancam. Bude diam. Kemudian aku dipeluknya.
:”Kemau Bude ngomong demikian saja, kamu langsung ngambek sayang.”
“Ya, karena aku menyintaimu Narti,” aku sengaja menyebut namanya. DIa menatapku.
“Narti sayang…” rayuku. Bude tersenyum.
“Ya Kang Mas…” jawabnya dengan senyum dan menyubit bibirku. Langsung dia kupeluk dan emncium bibirnya dan kembali kulumat. Kutindih tubuhnya dari atas dan kujilati lehernya yang sedikit asin, karean masih ada kerintat.
“Kamu cantik Narti,” kataku di telinganya sembari menjilat daun telinganya.
“Oh…: hanya itu jawabnya. Kembali kujilati lehernya dan kukecup pula dia kelopak matanya. Kujilat bibirnya, ;a;u kujilat hidungnya.

TIba-tiba Bude mengangkaqngkan kedua pahanya dan menangkap kontolku dan dimasukkannya ke lubang memeknya. Memek yang maha basah dan licin itu hanya hitungan dua detik sudah menghilang di dalam memeknya.
“Ooooohhhhh…..”

Kutekan dalam dalam kontolnmya ke dalam memeknya. Aku masioh saja meremas-remas teteknya dan mengemut-ngemut pentilnya yang besar dan hitam.
“Syuuurrrr…. kamu nakal sekaliiiii…” katanya merintih.
“Tenang Narti sayang. Kamu akan orgasme lagi….” bisikku.
“Andaikan kita bukan saudara…” desahnya.
“Andaikan kita bukan saudara kenapa Narti,” bisikku pula.
“Aku akan mengajakmu menikah…”
“Untuk apa menuikah, kalau kita melebihi dari menikah,” bisikku.
“Ya… untuk apa surat nikah. Ya. Tapi kita tidak pacaran lagi ya…” kata Bude.
“Lalu…” kataku agak terkejut.
“KIta suami isteri saja mulai sekarang,” katanya. Aku senang.
“Ya isteriku sayang… seruku dan aku mulai memompa memeknya dengan kontolku yang keras. Becek sekali memek itu. Setiap keluar masuk kontolku pada memek Narti, selalu mengeluarkan suara. Bahkan suaranya sangat keras. Ceplak… ceplok…ceplak…ceplok… ceplak dan seterusnya, membuatku semakin semangat.

Narti memelukku dengan kuat dan menjepitkan kedua kakinya di pinggangku dan mulutnya menyeracau.
“Diamput… kontolmu enak tenan Syuuuurrrr. Duh, penake.. teruskan sayang. Lebih dalam lagiiiii…” katanya. Malah mulutnya mulai menjilati leherku dan desah nafasnya berburu keras serta air liurnya yang meleleh di tubuhku.
Kutekan terus kontolku dan kutarik dengan teratur, sampai akhirnya Narti menjerit. Akau terkejut, jeritannya justru membuatku langsung menutup mulutnya denghan bibirku.

“Haaaaa…. ueeeennnaaaaaakkkk….” jeritnya. Langsung kucipok mulutnya. Tapi bukan malah dia dia. Dia teruskan jeritannya walau suara itu terdengar separti guman saja. Lalu dia menggigit leherku dan menjepit kedua kakinya kuat sekali dipinggangku, sedangkan kedua tangannya memeluk tubuhku dengan kuat sekali. Kuat dan kuat sekali.

Seeerrrrrrrrrrrrr….
Lendir hangat itu membuncah-buncah keluar membasahi alur memeknya ke alur pantatnya. Aku tak mau kehilangan momen. Akua menekan kontolku sedalam-dalamnya dan memeluknya sekuat mungkin dan akiu melepaskan spermaku berkali-kali. Saat spermaku menembak keluar dari ujung kontoljku Narti menjerit lagi.

“Doooohhhh. Waaaahhhh… teruuuusssssiiiiiinnnnnnnnnnn…. Aaahhhhh….” KUtahan terus keontolku dalam memeknya sampai empat kali kontolku memuntahkan sperma hangat. Kami terus berpelukan dengar eratnya dengan nafas memburu. Tubuh kami penuh keringat. Lama kelamaan kami melemas dan aku sudah terlentang di sisinya. Kami sama-sama tersenyum.
Kami bangkit melap keringat kami dan mengenakan pakaian kami. Setelah kering keringat, dengan mandir air hangat kami memasuki kamar mandi dan memakai pakaian kami yang bersih.

“Aku malas masak. Kita makan ke luar aja yuk…” Narti merayuku. Suaranya demikian lembut dan manis, AKu membobncengnya dan kami makan di restoran lesehan. Dia menyerahkan dompernya dan aku membayar makanan kami. Sat kukembalikan dompertnya dia katakan agar aku mengambil uang sebara aku mau. Sejak saat itu, aku bebas membuka lemari dan laci untuk mengambil uang kebutuhanku. Semua pakaianku bermerk. Bahkan aku sudah dibelikan mobil Suzuki Katana terbaru. MUngkin di kabupaten itu, akulah siswa SMU yang membawa mobil ke sekolah, walau kuparkir agak jauh.

Narti pintar menjaga dirinya, hingga dia tidak hamil. Selain itu, pada masa-masa subur, aku dimintanya untuka memakai kondom. Nartri sangat senang setiap kali aku menerima rapot, dengan nilai yang bagus jkarena aku juga les khusus kepada seorang guru les.
Kini aku sudah semester tiga di sebuah perguruan tingi. Diam-diam, aku selalu mengirimi uang kepada ibuku untuk keperluan adik-adikku sekolah.

Habis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s