Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (11)

Posted: December 13, 2011 in CerBung, Ibu

Akhirnya, Susan mendorong Bayu menjauh, napasnya terengah-engah dan pendek. “Bayu, kita tidak bisa, kita … kita … harus berhenti” katanya dengan suara lirih, penuh dengan nada keraguan.

Larangan Susan yang penuh dengan nada ragu, tampak tidak meyakinkan untuk Bayu. Dia mendorong kembali Susan ke tanah, mengabaikan protes yang lemah dan sekali lagi mengulum mulut Susan dengan mulutnya.

Tangannya sekarang bekerja menarik baju atas ibunya ke atas sampai kedua payudara yang besar dan montok tersebut menyembul tanpa penghalang serta terkena udara dingin sore hari, sapuan udara dingin rupanya menyebabkan puting tersebut lebih mengeras lagi.

Bayu melepaskan kulumannya pada bibir Susan, dan menarik wajahnya serta menatap keindahan payudara montok dan penuh milik ibunya. “Jesus.., begitu cantiknya sepasang buah dada ibu” kata Bayu sambil membungkuk dan mencium kedua buah dada tersebut satu persatu.

“Jangan Bayu, berhentilah” kata Susan sambil mendorong Bayu menjauh. Bayu jatuh telentang, dadanya terengah-engah sedang matanya memandang langit. “Maaf Ma…aku … aku idiot bodoh, telah menyalah gunakan kasih sayang mama yang selamanya selalu memanjakan aku. maaf..” kata Bayu hampir menangis.

Susan kembali duduk, sambil menarik baju atasannya ke bawah dan menatap anaknya. “Dia begitu muda dan bergairah sampai dia kehilangan kontrol. Ini salahku bukan salah Bayu” pikirnya. “Aku sudah dewasa dan selayaknya lebih mampu menahan diri daripada Bayu” kembali hatinya berdesah.

“ughhh…” desah sangat lirih keluar dari bibir Susan saat ia menatap dada yang bidang dan berotot anaknya lalu pandangannya turun ke tonjolan di celana Bayu tepat dibagian selangkangannya..

“Kau bukan seorang idiot Bayu, tapi kamu seorang anak laki-laki yang tampan serta cerdas, dan aku sangat mencintaimu” bisik Susan sambil berbaring di samping tubuh Bayu dan meletakkan kepalanya di dada Bidang berotot tersebut.

Sisi wajahnya menempel pada kulit dada bayu yang hangat, Susan bisa merasakan debaran jantung anaknya. Perlahan-lahan seolah-olah tidak sengaja, tangannya mulai meluncur keatas perut anaknya.

Susan mengagumi otot-otot keras perut tersebut serta mengawasi gerak geliat perut tersebut yang kegelian akibat dari sentuhan tangannya. Ketika tangan Susan sampai di ikat pinggang Bayu, dia berhenti sejenak dan setelah ragu beberapa saat, dia mulai melepaskan kancing celana tersebut.

Bayu berbaring kaku, gairahnya melonjak menembus batas khayalinya, dia tidak bermimpi ibunya akan melepaskan celananya. “Mam….” bisiknya bergetar, menahan gairah dari dugaannya sendiri atas apa yang akan dilakukan ibunya.

“Shhhhh…!” Susan berdesis menyuruhnya diam, sambil melepas kaitan celana Bayu dan menarik risluitingnya ke bawah. Hanya sejenak dia ragu-ragu, sebelum akhirnya dia mengulurkan tangannya yang gemetar ke dalam celana dan meraih penis keras dan tegang.

“Aaaakkhhhhh…” Bayu mengerang ketika batang penisnya digenggam ibunya. Tangan Susan menarik batang keras dari celana sehingga keluar dan tersorot sinar matahari sore. “Ouh!” keluh Susan sambil menatap batang penis anaknya.

Kepala penis itu seperti bengkak dan dilubangnya tampak cairan birahi yang menetes keluar dari lubang kencingnya. Kulit batangnya terasa hangat, bahkan nyaris panas di tangannya. Susan merasa dunia seakan berputar di sekelilingnya saat dia mulai menggerakkan tangannya atas dan ke bawah di batang penis anaknya.

Bayu gemetaran badannya, saat dia merasa jari-jari tangan ibunya mencolek cairan birahinya yang menetes dari ujung batang penisnya, dan mengoles-oleskannya pada seluruh kepala batang penis tersebut, sehingga tampaklah sekarang batang penis itu mengkilap di bawah sinar matahari.

Susan menggerak-gerakkan jari-jarinya, mengelus dan memijat dengan lembut keatas dan ke bawah sepanjang batang penis Bayu, “aakkkhhhh…” erang Bayu kembali terdengar, lancapan tangan Susan pada batang penis tersebut, menimbulkan sebuah gelembung air birahi di ujung batang penis Bayu.

Susan mencelupkan jari telunjuknya kedalam gelembung cairan bening air birahi tersebut, dan perlahan-lahan dengan tangan gemetar dia membawa jari telunjuk itu ke bibirnya. Sekarang ada untaian panjang cairan birahi yang jelas terlihat menghubungkan bibir Susan dengan ujung batang penis anaknya.

Kepala Susan mulai menunduk perlahan. “Dia tidak akan mengulum… “pikir Bayu ketika melihat pergerakkan kepala ibunya. Susan tahu betapa salahnya ini, betapa gila dan tidak masuk diakal, tapi tapi dia tidak bisa berhenti.

Susan melumuri telapak tangannya dengan cairan birahi tersebut lebih banyak, dengan mengusap ujung kepala penis dengan telapak tangannya, kemudian digenggamkannya pada batang penis Bayu yang sangat tegang dan panas.

Dia menunduk semakin dalam melihat telapak tangannya yang menggenggam batang penis, seolah-olah tangan tersebut milik orang lain. “Itu tidak mungkin terjadi, pasti hanya impian” hatinya berkata pada dirinya sendiri. “Tidak mungkin aku memegang batang penis anakku dengan tanganku” kembali hatinya berdesah.

Tiba-tiba Bayu tersentak dan pinggulnya terangkat naik, “aaakkhhhh…” erangnya dengan keras. Susan terkejut ketika cairan sperma yang putih memancar dari ujung kepala penis Bayu, menembak dengan kuat pada pipi dan lehernya. Lalu memencar berceceran di pipinya dan meleleh turun ke lehernya.

Susan cepat sadar dari keterkejutannya, dan tangannya meremas-remas batang penis anaknya, dan memerah batang penis itu sehingga kembali memancarkan air mani yang kali ini jatuh di dada dan perut Bayu, tepat didepan mata Susan yang melotot memandangnya.

Cipratan air mani Bayu yang hanya setengah inchi dari mulutnya, menyebabkan dia bisa mencium aroma sperma tersebut. Bayangan khayali kalau sperma tersebut menembak kedalam rahimnya, membuat lonjakkan rangsangan pada diri Susan.

Tak tahan lagi Susan menghimpitkan kakinya satu sama lain, sedang sebelah tangannya yang bertumpu pada paha Bayu, meremas paha tersebut, bersamaan dengan itu kekejangan mulai terasa merambat disekujur tubuhnya, kekejangan yang nikmat, pinggulnya bergerak selaras dengan ejakulasi Bayu sebagai akibat orgasmenya sendiri yang menyusul datang.

Beberapa saat kemudian mereka terdiam, hanya suara burung-burung yang berkicau di hutan dan tarikan nafas yang sesak dari seorang ibu dan anaknya. Lalu Susan mengangkat kepalanya dan pandangannya jatuh kembali ke tanah, dadanya masih kembang kempis. Dia menutup matanya dan menarik napas panjang, “Jesus.., jika dia tidak segera memancarkan air maninya ketika kulancap, apa yang akan saya lakukan?” tanyanya pada diri sendiri.

“Mama pikir sudah saatnya kita kembali,” kata Susan sambil duduk. Bayu segera mengikuti sehingga bekas spermanya seperti tertelan otot perutnya, yang sedikit menggigil. Susan sendiri merasakan cairan sperma di wajahnya mulai mendingin dan menetes, dia bangkit berdiri.

“Mam, saya eh, eh, aku minta maaf,” kata Bayu, dia merasa seperti orang bodoh karena tidak dapat mengendalikan dirinya dan menyemprotkan air mani di wajahnya, serta membuat bekas noda disana, pipi ibunya tampak basah, oleh air maninya, yang perlahan mengalir dan menetes dilehernya

“Ini ambil bajumu” kata Susan, “hari mulai gelap” lanjutnya. Bayu yang mulai mengenakan kemejanya menjadi ragu-ragu ketika dilihatnya pipi dan leher ibunya masih berkilau oleh bekas air maninya. “Apakah mama mau menggunakan ini?” katanya sambil mengangsurkan kemejanya kepada Susan.

“Tidak, tidak apa-apa, dan tidak akan menggunakan kemeja kamu yang berlumuran tanah” kata Susan. Dia merasa cairan dileher, menetes ke bawah ke atas payudaranya. Meskipun aneh, tapi dia senang merasakan sensasi cairan mani di wajahnya. Karena itu dia tidak berniat menghapusnya, dulu Taufan sering menyemprotkan air mani ke wajahnya dan Susan akan membiarkannya di sana sampai kering.

Ketika mereka mulai berjalan di jalan setapak, tangan Bayu mengusap tangan Susan. Tanpa melihat ke bawah atau mengatakan sesuatu, Susan balas menggenggam tangan Bayu dan meremasnya. Bayu menghela napas lega, dia tahu ibunya ridak marah.

Mereka berjalan bergandengan tangan, kembali ke tempat mereka meninggalkan tikar mereka. Kemudian setelah mengambil tikar dan barang-barang, Mereka pulang ke rumah tanpa seorangpun yang berbicara. Baik ibu dan anak sama-sama asyik dengan sejuta fikiran dan angan di benaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s