Perahu (7)

Posted: October 11, 2011 in CerBung, Ibu
Ibu membawakan segelas kopi panas padaku dan dua buah pisang goreng dan meletakkannya dekatku. Ibu ikut membenahi jaring-jring, agar besok kami pakai lagi. Ibu duduk di dekatku.
“Awas ya… kalau kamu bercerita kepada siapa saja. Kubunuh kamu..” ancam ibu. Aku tersenyum.
“Bukannya menjawab, malah tersenyum,” kata ibu membentak dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.


“Ya… pasti aku tidak bercerita apa-apa,” kataku tenang. Ibu pun tersenyum. Ayo cepat dibenahi, biar kita cari kerang dan kepiting,” kata ibu.
“Aku buatkan teh manis dyulu dan botol. Cepat masukkan jaring ke dalam perahu,” kata ibuku. Aku mengikutinya. Jaring kusimpan ke dalam perahu dan memasukkan jala serta memasyukan alat-alat penangkap kepiting juga. Saat aku melepaskan perahu dari tambatannya di bawah kolong rumah kami dan meyorongnya ke aliran air yang agak dalam. Ibu berjalan sampai ke pantai. AKu tahu, dia akan menaiki perahu di sana, karena aliran sungai kecil, masih dangkal. Aku menjalankan perahu dengan menolak galah ke dasar lumpur. Bukan mengkayuhnya.

Begitu aku tiba di tepian laut, ibu tersenyum menyambutku. Ibu cepat naik ke perahu dan ikut mengkayuh. Orang-orang maklum. Mereka tahu, kalau kami butuh banyak uang untuk menyekolahkan adikku Suti dan mengobati ayahku. Kami harus bekerja keras. Orang-orang kapung pun kagum melihat kerja keras kami. Satu jam lebih kami mengkayuh dan sambil bercerita. Ibu banyak bertanya tentang Suti dan menasehatiku, agar jangan sampai hamil. Kami akan mendapat malu sekampung, katanya. Aku setuju. Tapi aku minta ibu harus rela juga, kalau sekali seminggu, aku membawa Suti ke pulau bakau untuk menangkap kepiting. Alasanku menangkap kepiting, tapi ibu sudh mengerti maksudku, agar Suti juga mendapat giliran. Ibu diam tan membantah.

Sampai di tempat kami menjatuhkan sepuluh buah alat penangkap kepiting ke laut dengan umpan usus ayam, entah darimana ibu mendapatkannya. Aku memasang juga sepuluh buah pancing dengan umpannya dan menancapkannya ke beberapa tempat, untuk memancing ikan sembilang. Kini iabu yang turuna ke lumpur untuk meraba lumpur mendapatkan kerang. Orang-orang berseliweran. Melihat kami sudah berada di tempat memasang jerat kepiting dan mengembangkan jaring, perahu-perahu itu pun berlalu. Sesekali terdengar teriakan. Udah dapat banyak belum….? Aku menjawabnya dengan sambil lalu:” baru turun paaaakkk.” Mereka pun berlalu, bahkan banyak yang pulang, karean kosong tak dapat apa-apa. Ibu mengantarkan beberapa keranjang kecil kerang ke atas perahu. Di akar bakau, ibu mengelus kontolku. Tangannya dia masukkan dari atas karet celanaku.
“Bu, hati-hati, nanti aku jatuh, ” kataku. Ibu tersenyum. Kontolku cepat mengeras. Ibu menurunkan celanaku sampai ke mata kaki. Aku berpegangan ke pohon bakau dan menungghingkan dirinya.
“Ayo cepat… ibu sudah tak tahan. Cepat!” katanya. Aku menyodokkan kontolku perlahan ke lubang memeknya.
“Ayo.. yang dalam… dalam lagi,” katanya. Aku memeluk tubuh ibu dan mengocok kontolku dalam memeknya. Tiba-tia tersengar suara desir air. Pasti perahu yang datang. Aku mencabut kontolku dengan cepat. Menaikkan celanaku dan ibuku juga menaikan celananya dengan cepat. Dia melangkah ke atas perahu dan mengambil sebotol teh manis dan membawanya ke akar-akar pohon bakau. Saat teh tertuang ke dalam gelas, perahu kecil itu lintas. Sebuah perahu kecil.
“Suti….” panggil ibu. Ternyata yang datang ke tempat kami adalah Suti menaiki perahu tetangga tanpa cadik. Suti tersenyum dan menepi. Dia naik ke akar bakau dan membawa beberapa potong goreng sukun. Kami memakannya dengan riang. Ibu menatapku dengan tajam. Dia tandatanya, kenapa Suti harusmenyusul. Apakah Suti sudah curiga?

Setelah meneguk beberapa teguk teh manis, ibu kembali meraba lumpur berpura-pura mencari kerang dan meninggalkan, kami. Aku menyibukkan diri mendekati bebetrapa pancing yang kupasang. Ada dua pacing yang bergoyang-goyang. Aku menariknya dengan cepat. Ya… dua ekor ikan sembilang trangkat dan kulepas dari pancing serta memasukkannya ke dala perahu.
“Kapan kita berdua ke tempat ini?” tanya Suti.
“Kitabuat jadwal setiap minggu pagi dan mingu sore. Saat kamu tidak sekolah dan latiha pramuka,” kataku.
“Benar ya, Mas…” pintaSuti setengah berbisik.
“Benar..” aku janji, kataku.
“Kalau begitu Suti pulang ya…” Suti pun pulang meninggalkan tempat itu. Saat itu ibu datang setelah mencuci tubuhnya yang berlumpur dengan air laut yang bening. Dia mendatangiku ke akar bakau.
“Suti bilang apa?”
“Dia minta jatah. Kapan aku bersamanya?” kataku berterus terang. Aku menceritakan pada ibui, setiap minggu pagi dan minggu sore atau kalau SUti tidak latihan pramuka dan kalau ibu berhalangan.
“Kamu tidak bercerita apa-apa tentang kita kan?” tanya ibu. Menurutku inilah kesempatanku.
“Tidak bu. Tapi nampaknya Suti curiga. Untuk itu, dia harus dapat kesempatan. Kalau tidak dia akan membuntuti kita terus,” kataku berpura-pura. Ibu menjawabku dengan memberiku ciuman di pipiku.
“Kamu anak pintar tole…” kata ibu dan meremas kontolku lagi. Suara-suara burung bercicit-cicit di atas dahan-dahan bakau dan sesekali mereka berkejaran. Ibu melepaskan celananya dan kini dari pusat sampai ke bawah, telah telanjang. Tubuhnya masih padat dan bulukemaluannya sangat tipis membuat belahan memeknya jelas terlihat. Aku bersandar ke pohon bakau. Ibu langsung menaiki tubuhku. Aku berada di antara kedua kakinya. Ibu memasukka kontolku ke lubang memeknya sampai masuk semuanya. Aku memeluknya dan menaikkan baju kaosnya, sampai kedua teteknya tergantung. Mulutku menghisap-hisapnya. Ibu terus memutar-mutar tubuhnya, hingga terasa kontolku menyentuh-nyentuh lubang terdalam dari memeknya. Dan ibu histeris dengan lenguhannya yang kuat dan memelukku kuat sekali.
“Ibu sudah sampai,” kataku. Ibu diam saja dan terus memelukku. Kni giliranku menghenjut-henjutnya dari bawah. Sampai aku melepaskan spermaku. Kami berpelukan dan melepaskan nikmat kami. Akhirnya, kontolku lepas dari lubang memek ibu. Ibu tersenyum. Dia menaikkan celananya dan aku juga. Kami megangkati jerat-jerat kepiting. Ada beberapa yang dapat dan ada yang masih korong. Kami menjatuhkannya kembali. Jaring yang kutebar perlaha kutarik dan ada beberapa ekor ikan kecil yang dapat. Cukup utuk lauk makan kami malam ini dan untuk bekal besok subuh.

“Bagaiamana? Apa kamu dapat menikmatinya?” kata ibu. Aku diam saja.
“Ya.. pasti Suti lebih nimmat, kan?” katany aketus dan cemburu. Aku diam juga.
“Kalau kamu merasa sudah longgar, ibu akan berikan yang lebih sempit dan lebih enak,” kata ibu.
“Bagaimana bisa sempit?” kataku.
“Apa kamu mau?” tanya ibu. Aku mengangguk. Ibu dengancepat menurunkan celanaku dan memasukkan kontolku ke mulutnya. Kontolku dijilatinya. Wah.. aku belum pernah merasakan nikmatnya dikulum seperti itu. Setelah kontolku keras, ibu melepas celananya dan dia menunggingkan tubuhnya dan berpegangan ke pohonbakau.
“Ayo masukkan itu mu ke lubang belakang ibu,” katanya. Aku seperti tak yakin.
“Ayo cepat. Nanti orang datang,” katanya. Aku menusukkan kontolku ke mulut lubang belakangnya. Kutusuk lubang belakang itu dengan kuat. Kepala kontolku sudah menembusnya.
“Perlahan saja. Berhenti sebentar,” kata ibu. Lalu aku menusuknya kembali. Setelah setengah kontolu masuk ke lubang belakangnya, aku merasa kontolku dipijat-pijat. Aku mearasa nikmat.
“Ayo ditusuk terus,” kata ibu. Aku menusuknya.dan mencabutnya. Bagaikan aku menusk dan mencabut di lubang memeknya.
“Kalau mau keluar, keluarkan di lubang memek ib,” pinta ibu. Aku memeluknya dari belakang sembari terus mencucuk cabut kontolku di lubang yang nikmat itu. Sebelah tangan Ibu meraba-raba memeknya.
“Bu.. aku mau keluar…”
“Cepat cabut dan masukkan ke lubang memek ibu,” katanya. Aku mencabutnya dan dengan cepat aku mencucuknya ke lubang memeknya. Aku memeluknya dan melepaskan spermaku di dalam lubang memeknya. Ibu pun kembali histeris dengan nimmatnya.
“Bagaimana… enak kan?” tanya ibu. Au tersenyum.
Kami menarik semua jerat peiting. ada yang kena ada yang kosong. Kami harus pulang, sebelum matahari terbenam. Ibu naik ke perahu dan kami sama menaikkan layar, karena angin masih dari laut ke darat. Kami berlayar dengan perasaan kami masing-masing.

“Kapan-kapan, aku boleh melihatmu bersama Suti?” tanya ibuku.
“Bagaimana caranya, Bu?”
“Kita bertiga ke bakau ini dan aku berpura-pura mencari kerang di seberang sembari meilhat orang. Kalau aku bernyanyi-nyanyi, itu pertanda ada orang. Kalau tidak kamu boleh teruskan dan ibu akan mengintip,” kata ibu. Gila pikirku. Aku diam memikirkannya.
“Tapi kalau Suti mengintip kita, boleh enggak?” tanyaku.
“Suti tak boleh tau. Bisa bahaya,” kata ibu. Aku berpikir. Ya… Suti tak boleh tau.
“Bagaimana?” tanya ibu mendesak. Sebuah desakan yang susah kujawab. Diam-diam, aku mencintai Suti adikku sendiri. Aku menyayanginya. Akhirnya aku pu setuju, kalau ibu boleh melihat aku denganSuti, supaya satu saat nanti ibu muak dan dia tak mau lagi bversetubuh denganku. AKu setuju. Ibu pun tersenyum. Kami sampai di rumah dan membawa hasil kami untuk dimasak untuk makan malam. Suti ikut membantu membersihkan ikan sembilang dan kepiting disimpan untuk besok pagi di jual. Cukup untuk membeli dua kilo beras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s