Perahu (9)

Posted: October 11, 2011 in CerBung, Ibu
Mas kenapa tidak menyayangiku lagi, tanya Suti sepulang sekolah. Aku gagap menjawabnya. Aku jugamerasa, kalau Suti seperti tertinggal. AKu mengetahuinya, kalau Suti suka sendiri dan menyendiri.
“Mas, apa mas tidak sayang sama Suti lagi, ya?” tanyanya dengan rengekan.
“Siapa bilang Mas tidak sayang. Mas, harus kerja keras mendapatkan uang, utnuk sekolahmu, agar kamu
terus sekolah tinggi. Mas rela kerja keras untuk itu. Apa namanya itu bukan sayang?” tanyaku pula. SUti mengengguk.
“Tapi Mas sudah tidak pernah mengajakku lagi ke laut mencari ikan. Ibu saja yang mas bawa,” katanya mereajuk.
“Itu juga karena ibu sayang kamu. Dia tidak mau sekolahmu terganggu,” kataku.
“Tapi mas dan ibu tidak gituan, kan?” tanya Suti menyelidik.
“Apa kamu sudah gila SUti. Dengan ibu sendiri,” kataku pula setengah membentak. Suti diam dan menyadari kesalahannya. Suti lalu memelukku dan menyandarkan kepalanya dibahuku dengan manja. AKu memeluknya dan SUti mendongakkan kepalanya, lalu aku menciumi bibirnya dan kami berciuman mesra. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ibu memasuki rumah. Kami cepat-cepat berpisah. Suti turun dari pintu belakang dan aku duduk di lantai. Ibu tersenyum.
“Kedatanganku menggangu ya?” sindir ibu. Aku diam.
“Tapi ibu juga harus memberikan kesempatan kepada Suti. SUti juga butuh…” kataku. Ibu tersenyum.
“Ya.. sudah, bawa dia melaut. Hati-hati jangan sampai ketahuan orang,” kata ibu. Aku langsung turun ke bawah menemui Suti dan mengajaknya melaut, karean Sabtu sore itu, Suti tidak ke sekolah latihan Pramuka dan tidak ikut les. Suti senang sekali kuajak ke laut. Kami membawa peralatan penjerat kepiting.

Kami sama-sama mendayung perahu ke tengah laut menuju pulau kecil. Kami sama-sama berkeringat. Saat kami di tengah laut, kami berpapasan dengan nelayan lainnya.
“Sudah gelap, bakal turun hujan deras…” seorang nelayan berteriak.
“Ya.. Pak. Kami hanya memasang jerat kepiting dan akan langsung pulang. Besok pagi akan kami angkat,” jawabku dengan suara keras.

Begitu selesai memasang jerat kepiting, huja turun dengan deras disertai oleh petir. Kami cepat-cepat ke pulau kecil dan menambatkan perahu, lalu kami berlari ke dalam gubuk yang ada di pulau kecil itu. Sebuah gubuk kecil beratap rumbia dan berdindingkan anyaman daun kelapa. Kami duduk di bangku-bangku kecil yang ada di sana. Tiba-tiba petir menyabung lagi dan kilatnya menyambar-nyambar.
“Mas…aku takut,” kata Suti. Dia naik kepangkuanku dan memelukku. Aku juga memeluknya. Lama kami saling berpelukan.
“Mas… aku mau,” kata Suti berbisik.
“Kita tidak bawa kondom. Nanti kamu hamil dik. Jangan ya,” kataku.
“Jadi bagaimana dong Mas?”
“Biar Mas jilati saja ya…” bisikku. Suti diam saja. Kuangkat baju kaosnya dan kulepaskan tali bra-nya. Aku mengisap-isap perlahan teteknya. Kujilati lehernya dan kuelus-elus pantatnya dalam pangkuanku.
“Mas… aku mau. Aku mau mas…” rengeknya.
“Nanti amu hamil dik. Jangan ya,” kataku.
“Tidak mas… dua hari lagi aku akan haid. Pingangku sudah mulai sakit,” katanya. Oh… aku tidak menyadari, kalau adikku sudah pintar menandai haidnya.

Kuturunkan dia dari pangkuanku, Kulepas celananya. Hujan masih terus turun dengan derasnya. Aku juga melepaskan celanaku. Kami berdua setengah telanjang. Kuminta Suti kembali naik ke pangkuanku. Dia sudah tau tugasnya. Suti naik kepangkuanku. Perlahan dia tangkap kontolku dan memasukkannya ke memeknya. Suti menekan tubuhnya, agar kontolku tertelan oleh memeknya.
“Oh…Kandas, mas,” katanya.
“Ya.”

Kami berpelukan dan bibir kami terus menempel. Lidah kami tak hentinya berkaitan dan kami saling memeluk dan saling mengelus-elus tubuh kami berlawanan dengan sapuan-sapuan mesra.
“Mas… benar tidak melakukan ini sama ibu, kan?” tanya SUti masih mengandung curiga.
“Kamu jangan mengada-ada,” kataku.
“Kabarnya ibu hamil mas,” kata Suti.
“Ya.. kenapa kalau hamil. Kamu kan juga dengar, kalau malam itu mereka begituan juga,” kataku.

Suti Diam. Dia terus memelukku dan perlahan-lahan mengoyangkan tubuhnya. Dia memutar-mutar pinggangnya dan aku terus mengisapi teteknya yang mungil denganpentil yang kecil.
“Andaikan kita tidak bersaudara ya Mas,” kata Suti.
“Kenapa?”
“Kalau kita tidak bersaudara, kita akan pacaran. Kalau SUti tamat sekolah,. kita menikah<‘ katanya.
“Hus… jangan pikirkan itu. Nanti kamu harus menikah dengan laki-laki lain,” kataku.
“Nanti kalau Suti sudah menikah dengan lak0-laki lain, kita tidak bisa seperti ini lagi,” katanya.
“Siapa bilang. Bisa dong. Kita akan buat pertemuan rahasia,” kataku meyakinkan dan Suti tersenyum sembari terus mengoyang-goyang pinggangnya.

Suti pun memeluk erat tubuh ku. Nafasnya sudah terenagh-engah. Oh…. Suti meleguh seperti lembu.
“Aku sudah sampai mas,” katanya. Aku tetap memel;uknya dan membiarkan dia berada di pangkuanku. Aku tahu, SUti sudah lemas. Kubiarkan dia diam di atas pangkuanku. Aku tetap memeluknya dan membelainya. Kontolku masih tetap tegang dan keras dalam memeknya.
“Mas… sayanag Suti, kan?” bisiknya.
“Ya.. aku tetap menyayangimu,” kataku merayunya.
“Mas jangan pernah lakukan ini pada ibu ya?” ulangnya lagi.
“Kamu jangan mengada-ada dik. Jangan mengada ada,” kataku.
“Benar ya Mas…”
“Benar. Dia ibu kita,” kataku mengandung penyesalan. Suti mencium leherku dan mendengus di sana. Terasa nafasnya hangat di leherku. Gairahku muncul. Aku memelukkan kedua tangankua ke pantatnya dan menarik maju-mundur, agar kontolku keluar masuk di memeknya.
“Terus mas… enak….” katanya. Aku meneruskannya. Suti memelukkan kedua tangannyake tengkukku dan mulai menempelkan bibirnya dan lidah kami kembali bertautan.
“Ayo mas… ayo mas. ayoooo…” katanya. Kulihat nafsunya demikian menggebu-gebu. Aku terus menggoyangnya dan terus mencucupi bibirnya dan suara hujan semakin lama semkin menderas saja. Sesekali suara petir menggema dengan didahului oleh kliat dengan lidahnya yang menyambar-nyambar. Pada suara petir yang ketiga, aku memeluknya dengan kuat dan Suti juga memelukku dengan kuat. Saat itu, aku melepaskan speermaku beberapakali ke dalam memeknya.
“Maaaasssss….ohhhh….”
Aku terus e\memeluknya dengan kuat dan membelai-belai kepalanya.
“Enggak pakai kondom lebih enak lo Mas,” katanya.
“Kenapa?”
“Entah. Rasa lendirnya lebih nikmat. Kalau gak pakai kondom, lendirnya gak terasa,” kata Suti tersenyum.
“Ya… kita haruspakai kondom, kecuali kalau kau dua hari lagi mau haid,” kataku.

Kontolku mengecil dan lepas dengan sendirinya dari memek Suti. Kuturunkan tubuh Suti, seiring dengan hujan mulai mereda. Malam sudah tiba dan langit makin hitam. Angin mulai rada juga.
“Kita pualng Mas. Aku takut,” kata Suti.
“Ya. Kita pulang”
Kami memakai pakaian kami dan mendekati perahu lalu naik ke atasnya. Aku melepaskan ikatan tali perahu dan kami mengkayuh ke darat. Di darat, kami sudahmelihat kerlipan lampu=lampu dari desa kami. Kami memacu dayungan kami. Jangan sampai hujan datang semakin deras lagi dan angin menderu-deru. Di bawah siraman hujan rintik kami mendayung dan mendayung perahu kami tanpa kenal lelah.

“Mas… aku masih mau,” kata Suti.
“Besok lagi. HUjan nanti deras dan angin nanti kencang, Kita harus segera tiba di rumah dan ganti baju, biar besok amu tidak sakit,” bujukku. Suti tersenyum dengan semangat dia mendayung perahu dengankuat dan perahu kami melaju dengan kencang.

Setiba di rumah, kami langsung mengganti pakaian kami dengan yang kering dan kami menyantap makanan yang sudah tersedia. Aku memberikan sebuah tablet obat flu, agar Sutio tidak sakit dan aku jugam enelan sebutir obat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s