Di sebuah Pulau (1)

Posted: October 12, 2011 in CerBung, Ibu

Layar terhenbus oleh angin. Ada 14 orang yang menumpang perahu itu untuk bisa sampai ke sebuah pulau lainnya, untuk menghadiri sebuah perhelatan. Penduduk kampung pulau itu pun dengan senang hati untuk berangkat. Pulau yang dihuni oleh tidak lebih dari 16 Kepala Keluarga (KK) itu biasa saling menghadiri perhelatan jika diundang oleh tetangga di pulau kecil lainnya. Gugusan pulau-pulau kecil amat banyak di perairan itu. Lautan Hinda yang demikian ganasnya, mereka bisa atasi dengan baik.

Burhan memegang kemudi dan sesekali tangan kirnya menarik tali yang digunakan untuk mengendalikan layar. Parhu itu pun terangguk-angguk di terpa ombak-ombak kecil. Tapi tiba-tiba saja awan gelap dan angin demikian kencangnya. Semua diminta untuk mawas diri, karena mereka sudah berada di tengah laut. Biasanya mereka berlayar selama 7-8 jam menuju pulau tetangga yang mengundang mereka.

Burhan yang berusia 24 tahun dan sudah punya isteri dan dua orang anak dan tinggal di pulau karena isterinya sedang hamil tua, sudah ragu akan keadaan angin. Cepat dia melepaskan tali dan minta kepada penumpang lainnya yang juga nelayan, untuk menurunkan layar. Angin tak dapat dikendalikan, selain kencang dan deras, dia juga berputar-putar.

Baru saja dia berteriak agar layar diturunkan, baru layar dilepas tali pengikatnya, tiba-tiba angin kencang dan berputar-putar menerpa layar mereka, membuat perahu terangkat dari atas air laut setingi lebih 2 meter. Kemudian perahu terhempas ke laut dalam keadaan terbaik. Burhan yang sudah sangat wanti-wanti duduk di buritan bersama Emaknya. Dia sudah memegang Bambu ukuran besar, bila terjadi apa-apa. Ujung bambu dia ikat, kemudian ujung tali lainnya dia ikatkan ke pergelangan kakinya. Persis seperti orang bermain selancar. Begitu perahu terangkat kemudian terbaik dan terhempas, dengan cepat di tarik genggam tangan emaknya dengan kuat dan dia peluk. Hampir semua penumpang perhunya itu berteriak histeris.

Burhan menyuruh emaknya memeluk batang bambu itu kuat-kuat, lalu Burhan mendorong tubuh emaknya. Burhan dan emaknya yang pandai berenang, dengan kedua kakinya mereka mengikuti arus. Terserah arus mau membawa mereka kemana. Semua penumpang perahu berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Perahu sudah berkeping-keping, karena perahu itu juga sudah tua. Lewat mahgrib, Burhan dan Emaknya, terdampar di pandai sebuah pulau kecil. Di sana ada sebuah gubuk kecil, sepertinya sudah lama tak dipakai lagi. Dengan tersengat, sengal Burhan memeluk emaknya yang tinggal memakai celana dalam saja, karena kain sarungnya entah sudah dimana. Mereka memasuki gubuk, walah atasnya disana-sini sudah banhyak yang bocor, namun lebih baik, karena sebentar lagi hujan deras akan turun. Dengan beberapa buah tempurung yang dibersihkan seadanya, Burhan menampung air hujan untuk mereka minum.

TAARRRR…. Halilintar membehana menakutkan. Emak Burhan (Maimunah -46 tahun) terkejut dan menghambur ke pangkuan Burhan anak laki-lakinya. TIba-tiba duania menjadi gelap. Tak ada penerangan apapun di pulau itu. Hanya ada suara desau angin dan debur ombak, lalu…. sepi.
“Emak takut… Hanya kita berdua di sini…?” kata Emaknya.
“Jangan takut Mak. Burhan ada di samping Emak…”
“Emak tau. Pakaian Emak basah sangat. Angin Kencang, dingin sekali..”
“Burhan akan peluk Emak, supaya tidak dingin,” kata Burhan membawa Emaknya ke sebuah sudut, agar sedikit terhindar dari hembusan angin kencang.

Burhan membuika celananya dan menggantungkannya di sebuah sudut gubuk yang terlindung agar besok sudah agak kering, bisa dipakai. Kalau memakai pakaian yang basah, lebih dingin lagi. Setelah yakin dia telanjang di tengah gelap gulita itu, dia minta agar Emaknya memeras bajunya, agar cepar kering dan tidak masuk angin. Dalam pikiran Emaknya juga sama dan membuka bajunya lalu memerasnya. Terdengar suara air jatuh saat dia memeras bajunya di tengah gelap gulita itu. Tida ada yangbisa kelihatan. Jari tangan dihadapkan di depan mata saja tidak kelihatan. Begitu cepat cahaya menghilang dan mereka sudah tidak memikirkan lagi teman-teman mereka satu perahu. Besok mereka akan bertemu.

“Kamu dimana?” suara Emak bergetar kedinginan.
“Ya, aku akan mendekat. Aku akan mendatangi suara Emak,” kata Burhan mendekati dan berupaya meraba-raba dengan tangannya ke arah suara. Hep… kedua tangan mereka bertemu dan daya ingat Burhan sangat kuat. Berarti Emaknya tidak jauh dari sebuah sudut yang aman dari terpaan angin kuat dan kebocoran atap gubuk. Cepat dipeluknya tubuh ibunya yang diayakini, ibunya pasti sedang ketakutan.

Saat berpelukan itu, dengancepat Burhan dan Emaknya merasakan persentuhan kulit-kulit tubuh mereka seperti ada arus kehangatan. Burhan mengira, Emaknya hanya memeras bajunya saja kemudian memai\kainya kembali, ternmyata ibunya bertelanjang di kegelapan itu. Dalam, pikiran ibunya, biatlah dia bertelanjang saja daripada menahankan dingin dengan pakaian basah di tubuh, toh tak seorang yang bisa melihat tuibuhnya bertelanjang. Dalam pikiran Emak Burhan, Buran yang masih muda, masih tahan melawan dingin dan hanya sebentar meremas pakaiannya lalu memakainya. Dua pikiran yang sama dengan keyakinan, mereka tidak akan berpelukan dalam keadan bugil

Burhan langsung seperti tersengat listrik dan sukujur tubuhnya menjadi hangat tiba-tiba. Emaknya juga demikian. Tak menyangka gesekan antara kulit itu mampu menghangatkan tubuhnya dan membuat darahnya mendesir-desir dengan anak laki-lakinya itu, Saat dia mau melepaskan diri dari pelkukan anaknya itu, Burhan ternyata tidak melepasnya, bahkan semakin memperkuat pelukannya. Tetek Emaknya yang menempel di dadanya, membuat tangannya refleks sebelah memegang pantat Emaknya dan ternyata juga sudah melepaskan celana dalamnya. Burhan baru sadar, kalau bulu kedua kemalauan itu sudah saling menempel. Demikian juga dengan emak Burhan. Dia merasakan ada benda yang menempel di selangkah pahanya dan dia tahu itu benda apa. Ingin dia melepaskan pelukannya, tapi pelukan anaknya demikian erat.

Burhan memangku Emaknya. Burhan meminta Emaknya merangkul tengkuknya, kemudian Burhan membawa Emaknya itu ke sebuah amben tiga batang bambu tua. Burhan duduk di amben itu.
“Peluk Burhan, Mak. Rapatkan tubuh Emak, biar kita hangat,” bisik Burhan kepada Emaknya.
“Tapi ini pantang, Nak?”
“Kita akan mati kedinginan, bila kita tidak saling menghangatkan. Lupakan pantang sejenak, Mak…” Mereka pun berpelukan. Burhan menempatkan kedua telapak kaki Emaknya di lantai Bambu, agar tak dingin di pasir, lantai gubuk itu.
Burhan pun memeluk Emaknya dengan kuat dan berharap agar hari cepat terang dan mereka bisa mencari apa saja untuak merekamakan dan untuk mereka pakai untuk pulang ke pulau mereka.

BERSAMBUNG….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s