Di sebuah Pulau (2)

Posted: October 12, 2011 in CerBung, Ibu
Halilintar sepertinya sudah letih terus menerus memuntahkan suaranya yang memekakkan telinga itu. Hujan juga rasanya sudah tiodak sederas lagi, dan angin pun pun sepertuinya sudah lelah terus berhembus. Tubuh ibu dan anak itu semakin hangat, bukan karena angin berhenti betrdesau saja atau hujan semakin menipis turunnya. Keduanya tidak sadatr, kalau mereka sedang dialiri darah cepat yang mereka tidak sadari. Pekukan dan gesekan kulit mereka membuat mereka secara diam-diam dan malu, menjadi bernafsu. Nafsu itulah yang membuat mereka menjadi hangat dan rasa dingin semakin menjauh.
Secara perlahan-lahan Burhan merasakan Emaknya, menggeser-geser tubuhnya. Himpitan memek emaknya terasa sekali di pangkal pahanya. Terasa hanghat dan basah. Burhan juga merasakan pentil tetek ibunya semakin keras menusuk bagian dadanya. Burhan sendiri juga merasakan nafsunya demikiann keras. Tapi bagaimana caranya, agar ibunya tidak mengetahuinya, sementara ibunya butuh kehangatan.

Maimunah (Emak Burhan) merasakan kemaluan anaknya terasa mendenyut-denyut di bibir Memeknya. Dia berusaha untuk tetap tenanag, agar apa yang dirasakannya tidak diketahui oleh Burhan, karena selain dia malu, dia juga tak ingin Burhan menjadi malu. Maimunah merasakan degup jantung Burhan demikian keras. Itu terasa ke degup jantungnya sendiri. Saat kepalanya disandarkan di tengkuk Burhan, dia merasakan dengus nafas Burhan seperti sudah tidak teratur. Dia mengetahui sekali bagaimana laki-laki kalau sudah bernafsu. Tubunya kini masih dalam dekapan kuat kedua tangan Burhan.

Kedua ibu dan anak itu, memiliki pikiran masing-masing, untuk saling menjaga, agar tidak ada yanhg merasa malu. Anak meyakinkan dirinya bagaimana caranya agar emaknya tidak merasa malu dan sebaliknya juga demikian. Tapi Burhan yang masih berusia 24 tahun dan masih menginginkan nafsunya tersalurkan, terlebih dalam keadaan demikian, dlam beberapa detik kehiloangan akal sehatnya.

Dengan kuat tangan kirinya yang memeluk tubuh ibunya mulai dari pinggang ke atas, mampu mengangkat tubuh ibunya. Ibu sendiri yang diangkat tubuhnya tidk mengetahui apa keinginan anaknya dan mengikuti angkatan tangan anaknya. Dia tekan kakinya ke lantai bambu agar tubuhnya terangkat. Saat tubuhnya terangkat sedikit ke atas, Sebelah kanan tangan Burhan memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke memek emaknya. Memek yang sudah basah kuyup dengan lendir nafsu itu, saat Burhan mendudukkan emaknya kembali ke atas pangkuannya,: Cluuup… Kemaluan Burhan yang tegang, begitu cepat tertelan ke dalam memek emaknya,
Saat kemalouan Burhan sudah berada sepenuhnya dalam memeknya, Maimunah tersadar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Burhan.

“Burhan… Kita sudah tidak benar…” katanya berusaha meronta.
“Emak. Semua sudah terlanjur. Biarlah. Tak ada yang tak benar. Kita sedang dalam hal yang benar,” katanya dan terus memeluk emaknya. Emaknya tak bisa berbuat apa-apa. Burhan mencdium leher emaknya dan mengelus-elus punggung Emaknya.

Lama kelamaan, Maimunah pun tersirap juga. Dia mengalah toh semuanya sudah terlanjur. Kemaluan anaknya sudah di dalam. Sebentar atau lama, kemaluan anaknya sudah dalam lubang memeknya. Dia hanya diam dan menyandarkan wajahnya ke leher Burhan. Burhan hanya mengelus-elus tubuh emaknya. Kulit keduanya demikian lengket, seperti lepat dan daun. Mereka diam dn perlahan-lahan Maimunah terpancing juga dan dia secara perlahan, ikut pula megelus tubuh Burhan. Burhan terkejut, karena emaknya sudah mulai mengelus tubuhnya.. Perlahan Burhan mulai berusaha menusuk tarik kontolnya di memek emaknya. Di tekannya pantat emeknya dengan tenagnnya, kemudian di lepaskannya, kemudian ditekannya kembali. sampai akhirnya, pantat emaknya berjalan maju-mundur sendiri tanpa ditolak-tolak lagi.

Maimunah entah sadar atau tidak, dia memaju mundurkan pantatnya, sampai pula pada saat yang tak terduka, Maimunah jusyru mempercepat maju-mundur pantatnya,. hinga kontol anaknya bisa keluatr mauk dalam memeknya yang basah. Maimunah mdnesahdesah dan Burhan juga demikian. Mereka tak berhenti dan sama-sama mereka memberi respons dengan cepat dan semakin cepat, dengan desahan nafas yang memburu.

Burhan memeluk ibunya dengan kuat, dan pelukan Burhan pun dibalas pula denga pelukan yuang kuat pula. Sma-sama mereka tiba di puncah nikmat yang terlukisakan dengan kata-kata. Keduanya hening dan nafas mereka yang memburuh, masing-masing mereka menetralkannya.

“KIta usdah salah,” kata Maimuna.
“Tidak ada yang salah,” kata Burhan.
“Cukup hanya ini, tak boleh lagi,
kata Maimunah yang masih berada dalam pelukan Burhan.
“Jika ada kesempatan, kita harus melakukannya lagi. KIta boleh cari pulau mana yang kita suka dengan lasan mencari ikan atau apa saja,” tegas Burhan.
“Tidak boloeh. Aku ENakmu,”
“Tidak. Sekarang isteriku yang sangat rahasia. Jika bukan isteriku, mana mungkin kita sama-sama menikmatinya?”

Maimunah diam. Apa yang dikatakan Burhan benar. Baru saja dia menikmati betapa indahnya bersetubuh dengan anaknya sendirei yang sudah lama tak dia rasakan, sejak suaminya jatuh dari pohon kelapa.
Berdua mereka mencuci tubuh mereka ke air laut. Kembali mereka ke gubuk dituntun oleh sinar rembulan yang malu-malu di balik awan. Berdua merek akembali ke gubuk dan duduk di tempat yag sama. Burhan kembali memeangku emaknya dengan kasih sayang dan kali ini, Burhan sudah berani menciumi bibir emaknya dan mempermainkan lidahnya di mulut emaknya itu. Dan…..

BERSAMBUNG…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s