Di sebuah Pulau (3)

Posted: October 12, 2011 in CerBung, Ibu
“Lalu kita ini bagaimabna? Apakah ada yang tahu, kalau kita selamat di Pulau ini? Bagaimana pula nasib teman-teman kita yang lain?” tanya Maimunah sedih mengenang teman-teman mereka yang belum diketahuinasibnya. Maimunah dan Burhan berusaha mengelilingi pulau yang hanya seluas tak lebih dari 20 hektar itu. Seharian mereka berupaya mencari teman-teman mereka sembari menunggu ada orang yang b isa

melihat mereka untuk mendapatkan pertolongan. Nyatanya nihil.

Untung di pondok yang usang itu, ada sekotak korek api yang masih kering. Ada pula minyak lampu sedikit dengan sumbu lampu teplok yang tersisa. Yang lebih membuat mereka senang, mereka menemukan sebuah parang, walau sudah berkarat, tapi m asih bisa dipakai. Burhan berupaya menajamkan parang itu dan memanjat kelapa untuak mereka makan. Emaknya sudah memakai celana dalam dan baju Jacket Burhan dililitkan di pinggangnya, namun Burhan masih tetap memandang Emaknya itu dengan nafsu. Burhan juga berupaya mengorek-ngorek lumpur saat pasang surut, untuk mendapatkan beberapa puluh kerang.

Burhan mencari dedaunan kelapa untuk disisipi di atas gubuk, serta memperbaiki bale-bale pada gubuk. Dibnding gubuk pun diselipi daun kelapa yang merek ambil di tanah. Kerang itu mereka cucuki pakai lidi, kemudian ditumpuk di daun kelapa kering dan dibakar. Wah rasanya enak sekali, terutama dalam keadaan lapar. Seharian mereka membenahi gubuk, mencari makanan dan untuk di sebuah perbukitan ada mengalir air, walau debitnya sangat kecil bisa ditampung pada baskom usang untuk minum dan mereka memasaknya di tungku dengan pelepah kelapa jadi kayu apinya.

Hari semakin gelap saja, sebentar lagi akan gulita dan pekat serta hitam. Ikan-ikan kecil yang di tanggok pakai kaos singlet di tepian, mereka makan dengan lahapntya. Biji buah Ketapang juga mereka makan dengan lahap. Sore berganti senja dan senja bergerak kebarat menuju malam. Nun di ufuk timur sana, ada warna jingga, secara perlahan hilang di balik laut luas dan lepas.
“Kita bakal bermalam lagi di sini,” kata Maimunah seperti mengeluh.
“Ya… kita akan tidur bersama sekarang, karena aku sudah buat bale-bale untuk kita berdua,” kata Burhan.
“Tapi…”
“Jangan pikirkan yang lain. Kita saling membutuhkannya sekarang,” jawab Burhan singkat. Maimunah mengerti maksud perkataan Burhan. Dari kejauhan ada kelihatan lampu kelap-keliop. Ada harapan bagi mereka, Namun lama kelamaan lampu kelap kelip dari perahu itu , hilang pula. Mereka yakin sekali, perahu itu pasti sedang mencari mereka. Mereka pun pasrah setelah tak seberkas cahaya dari matahari pun yang kelihatan. Hari berganti dengan tiba-tiba dan langsung gelap. Itulah laut.

Burhan menuntun emaknya ke gubuk dan meraka tiduran di bale-bale, dengan parang tetap siap sedia tak jauh dari kepala Burhan. Karena dingin, Maimunah memakai jacket Burhan dan di bagian bawah dia hanya memakai celana dalam saja. Dindin yang dikelilingi oleh daun kelapa yang kering, juga dijadikan pengganjal agar tempat tidur mereka terasa empuk dan hangat. Tubuh mereka juga dikelilingi oleh daun kelapa yang kering.
“Mak aku selalu curi-curi dengar. Kalau Bapak tak bisa lagi melayani Emak,” bisik Burhan.
“Kenapa kamu suka mencuri dengar. Tidak baik,” sela Maimunah
“Mulanya iseng saja. Kelamaan aku menginginkannya walau aku sudah punya isteri.”
“Sebenarnya ini tak bisa kita lakukan.”
“Ya. Tapi nyatanya, kita saling membutuhkan,” Burhan tak mau kalah karena pahanya sudah berlaga dengan paha emaknya. Keduanya pun diam. Maimunah tak bisa membantah apa yang dikatakan Burhan. Tiba-tiba saja bibir Burhan sudah mengecup bibir Maimunah. Mulanya Maimunah berupoaya menahan diri. Namun rabaan tangan Burhan pada selangkangan Maimunah dan elusannya pada buah dadanya, membuat Maimunah tak mampu juga menahan diri.

“:Burhan,,, Emak takut,”
“Jangan takut Mak, aku ada di samping emak.”
“Emak takut hamil…”
“Jangan takut Mak. Kan aku ada?”
“Justru, nanti bagaimana kalau aku hamil karena ini…” Maimunah mengelus kontol Burhan.
“Tenang saja Mak.” Burhan mengupayakan menghilangkan kecemasan emaknya. Perlahan, lahan Burhan melepas celana dalam emaknya sampai lepas. Kemudian dileusnya bulu-bulu yang memenuhi antara dua paha emaknya itu. Selain itu, Burhan juga mengisap-isap tetek emaknya dengan rakus.
“Bagaimana ini….” desah emaknya. Burhan diam saja dan terus mengulum lidah emaknya.
“Oh… apa lagi lagi baru dimasukkan…?” Maimunah akhirnya meminta.
Mendengar perkataan emaknya, Burhan langsung meniki tubuh emaknya dan Maimunah pun mengangkangkan keuda kakinya. memek yang sudah basah itu ditusuk oleh kontol anaknya, sampai amblas.

Keduanya tidak bersuara apa-apa kecuali desahan-desahan nafas dan rintih kecil dari mulut Maimunah. Burhan mempompanya dengan teratur dan pompaan itu membuat Maimunah seperti tak mampu berkata apa-apa lagi selain menggoyang-goyangkan pinggulnya dari bawah. Maimunah pun terus merintih-rintih dan dengan kuat, dia membalikkan tubuhnya. Posisi mereka sudah berubah. Burhan kini berada di bawah dan Maimunah menakan-nekan tubuhnya dari atas. Pantatnya dia putar-putar dan teteknya menekan-nekan dada Burhan.
Kelihatan Burhan jadi kwalahan sekali mengimbanginya dan dia mendesah, menyatakan dia akan sampai.
“Jangan dulu…..”Maimunah semakin mempercepat putaran pinggulnya ke kiri dan ke kanan, serta dia menekan jauh ke dalam.
“Maaaakkkk… aku sampeeeekkkk….” Burhan memeluk emaknya dari bawah dan mencengkram tengkuk emeknya. Maimunah terus memutar pinggulnya, takut kontol anaknya jadi mengecil. Dia terus berupaya secepatnya untuk mengejar nikmat, jangan sampai konbtil itu mengecil; dan keluar dari memeknya. Maimunah pun mengerang kuat. Akhhhhhh….. Lalu erangannya menjadi senyap di telan gelap gulita yang pekat.
Mereka berpelukan dan tertidur dengan pulas di malam gelap itu. Karean angin sedikit kencang, nyamuk-nyamuk tak berani mendekat.
Mereka terbangun, saat mata hari mulau menusuk-nusuk mata mereka. Cepat Burhan terbangun dan bangkit, lalu memakai pakaiannya. Dia takut, saat mereka tertidur, sudah ada orang di pulau itu yang melihat keadaan mereka.

Akhirnya mereka pun ditemukan oleh nelayan pulau lain di pulau itu dan memberi merek akain untuk disarungkan. Nelayan itu membawa mereka ke pulau mereka setelah tiga malam mereka berdua terdampar di ulau itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s