Ketika Tsunami Terjadi (2)

Posted: October 12, 2011 in CerBung, Kakak - Adik
Maskun mendapatkan Bethadine bebeapa botol dan verban serta obat-obatan yang biasa dijual tanpa resep atau obat yang bisa dijual bebas. Ada sabun dan berbagai keperluan. Mancis dan korek api dia jemur dan beberapa mantel hujan dia temuka juga. Mereka pun bertahan di tepian anak sungai itu. Sudah dua hari, belum juga ada bantuan. Tapi pakaian mereka sudah kering dan sudah bersih dicucui, terutama pakaian dalam.

“Apakah kita akan mati disini?” tanya Linda.
“Tidak. Pasti tidak. Makanan kita cukup. Bila dua hari ini kamu sudah bisa aku tuntun, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini,” kata Maskun. Linda merasa sedikit nyaman. Dia berpoikir, andaikan saja dia terdampar sendiri, siapa yang bisa menolongnya. Andaikan dia terdampar dengan orang lain, dia juga akan…

Linda mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Maskun menjilati teteknya dan mengelus-elusnya serta memeluknya dengan kasih sayang. Tapi LInda sebaliknya justru merasakan kehangatan. Mereka memang saudara yang sangat akrab. Mereka lebih akrab dibandingkan dengan empat saudara mereka yang lain. Beda usia mereka walau terpaut enam tahun, namun mereka seperti demikian bisa saling mengerti.

Untuk pertama kali Linda berciuman dengan lembut. Tidak seperti pacvar Linda yang bernama Johan yang selalu menciumnya dengan tergesa-gesa, kemudian jika sudah puas, Johan seperti tidak perduli padanya. Beda dengan Maskun, dia sabar mengelus dan membelai Linda. Sabar menciumi leher dan menjilati sekujur tubuhnya. Mereka sudah mendapatkan banyak kain yang sudah bersih dicuci dari barang-barang yang dibawa ombak. Mereka sudah dapat bahkan tiga buah selimut tebal. Semuanya sudah komplit, walau disana sini banyak yang robek.

Yang membuat Linda tak mampu membantah ucapan Maskun agar mereka bertahan dua atrau tiga hari lagi dengan perbekalan mereka yang cukup, saat Linda masih mengingat bagaimana ujung lidah Maskun menjilat-jilat vaginanya. Vagina yang berbulu tipis itu dijilati dengan lembut, membuat Linda terangkat-angkat tubuhnya.
“Udaaaaa…..” kata Linda mendesah-desah dan meremas-remas kepala Maskun.
“Uda apain memekku?” tanya Linda. Maskun justru tak menjawab, karena dia yakin itu adalah pertanyaan basa-basi saja, toh jilatannya tetap dinikmati oleh Linda.
“Enak?” tanya Maskun.
“Iyooooo…..” jawab Linda melemas dan menghentikan jepitan di kepala Maskun. Saat itu, Maskun justru menguakkan kedua pahak adiknya itu lebar-lebar dan menempelkan ujung kontolnya ke antara dua bibir memek Linda adiknya itu.
Perlahan Maskun menekannya. Linda mengigit bibirnya menahan sakit.
“Sakit Uda….” kata Linda merintih.
“Tahan sebentar sayang. Aku menyayangimu. Tak mungkin aku mencelakakanmu, sebentar lagi pasti enak.” kata Maskun.
“Tapi kita saudara. Kita tak boleh melakukan ini,” kata Linda.
“Kita sudah terlanjur…” kata Maskun. “KIta teruskan sama tidak kita teruskan, dosanya sudah sama,” jawab Maskun.
Sreeeg.. terasa seperti ada suara yang robek di dalam memek Linda. Linda menjerit. Cepat Maskun mengecup bibir adiknya dan kembali menekan kontolnya ke dalam dan Linda kembali menjerit. Maskun menahan kontolnya di dalam memek adiknya itu. Linda pun menanngis menahankan rasa perih dan sakit.

“Sabarlah, sebentar lagi tak sakit,” katanya. Maskun pun menarik perlahan kontolnya dan perlahan kembali menusuknya, demikian seterusnya, sampai satu hentakan kontolbnya dia tahan sepenuhnya ke dalam memek adiknya itu.

Maskun terus membelai rambut adiknya dan mengecup pipinya, serta mengecup bibrinya.
“Aku menyayangimu,” katanya lembut.
“Kalau aku disayangi, mkenapa harus begini?” kata LInda.
“Ini bagian dari rasa sayang yang teramat dalam,” kata Maskun merayu.
“BIla aku hamil?”
“Kita akan pindah dari pulau ini dan kita minta surat keterangan pindah. Aku dari desa sebelah dan kamu dari desa kita dan kita akan menikah di tempat lain, kata Maskun. Sambil berbicara merqyu adiknya, maskun perlahan terus mencucuk tarik kontolnya dan Linda sudah mulai menikmatinya. Mereka sudah berpelukan dan maskun terus menjilati leher Linda dengan kasih sayangnya.

“Sudah lama aku mencintaimu, bukan sepwerti adikku, tapi aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Maskun sembari terus memeluk adiknya dan menekan jauh kontolnya. Linda juga memeluknya dan kehangatan sperma dalam memek Linda demikian nikmatnya. Setelah kontol Maskun keluar dari memek Linda, Maskun mencium pipi adiknya dn mengucapkan tyerima kasih dan mengucapkan rasa cinta. Linda membalasnya dengan kecupan pula.

Setelah dua hari, mereka mendengar suara heli kopter menderu-denru. Linda berteriak minta tolong. Heli terlalu jauh di atas sana, hingga tak mendengar suara teriakannya. Maskun mengikat kain merah pada sebuah tongkat kayu dan emminta kepda Linda untuk melambai-lambaikannya. Sementara Maskun mengumpulkan ranting dan daun kering. Begitu heli kembali terdengan meraung, dimintanya LInda melambaikan bendera itu, dan Maskun membakar tumpukan ilalang dan daun kering serta rantint-ranting kayu, hingga asap menggepul.

Heli mulai mendekati mereka dan semakin merendah. Linda tersenyum bahagia demikian juga Maskun. Dari atas heli turun seorang tentara dan setelah sampai di bawah, dia mendekati Maskun dan Maskun menjelaskan, mereka adik-beradik yang terdampar dan selamat. Tentara itu mengikatkan tali ke tubuh LInda dan Maskun yang sudah tersedia, kemudian dengan alat radio tentara itu meminta agar metreka ditarik. Bertiga mereka ditarik oleh tali dan dua orang tentara yang ada dalam heli menarik mereka masuk. Salah seorang di antara tentara itu langsung memeriksa luka Linda sembari terbang, kemudian memberikan suntikan dabn pengobatan.

“Kanmu hebat bisa bertahan,” kata tentara itu. Mereka terbang dan dari ketinggian Linda Maskun melihat desa mereka nun di bawah sana sudah porak poranda. Linda dan Maskun melelehkan air mata, memikirkan bagaimama ibu-bapa dan saudara mereka. Pada sebuah lapangan Maskun dan Linda diturunkan dengan penumpang yang lain, kemudian mereka di bawa ke pengungsian yang dilayani oleh sukarelawan. Saatr Linda istirahat, Maskun mencari tahu keadaan orangtua mereka. Tak ada keluarga mereka yang selamat. Maskun tercenung dn kembali ke kamp pengungsian serta menceritakan kepda Linda yang sudagh diganti pakaiannya dan mendapat jatah pakaian lain. Berdua mereka berpelukan.

“Apakah ini istri saudara?” kata salah seorang petugas.
“Ya Pak. Kami pengantin baru. Tapi mai tidak punya identitas apa-apa lagi,” jawab Maskun.
“Nanti kita akan keluarka identitas pengganti berupa duplikat,” kata sang petugas. Maskun tersenyum. Untung ketika dia pulang ke kampung halamannya, di tempatnya bekerja dia juga pamit dan mengatakan, mungkin saja dia akan dinikahkan di kampung halamannya. Bagaimana perjalana selanjutunya….

Bersambung…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s