Ketika Tsunami Terjadi (3)

Posted: October 12, 2011 in CerBung, Kakak - Adik
Kenapa Uda mengatakan, kita ini suami isteri? Tanya Linda kepada Maskun. Maskun diam saja. Dia berupaya untuk mendapatkan ibu dan ayah mereka. Linda puin mempertanyakan kembali kenapa Maskun mengatakan kepada petugas, mereka adalah suami isteri?
“Supaya kita tidak dipisahkan. Nanti kalau kita ketemu dengan orangtua kita, baru kita bersama dengan

mereka dan kita kembali seperti biasa, kakak dan adik,” kata Maskun. Mereka menemui petugas dan meminta daftar nama-nama yang selamat dan tidak selamat. Dalam daftar yang selamat tak ada nama ibu, bapak dan saudara mereka. Dalam daftar nama yang meninggal dunia, ada nama ibu dan bapak mereka, tapi tak diketahui nama adik atau saudara mereka. Mereka berupaya terus mencari dan mencari. Kemudian mereka menukan ayah dan ibu mereka persis ketika masu dimakamkan. Jenazah yang sudah membusuk dan bau. Linda dan Maskun hanya bisa menangis dan ikhlas.

“Aku gak mau berpisah,” kata Linda pada Maskun.
“Aku juga tak ingin kita berpisah,” kata Maskun,. Mereka menemukan beberapa teman-teman mereka sekampung yang mendaftarkan diri untuk direlokasi ke daerah lain. Hanya ada beberapa orang yang mau. Seperti Sanusi dan Yati, mereka juga mengakui sebagai suami isteri, agar tidak dipisahkan dalam relokasi tempat. Akhirnya mereka mendapat surat keterangan dan duplikat surat nikah.

Setelah semuanya siap dan dianggap kesehatan fisik dan mental mereka sudah baik, ke dua pasang bersaudara itu pun naik ke kapal untuk ikut relokasi ke daerah transmifrasi yang baru dibuka kembali, karena banyak peserta transmigrasi terdahulu melarikan diri dari tempat mereka.
“Kita tidak akan berpisah, kan?” tanya LInda sangat manja. Maklumlah, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Maskun juga sangat memanjakannya. Demikian juga dengan Sanusi dan Yati. Bersama mereka mengharungi lautan selama tujuh hari dan singah sebentar di pelabuhan tertentu. Sanuni adalagh adik Yati. Beda usia mereka berkisar empat tahun. Mereka juga sudah tidak punya siapa-siapa sama seperti Maskun dan Linda.

Sesampainya di daerah baru itu, mereka mendapatkan rumah yang berdekatan yang isinya sudah dilengkapi dengan sederhana. Ada kantongan beras berisu 20 Kg dan peralatan dapur setrta peralatan pertanian. Mereka samapa-sama memasuki rumah baru. Sorenya Yati mendatangi Maskun mempertanyakan status mereka. Maskun menjelaskan, daripada mereka dipisahkan, lebih baik mereka menikah saja, walau saudara sekandung. Toh tidak ada yang tau.
“Jadi kamu akan memperisteri Linda?” tanya Yati. Sejanak Maskun menatap Yati. Lalu menganguk, agar mereka tidak berpisah.
“Bagaimana dengan aku?” tanya Yati. Maskun diam saja. Tak lama Sanusi pun datang bergabung di halaman rumah Maskun dan berdiskusi.
“Semua karena terpaksa, semoga kita bisa hidup dengan baik dan kita beranak pinak. Rahasia ini, kita jaga sebaik mungkin,” kata Maskun. Sanusi setuju. Lalu Linda pun datang dengan kemanjaannya, memeluk Maskun.
“Nih.. masih sangat muda usia, sudah siap,” kata Maskun. Sanusi pun memeluk kakaknya itu dengan mesra dan membimbingnya ke rumah mereka.

Baru pukul 21.00 kampung transmigrasi itu sudah sepi. Bantyak lampu sudah padam dan siaran radio tak terdengar lagi. Maskun dan Linda pun memasuki kamar mereka dan memasang kelambu agar terhiondar dari nyamuk. Mereka tidur berpelukan pada udara dingin dengan seng sebagai atapo rumah tanpa asbes, membuat udaranya semakin dingin. Dalam berpelukan itu, mereka berciuman dan mereka slaing memagut. Dalam kegelapan, Maskun menelanjangi Linda dan mereka berbugil bersama.

“Udaaaa…. ” Linda merengek menikmati jilatan Maskun. Pentil tetek yang dijilat-jilat da dielus-elus, membuat Linda benar-benar terangsang.
“Ayolah uda, dimasuki saja. Tolonglaaaahhhh…” Lionda sudah merengek minta dimasuki. Perlahan Maskun menaiki tubuh LInda dan menekan penisnya memasuki lubang Linda yang tentu saja masih sempit. Mereka berdua suami isteri, baik dalam surat maupun dalam kenyataannya.

Esok paginya, Maskun keluar rumah membawa alat pertaniannya didampingi oleh Linda. Tak berapa lama Sanusi ikut pula dari belakang. Saat Maskun melirik ke belakang, dia melihat rambut Sanusi dan Yati benar-benar basah, sama sepertyi rambutnya dan adiknya Linda. Mskun sengaja menunggu mereka dan dengan senyum Maskun mengatakan:”AKu yakin, tapi malam kelian tidur dengan nyanyak,” sindir Maskun.
“Aku juga yakin, kalau kamu dan Linda juga tidur dengan pulas,” kata Yati yang mengerti kemana arah percakapan Maskun. Mereka pun tertama sembari menuju perladangan yang diberikan kepada mereka seluas dua hektar.

Maskun sesampainya di ladang, langsung membangun dangau-dangau yang agak tinggi, agar terhindar dari binatang melata. Tiangnya berkiar setinggi 1,7 meter dari permukaan tanah. Selain itu, dia bisa melihat juga ke sekeliling tanah mereka. Selesai membuat dangau, Maskun mulai mengarap dan mencangkoli tanah yang dekat dengan dangau atau gubuk tingginya itu. Mereka harus bisa hidup dari perladangan itu, karena hanya selama dua tahun mereka mendapat jatah dari pemerintah.

Katika daun jagung menghijau di tanah yang subur, dari gubuk Maskun mulai mendengar suara mual dan muntah-muntah Linda. Dia mendatangi Linda. Kejadiannya sama sepeti yang dialami Yati. Linda hamil, sama seperti Yati. Maskun pun semakin menyayangi Linda, demikian juga sebaliknya.
Habis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s