Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (10)

Posted: December 9, 2011 in CerBung, Ibu

Dia menunggu sejenak reaksi dari ibunya, ketika dilihatnya tidak ada reaksi apa-apa, dia mulai meremas-remas buah dada ibunya. Dia dengan penuh hasrat mempermainkan payudara ibunya dengan lembut, merasakan kelembutan, kepenuhan dan kehangatan buah dada ibunya disertai rasa was-was bahwa ibunya akan terbangunkan.

Perasaan Susan berguncang dengan dahsyat, nafsunya demikian menggelegak sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Dia tahu dia harus menghentikan ini, tetapi gairah birahinya yang telah membakar serta pengaruh minuman anggur yang diminumnya membuat dia tetap membiarkan semua ulah Bayu. Dia bisa merasakan celana pendek yang dikenakannya mulai menjadi sangat basah, dan dia sangat khawatir basahnya akan Nampak dari luar celana yang dipakainya.

Bayu menjadi semakin berani. Dia menangkup dan memijat satu payudara sebelum berpindah untuk menangkup dan memijat payudara yang satunya lagi. Dia bergeser sedikit dan membiarkan tubuh ibunya menyelinap dari lengannya, sehingga kini tubuh ibunya berada dipangkuannya.

Penisnya yang sekarang terimpit punggung ibunya berdenyut dengan keras, sekali lagi dipandangnya wajah ibunya, dan dia menghela napas lega ketika melihat bahwa mata ibunya masih tertutup. Lalu ia mengalihkan pandangannya kearah dada ibunya, dan melihat tangannya bergerak bebas di bawah baju ibunya.

Susan berbaring setenang mungkin, membiarkan anaknya menjelajahi payudaranya. Dia bisa merasakan penis Bayu yang menekan di punggungnya menegang dengan kerasnya dan berdenyut-denyut. Terasa olehnya betapa besarnya batang penis itu, pinggulnya terasa sedikit kesemutan, dan dia harus berjuang keras untuk mengendalikan napasnya.

Tangan Bayu yang meremas dan mengelus sebuah payudara kini berganti dengan mempermainkan puting buah dada ibunya yang tegak dan keras. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya bahwa ia telah mengisap puting susu ini ketika masih bayi.

Sebuah hasrat yang kuat tiba-tiba mendorongnya untuk melihat buah dada tersebut, perlahan tangannya mengangkat baju keatas sampai buah dada tersebut tidak tertutupi. Matanya melebar saat dia menatap kulit putih mulus dan puting merah muda yang panjang yang diremasi tangannya, dan dia terpesona sendiri saat ia melihat tangannya meremas daging lembut tersebut.

Susan akhirnya sadar bahwa dia harus menghentikan semua ini. Dia melenguh dan pura-pura terbangun, terasa olehnya Bayu cepat-cepat menarik tangannya dari payudaranya, dan menarik ujung bajunya kebawah lagi, sehingga menutupi tubuh bagian atasnya lagi.

Lalu Susan duduk dan menggosok matanya. “Aku pasti jatuh tertidur lagi, maaf sepertinya aku selalu tertidur setelah minum anggur. Berapa lama aku terlelap?” tanyanya pada Bayu.
“Uh … oh tidak lama kok” jawab Bayu

“Mari kita jalan-jalan,” kata Susan sambil berdiri. Pengaruh minuman anggur dan rangsangan birahi yang naik kekepalanya membuatnya merasa pusing dan hampir jatuh. Untung Bayu yang cepat berdiri di sampingnya dapat memegangnya sehingga seimbang kembali..

Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah danau. Mustahil bagi Bayu untuk menyembunyikan tonjolan di celananya. Bayu tidak bisa percaya bahwa dia telah meremas-remas buah dada ibunya. Digeleng-gelengkannya kepalanya dan berpikir bahwa semua itu mungkin hanya mimpi.

Mata Susan sendiri terus melirik ke selangkangan anaknya. Rasa ibanya timbul melihat batang penis anaknya yang tegang dan kaku seperti itu, pasti batang penis itu terasa sakit terhimpit celana ketat, dan menuntut dibebaskan dari ketegangannya.

Tidak lama kemudian mereka menemukan tempat yang lapang dan nyaman dekat tepi danau, “kita duduk disini saja Mam” ajak Bayu. “Jangan disini mama tidak ingin rumput dan kotoran yang ada padanya menempel pada celana pendek mama” jawab Susan, “Tidak akan, duduklah disini” kata Bayu sambil menanggalkan kemejanya dan menghamparkannya ditanah.

Dia sekarang berdiri di samping ibunya dengan hanya mengenakan celana pendek dan sandal, dadanya yang telanjang terlihat bidang dengan six pack diperutnya. “Wow kamu benar-benar telah bekerja keras untuk berolah raga dan membentuk tubuhmu” seru Susan sambil mengagumi otot dada dan perut anaknya.

Susan merapatkan kakinya dan merasakan vaginanya yang tembem kian membengkak serta berdenyut-denyut dengan kerasnya. “Ini semua berkat pelatih kami, dia ingin semua pemainnya berada dalam keadaan prima” jawab Bayu .

“Kamu tampak begitu hebat dan perkasa” kata Susan sambil duduk diatas kemeja Bayu yang sudah dihamparkan. Susan merasakan jahitan ketat celana pendeknya membuat bibir vaginanya tertarik, menimbulkan rasa nikmat tersendiri, karenanya dia menutup matanya sambil menikmati sentuhan celana tersebut.

“Terima kasih” kata Bayu yang mendengar pujian ibunya, dia lalu duduk di sebelah ibunya dan meletakkan lengannya di sekeliling bahu ibunya.

Mereka duduk di sana dalam keheningan sambil memandang ke arah danau yang berkilauan. Mereka bisa melihat bintik orang-orang yang tengah mendayung perahu kecil didanau tersebut, serta mendengar sayup-sayup suara tawa anak-anak yang tengah bermain dengan riangnya di kejauhan.

Situsi dan kondisi saat itu tampak semuanya sempurna untuk berkencan, pemandangan indah di depan mata, tempat yang cukup terpencil tapi tidak terlalu jauh, tiadanya orang-orang di dekat mereka, membuat Bayu akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Ma!” kata Bayu memecah kesunyian, “apa… apakah… mama.. apakah mama mengijinkan aku memcium mama lagi?” tanyanya dengan suara sedikit tergagap. Susan menarik nafas panjang, dia tidak segera bisa menjawab pertanyaan Bayu.

Entah bagaimana, nalurinya telah lama membisikkan bahwa suatu saat pertanyaan itu akan datang. Dia telah berlatih untuk menolak dengan halus, agar tidak menyakiti perasaaan Bayu. Namun semua yang dilatihnya terbang terbawa angin, ketika dia dihadapkan langsung dengan pertanyaan tersebut.

Susan masih bisa merasakan bagaimana tangan Bayu meremas dan mempermainkan buah dadanya, dan bahkan bibir vaginanya pun masih membengkak serta basah karena terangsang oleh gairah birahinya. “Mama kira boleh, tapi hanya satu kali saja” kata Susan pada akhirnya, dia bukannya menolak, tapi justru malah mengijinkan meskipun dengan syarat.

Jantung Bayu serasa copot dari tangkainya, saking gembiranya. Dengan gugup dia berpaling pada ibunya, dan mendekatkan bibirnya pada bibir ibunya, lalu mereka sama-sama menekan kedua bibir tersebut, dan memeluk ibunya ke dada telanjangnya.

Ketika ibunya membuka mulut, Bayu tidak menyia-nyia kan waktu, dia segera mendorong lidahnya masuk kedalam mulut ibunya yang hangat dan basah, rasanya Bayu seperti menegak sepuluh botol anggur yang memabukkan. Ketika lidahnya ditarik keluar, lidah ibunya mengikuti dan menekan ke dalam mulutnya. Dia mengisap lidah ibunya dan terdengar Susan mengerang “akkhhmmmppp…”.

Ciuman terus berlanjut, berubah menjadi ciuman kedua dan kemudian ketiga, dan keempat, lagi dan lagi. Bayu menggunakan kesempatan saat mereka berciuman dengan mengulurkan tangannya kedada ibunya dan meremas payudaranya lagi, diselingi dengan mempermainkan putingnya.

Susan tidak pura-pura tidur saat ini tapi tetap dia tidak bisa menghentikannya. Bayu mengerang saat dia merasa buah dada ibunya penuh dalam genggaman telapak tangannya. Jari-jarinya gemetar saat dia bermain dengan puting susu tersebut.

Permainan Bayu di putting susu tersebut, menyebabkan ibunya lebih menekankan dan mendorong payudaranya ke dalam tangan Bayu, “aakhh…” bibir Susan mengeluarkan erang lirih yang terdengar bergetar karena diamuk birahi. Bibir mereka hampir bengkak karena terus menerus berciuman dengan penuh gairah.
Ke Bahagian 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s