Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (4)

Posted: December 9, 2011 in CerBung, Ibu

Bayu jantung berdetak semakin kencang “Tuhan, akhirnya aku akan merasakan bagaimana mencium wanita” pikirnya. Dia benar-benar akan menciumnya, batinnya denga tubuh tiba-tiba terasa kaku. “Lakukanlah” kata Susan sambil menutup matanya sementara jantungnya berdetak dengan kencangnya. “Ini suatu hal yang sangat keliru” pikirnya.

“Saya benar-benar … uh … mama tahu, saya. .. saya. .. tidak tahu harus bagaimana” kata Bayu dengan tergagap, “di sini,” kata Susan sambil menunjuk bibirnya dan menyodorkannya pada Bayu. Lengan Bayu otomatis memeluk punggung ibunya. Bibirnya ditekan keras dan kasar kepada kelembutan bibir ibunya.

“Tunggu” cegah Susan sambil menarik kepalanya, “bukan begitu caranya mencium bibir wanita, basahi dulu bibir kamu lalu lekatkan pada bibir wanita dengan santai dan nyaman” kata Susan dengan nada keibuan. Namun, ini bukan tindakan keibuan.
Bayu melakukan seperti petunjuk ibu nya, dia membasahi bibirnya dengan lidahnya, lalu melekatkan nya pada bibir ibunya lagi, Kali ini dengan lembut ia dan menekan bibirnya ke bibir ibunya yang lembut. Saat Bayu melakukan hal itu, segera dirasakannya bagaimana payudara ibunya menempel didadanya, belum lagi kelembutan bibir ibunya, ditambah dengan keharuman parfum yang dikenakan Susan, serasa kepala Bayu mulai berputar.

Susan mengerang saat lidah hangatnya meluncur masuk ke dalam mulut anaknya, itu adalah tindakan refleks dan otomatis yang terbentuk dari kebiasaannya kalau dia berciuman dengan Taufan. Setelah sekian lama dia tidak pernah berciuman, maka kini dari sentuhan lidahnya dengan lidah Bayu terasa menimbulkan getaran yang sangat nikmat, bagaikan selarik arus listrik mengalir ditubuhnya, lidah Bayu yang dengan kikuknya berusaha mengesel-gesel lidahnya terasa sangat nikmat dirasakan, meskipun Susan tahu Bayu sama sekali tidak berpengalamn, tapi apa yang dilakukannya sudah cukup untuk menyalakan api birahinya serta membuat vaginanya kembali mengeluarkan cairan nikmat.

Untuk beberapa saat Susan terlena dalam kenikmatan ciuman yang dilakukan anaknya, dia benar-benar kehilangan kendali diri. Sampai tiba-tiba naluri keibuannya muncul dan kesadarannya tumbuh kembali, dengan segera dia menarik kepalanya ke belakang dan menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Nah, dengan cara seperti itu lebih baik bukan?” kata Susan yang berusaha berbicara sepolos mungkin seolah tadi itu betul-betul hanya sekedar mengajari Bayu, tapi dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang bergetar dalam suaranya, karena dorongan birahi.

“Bagus, mari kita lakukan lagi” kata Bayu yang semakin berani sambil merangkul tubuh ibunya lagi. Pelukan Bayu yang erat telah menyebabkan tubuh mereka rapat sekali satu sama lain, dan Susan merasakan penis tegang dan keras anaknya menekan pada perut bawahnya. Sesaat tubuh Susan menggigil dilanda gairah birahi lagi, “ternyata aku masih mampu membuat seorang pemuda terangsang berat” pikirnya, sementara itu hatinya kembali menjeritkan peringatan “jangan!… pemuda ini adalah anak kandungnya sendiri” Susan sadar kalau sekali lagi berlangsung ciuman seperti tadi, maka dia tidak akan bisa menahan dirinya, dia tahu bahwa dia harus berhenti saat ini juga sebelum semuanya terlanjur.

“Tidak! Stop!” kata Susan hampir berteriak. Sadar bahwa kata-katanya terlalu keras dan langsung, dia melanjutkan dengan nada yang lebih lunak. “Satu ciuman pada kencan pertama, jangan serakah”, kata Susan sambil mendorong anaknya menjauh.

“Au dasar sial..” maki Bayu sambil tersenyum polos dan berusaha menutupi kekecewaannya dengan sikap diriang-riangkan. Lalu dia melanjutkan kata-katanya dengan mimik muka serta nada serius “Demi Tuhan ma, aku senang sekali malam ini. Bisa … eh … bisa kita pergi berkencan lagi kapan-kapan, bisa yah?” pintanya.
“Yah, mama rasa begitu, jika kamu benar-benar memperlakukan mama dengan sangat baik” kata Susan sambil mencium bibir Bayu sekilas lalu berlalu memasuki rumah.

Malam itu, Bayu berbaring di tempat tidur sambil melacap menghayalkan ibunya, semula khayalannya saat melacap adalah tentang gadis-gadis di sekolah. Tapi sekarang ibunya lah yang mendominasi khayalannya. Dia masih bisa merasakan ke kenyalan payudara ibunya di dadanya dan kulit lembut di bawah jari-jarinya. Jika saja dia bisa menggeserkan jarinya setengah centi kebawah sewaktu di gedung bioskop, maka dia akan menyentuh kepala puting susu ibunya, bahkan sekarangpun dia masih bisa merasakan kelembutan bibir ibunya, dan hangatnya lidah ibunya didalam mulutnya. Dan Bayu hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk dia memancarkan air maninya serta meraih kenikmatan melacap. Malam itu Bayu melacap sampai tiga kali.

Pada saat yang sama, Susan berbaring di tempat tidur dengan satu tangan meremas-remas payudara yang sama yang telah disentuh Bayu. Sedangkan dua jari ditangan yang satunya mengusap-usap klitorisnya untuk kemudian terbenam dalam lubang nikmatnya, lubang vagina yang gersang karena sudah lama tidak di tetesi hujan air mani laki-laki. Susan melacap terus sampai mencapai puncak kenikmatannya berulang-ulang, sehingga jari tangannya terendam dalam cairan nikmatnya.

Setelah semuanya selesai, rasa sedih menikam hatinya, sehingga dia menangis pilu “Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan, melacap sambil membayangkan bersetubuh dengan Bayu, anakku?” keluhnya dalam hati. Susan menangis sampai tertidur malam itu.
Ke Bahagian 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s