Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (6)

Posted: December 9, 2011 in CerBung, Ibu

Beberapa hari kemudian disuatu sore yang berudara hangat, Bayu sendirian di rumah dan karena tidak ada tidak ada acara apapun, Bayu menggunakan waktu luangnya untuk memotong rumput. Selesai memotong rumput Bayu memutuskan untuk mandi dengan air dingin. Dia pergi ke kamar mandi dan meninggalkan secara sembarangan pintu yang terbuka.

Setelah membuka pakaian, dia lalu melangkah ke pancuran yang berdinding kaca bening. Dinyalakan shower, sejenak dinikmatinya pancuran air dingin yang membasahi sekujur tubuhnya. Terasa badannya yang cukup lelah setelah memotong rumput kembali menjadi segar. Lalu dia mulai menyabuni dirinya sendiri, sambil pikirannya melayang pada ibunya.

Begitu membayangkan ibunya, tak tertahankan lagi batang penisnya segera tegak mengacung dengan kerasnya, perlahan dengan tangan yang berlumuran busa sabun, dia mulai mengelus-elus batang penisnya dari pangkal sampai ke ujung kepala penis. Matanya tertutup sambil bersandar pada ubin dari pancuran, khayalannya kembali kepada ibunya yang cantik. Dikenangnya saat jari tangannya mengelus payudara ibunya, hanya kurang setengah centimeter lagi baginya untuk bisa menguli-uli kepala puting susu ibunya.

Tanpa disadari oleh Bayu, Susan, ibunya hari itu memutuskan untuk pulang kerja lebih awal dari biasanya, setalah melihat iklan disebuah koran tentang film-film yang baru disebuah toko video. Ketika Susan sampai di rumah, dipanggilnya Bayu, karena tidak juga mendapat jawaban, Susan berpikir mungkin Bayu sedang tidur siang.

Karenanya dia segera pergi ke lantai dua untuk bertanya apakah Bayu mau nonton film bersamanya malam ini. Setelah sampai diujung tangga dia berbalik untuk berjalan menyusuri lorong, setelah berbalik itulah dia langsung melihat kamar mandi yang letaknya diujung lorong pendek tersebut, awalnya hanya terlihat pintu kamar mandi yang terbuka.

Lalu tiba-tiba langkah Susan terhenti karena kejutan yang dilihatnya didalam kamar mandi. Mata Susan terbelak selebar-lebarnya ketika dilihatnya Bayu anaknya sedang berada dikamar mandi setengah bersandar pada dinding shower, sedang matanya terpejam dan tangannya tengah mengocok batang penisnya. Batang penis terbesar dan terpanjang yang pernah dilihatnya secara nyata dalam kehidupannya yang hanya pernah melihat satu batang penis, yaitu milik Taufan suaminya. Dan Susan yakin batang penis Bayu jauh lebih besar ketimbang milik suaminya tersebut.

Susan menggelengkan kepala, berusaha untuk memalingkan penglihatannya dan menjauh, tetapi kakinya tidak bisa bergerak. Dia merasakan kegairahan yang sangat muncul dalam perutnya, kehangatan yang nyaman dan bergetar menuju selangkangannya, sementara matanya tetap menatap, terpaku pada batang penis Bayu.

“Maa… hisap aku “bisik Bayu kepada dirinya sendiri sambil mengelus-elus penisnya, klhayalannya melambung membayangkan ibunya menghisap batang penisnya, napasnya terengah-engah karena dia telah dekat dengan pencapaian klimaks kenikmatannya. Segera, tangannya mengocok semakin keras sehingga busa sabun berceceran di lantai kamar mandi. “Okh … akhhhhh… hisap penisku semakin keras ma…akh nikmatnya… ” erangnya semakin keras. Batang penis yang besar dan panjang miliknya berdenyut-denyut, dan creett….creett… pancaran air mani muncrat dari kepala penisnya, memancar cukup jauh sebelum akhirnya percikan air mani tersebut membasahi ubin di lantai kamar mandi.

Susan merasa seperti dirinya akan pingsan saat dia melihat anaknya mencapai puncak kenikmatannya, telinganya juga mendengar erang Bayu sesaat sebelum klimaks memanggilnya. Susan merasakan denyutan di bibir vaginanya dan cairan nikmat yang mulai membasahi celana dalamnya, “Jadi Bayu mengkhayalkan aku dalam masturbasinya” bisik hatinya, sementara tanpa sadar sebelah tangannya meraba buah dadanya serta meremasnya, sedangkan sebelah tangan lagi mengusap celah di antara selangkangannya.

Untuk sebuah alasan yang tidak diketahuinya, Bayumembuka matanya. Dia terkesiap ketika matanya bertemu pandang dengan ibunya. Namun sudah terlambat untuk menghentikan puncak kenikmatan masturbasinya, tangannya terus mengocok batang penisnya sampai tidak ada air mani yang tersisa di buah pelirnya.

Susan tersentak saat bertemu pandang dengan Bayu, dan dia bergegas pergi dari ambang pintu kamar mandi.

Satu jam kemudian, Bayu datang ke ruang bawah untuk makan malam dengan mengenakan celana pendek dan tank top. Dia sangat resah dan gugup terhadap reaksi ibunya yang telah memergokinya sedang melacap, dan dia merasa seperti orang idiot dengan semua apa yang terjadi.

Susan berada di mencuci wadah di wastafel ketika ia mendengar Bayu masuk ke dapur. Dia juga telah mengevaluasi kejadian yang memalukan tadi, dan sadar bahwa apa yang Bayu lakukan adalah normal. Setiap anak laki-laki pasti melakukan masturbasi. Namun erangan Bayu terus terngiang ditelinganya “Okh … akhhhhh… hisap penisku semakin keras ma…akh nikmatnya… “. Dengan badan sedikit gemetar, dan selarik aliran listrik yang serasa mengaliri sekujur tubuhnya, Susan berbalik dan tersenyum pada Bayu.

“Hai sayang… makan malam akan siap dalam satu menit..” katanya sambil tersenyum untuk menutupi gejolak di dalam hatinya. Ketika dilihatnya Bayu dalam pakaian seperti itu, Susan menatapnya lekat-lekat, “Oh Tuhan, Bayu terlihat begitu tampan”, pikirnya. Sementara wajahnya terasa panas dan memerah saat terkenag olehnya bagaimana Bayu berdiri setengah bersender pada dinding shower sambil mengocok batang penis yang keras dengan tangannya.

Senyum di wajah ibunya membuat Bayu terkejut. Dia sudah bersiap menerima teriakan kecewa dan umpatan kemarahan dari ibunya, tapi yang diterimanya ternyata lain dengan yang diduganya, karena itu ketegangan yang sejak tadi mencengkramnya perlahan mengendor, dan Bayu bisa tersenyum dengan cerahnya, sambil duduk di kursi meja makan.

“Jadi apa yang akan kita lakukan malam ini?” tanya Susan membuka pembicaraan, “Bagaimana jika kita menonton film malam ini? Kamu bisa kan membelinya di toko tapi bukan salah satu film action atau hal-hal yang serupa,” lanjutnya. “Kedengarannya menarik” jawab Bayu.

Susan membawa makanan ke meja dan duduk dikursi makan. Dia tahu bahwa dia tidak bisa begitu saja melupakan kejadian di kamar mandi. “Pembahasan yang salah dari situasi seperti itu bisa memiliki dampak yang sangat negatif pada Bayu”, pikirnya. Mereka makan tanpa banyak bicara sampai Susan menemukan ide bahwa dia harus menanggapinya dengan ringan bahkan mungkin setengah bergurau, biasanya sedikit gurauan cukup ampuh untuk menetralisir suasana.

“Jadi bagaimana mandi kamu yang tadi?” tanya Susan dengan senyum menggoda tergambar di wajahnya. “Hah!..” Bayu berkata kaget.
“Hey… bukankah kita sudah sepakat untuk jujur satu sama lain, mama melihat apa yang kamu lakukan, dan mama meminta maaf karena mama tidak tahu kamu sedang berada di kamar mandi” kata Susan dengan nada ringan

“Eh … eh … tapi aku …” Bayu tergagap menjawab. “Mama tahu kamu masturbasi seperti semua anak laki-laki melakukannya. Karena itu kita tidak usah memperbesar masalah itu.. Oke?” kata Susan sambil terus tersenyum meskipun dia merasa bahwa apa yang barusan diucapkannya sebenarnya merupakan suatu yang paling sulit yang pernah dilakukannya.

Namun setelah terucap, hati Susan terasa lega karena telah bersikap terbuka kepada Bayu, dan dia tidak merasa perlu untuk memberitahu Bayu bahwa dia telah mendengar apa yang Bayu erangkan. “Uh … mama sungguh-sungguh. Eh … aku juga minta maaf lain kali aku akan menutup pintu” jawab Bayu sedikit tersendat-sendat suaranya.

“Jangan terlalu khawatir tentang hal itu. Ini rumah kita dan kita harus bisa merasa bebas didalamnya” kata Susan. “bukankah kau hanya seorang remaja yang sedang dimabuk masa puber dan didorong oleh hormon laki-laki?” lanjut Susan sambil tertawa. Bayu tersenyum malu mendengar ibunya menirukan kata-katanya. Tapi akhirnya dia ikut tertawa juga.

“Kau membersihkan lantai kan?” tanya Susan lebih lanjut pada Bayu. “Mammmmm!” rengek Bayu sedangkan wajahnya berubah memerah karena malu. “Hanya sekedar meyakinkan” jawab Susan disela tertawanya.
Ke Bahagian 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s