Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (7)

Posted: December 9, 2011 in CerBung, Ibu

Setelah mereka selesai makan, Susan dan Bayu berbincang dengan topik pembicaraan yang biasa sehari-hari mereka lakukan, dan bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di sore itu.

“Mama akan mencuci piring, dan setelahnya mama akan mandi, sementara kamu Bayu pergilah ke toko untuk membeli beberapa film terbaru yang menarik” kata Susan mengakhiri perbincangan mereka di meja makan. “Oke ma…” jawab Bayu sambil bangkit dan mengambil kunci mobil, lalu dia berjalan mendekati Susan dan mencium bibir ibunya sekilas sambil berkata “aku pergi sebentar ke toko CineFlex, dan mampir ketoko makanan untuk membeli popcorn, love you mam..” pamitnya pada ibunya. “Love you too sayang, hati-hati dijalan ya” jawab Susan.

Setelah membersihkan piring-piring, Susan pergi untuk mandi. Ketika dia masuk ke kamar mandi, dia merasa getaran hangat didalam perutnya, terkenang kembali olehnya apa yang tadi sore telah dilihatnya, dan sekarang dia berdiri persis ditempat Bayu tadi melacap. Sebuah perasaan aneh datang kepadanya, rasanya seperti dia dapat merasakan gairah seksual Bayu menularinya. Tapi dengan memaksa diri Susan berusaha menolak keinginannya untuk melakukan masturbasi, dan dia segera mandi.

Bayu memutuskan untuk tidak singgah di toko CineFlex, karena dia teringat dilacinya dia masih punya beberapa keping ‘film cewek’ demikian kawan-kawannya menyebutnya, dan dia segera kembali ke rumah setelah membeli beberapa nyamikan. Ketika dia naik ke atas, dia melewati kamar ibunya.

Pintu kamar ibunya tidak tertutup rapat, ketika ia melewati pintu itu dia berhenti sejenak. Dari celah pintu yang terbuka dia melihat ibunya duduk di atas tempat tidur, sedang mewarnai kukunya. Hanya sehelai handuk besar yang menutupi seluruh tubuhnya, dan satu lagi membungkus kepalanya.

Tak tertahankan lagi Bayu mulai mengintip, dilihatnya ibunya bangkit dan berjalan ke lemari, melihat ke cermin. Bayu terkejut melihat bahwa handuk mandi yang melilit di tubuh Ibunya, nyaris tidak mampu menutupi buah pantat ibunya. Kaki ibunya terlihat begitu panjang dan halus.

Bayu terpukau mengawasi Susan yang berdiri dengan tenang mengurai handuk yang menutupi kepalanya serta mulai mengeringkan rambutnya. Bayu tahu bahwa dia tidak boleh mengintip ibunya, tapi ia tidak bisa menahan diri.

Susan menggunakan handuk untuk mengeringkan sebagian rambutnya kemudian dipakainya hair dryer yang mengalirkan udara hangat pada rambutnya, saat tanpa sengaja dia melihat ke cermin. Dia melihat gerakan diluar pintu. Untuk sesaat Susan merasa takut kalu yang datang adalah perampok, tapi segera disadarinya bahwa Bayu pasti telah pulang lebih awal.

Sesaat Susan tertegun terpikir olehnya bahwa Bayu tengah mengintipnya, sejenak timbul hasratnya untuk menutup pintu, tapi kemudian terpikirkan olehnya bagaimana jika Bayu merasa malu. Selain itu dia telah terlanjur berbicara tentang kebebasan dalam rumah, munafik rasanya jika dia bertingkah sebaliknya, apalagi Susan sendiri telah melihat bagaimana Bayu telanjang bulat tengah melacap, rasanya jika kini dia diintip Bayu, maka itu adalah balasan yang cukup adil. Dengan pertimbangan itu Susan terus mengeringkan rambutnya, membiarkan anaknya mengintip tubuhnya yang hanya berbalut handuk sebatas daha sampai tepat dibawah pantat.

Bayu sudah akan pergi ketika dia melihat ibunya menaruh pengering ke meja rias dan meraih simpul handuk yang terselip di antara payudaranya. Segera dia mengurungkan niatnya untuk pergi, dan meneruskan kegiatan mengintipnya dengan mata semakin terbelak.

Susan sendiri tiba-tiba merasakan kegairahan yang aneh melanda dirinya, belum pernah selama ini dia merasa senang karena mempertontonkan tubuhnya, bahkan saat Taufan menatap tubuhnya yang telanjang bulat, dia tidak merasakan gairah seperti ini. Tangannya gemetaran saat Susan meraih simpul handuk di dadanya. “Ini gila..dan tidak boleh kulakukan” pikirnya.

Namun, tangannya tetap bergerak dan dia membuka simpul handuk, serta memegang ujung-ujungnya dan membentangkannya selama beberapa saat. Matanya melirik ke cermin dan Susan tahu bahwa Bayu bisa melihat bagian depan tubuhnya yang telanjang. Rangsangan gairah yang aneh menyebabkan putingnya mengeras, lalu perlahan-lahan Susan menjatuhkan handuk yang tadi dipegangnya, sehingga terserak dilantai sebelah belakang tubuhnya, dan Susan mendengar suara pelan orang yang terkesiap dibelakannya seiring jatuhnya handuk tadi.

Bayu tersentak, dia berdiri beku, melihat tubuh telanjang ibunya. Ibunya benar-benar sangat cantik dengan tubuh sintal yang langsing, pinggang ramping, pinggul dan pantat membulat sedang besarnya, dan payudara besar yang terlihat kenyal dan masih berdiri dengan tegak, kalaupun ada melorot, maka melorotnya sangat sedikit sekali. Matanya menjelajahi sekujur tubuh mulus Susan, dan didaerah kemaluannya. Bayu melihat rambut yang lembut hitam serta jarang, serta sedikit bibir vaginanya yang berwarna merah muda. Di dalam celananya, penis Bayu segera berdenyut dan tegak mengacung, keras laksana besi serta penuh vitalitas.

Lalu Susan melakukan sesuatu yang sangat mengejutkan, bukan saja bagi Bayu yang tengah mengintip, tapi juga bagi dirinya sendiri, tidak pernah terpikir olehnya untuk bertindak seberani itu. Susan membungkukkan badannya sedangkan tangannya meraih ke bawah dan membuka laci paling bawah, Susan membungkuk pada pinggang, saat dia menegakkan tubuhnya, pantat nya seperti terdorong kembali kebelakang dan kedua kakinya sekarang sedikit mengangkang.

“Jesus….,” keluh Bayu saat ia menatap pantat ibunya yang indah. Bayu melihat celah di antara kedua kaki Susan, dan lubang vagina ibunya seperti menatap ke arahnya. Dia bahkan bisa melihat bibir vagina ibunya yang berwarna merah itu mengkilat karena basah. Tidak terpikir olehnya bahwa cairan tersebut keluar karena api gairah yang membakar ibunya, sama seperti api gairah yang membuat ujung penisnya basah.

Susan merasa seperti nya dia telah membungkuk untuk waktu yang sangat lama, meskipun sebenarnya hanyai beberapa detik. Susan tahu bahwa dia harus segera menegakkan tubuhnya karena cairan nikmat mulai menetes keluar dari lubang vaginanya. Perlahan dia berdiri dengan memegang celana dalam minim merah di tangannya. Lalu ia membungkuk lagi dan melangkah ke dalam celana dalam, menarik ujung celana ke pinggang. Dia bisa merasakan bahan halus membelai pantatnya dengan sensual dan menarik erat-erat vaginanya yang telah membengkak.

Sadar ibunya akan segera membalik badan setelah selesai berpakaian, perlahan Bayu menarik diri dan menjauh dari pintu kamar ibunya. Dia melangkah dengan cepat tapi tanpa suara kedalam kamarnya serta membuka laci dan mengambil film yang akan di tontonnya, lalu turun kebawah dengan langkah setengah berjingkat, dan menunggu ibunya di ruang keluarga.

Susan menarik nafas panjang serta menghela napas sampai tidak tersisa udara di paru-parunya. “Aku telah kehilangan akal” pikirnya sambil mulai berpakaian. Dipakainya rok pendek untuk yang panjangnya hanya sampai tengah-tengah pahanya. Ketika dia mulai berjalan keluar dari ruangan, sejenak dia berhenti. Tangannya gemetar ketika dia mengangkat roknya dan membuka celana dalamnya serta melemparkan celana dalam tersebut ketempat tidur. Lalu tanpa mengenakan celana dalam dia berjalan menuju ruang keluarga.

Beberapa menit kemudian Susan telah bergabung dengan Bayu di ruang keluarga. Dilihatnya Bayu sedang memasukkan film ke dalam alat pemutarnya, sedang di meja dilihatnya sebungkus besar pop corn. “Tepat pada waktunya,” kata Susan sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. “Yup ada Popcorn juga, sedap sekali!” lanjutnya.
Ke Bahagian 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s