Kisah Seorang Ibu dan anak kandungnya (8)

Posted: December 9, 2011 in CerBung, Ibu
 “Aku membelikan mama anggur,” ujar Bayu bangga sambil menunjuk ke botol yang didinginkan dalam ember es. “Terima kasih Sayang!” jawab Susan sambil meredupkan lampu ruangan, dan mereka mulai menonton film, sebuah film yang berjudul “Fried Green Tomatoes” sebuah film yang tidak disukai Bayu, tapi dia tahu ibunya sangat menyukainya.

Susan duduk di sofa sementara Bayu duduk di lantai bersandar di sofa. Sekitar satu jam setelah film ditayangkan, Bayu minta diri dan naik ke atas ke kamar mandi. Saat ia melewati kamar ibunya, ia berhenti. Ia melihat sebuah celana dalam merah kecil tergolek di tempat tidur. “Ya Tuhan, bukankah itu celana dalam yang tadi dipakai mama, apakah mama menanggalkannya, sehingga dia kini tidak memaki celana dalam?” dia bertanya pada dirinya sendiri.

Seketika itu juga timbul kepenasarannya untuk membuktikan apakah ibunya benar tidak mengenakan celana dalam. Ketika Bayu kembali ke ruang tamu, dia telah memiliki satu niatan untuk menyelidiki apakah ibunya memakai celana dalam atau tidak. Saat dia duduk kembali di lantai, ia berbalik sedikit miring sehingga ia bisa melihat kaki ibunya. Namun, setelah mencoba beberapa saat, pandangannya selalu tertutup oleh baju yang dipkai ibunya. Akhirnya, ia mendesah dengan frustrasi dan menyerah.

Susan duduk di sofa sambil minum anggur. Dia bisa melihat bahwa Bayu sedang berusaha untuk mencari celah pada baju yang dipakainya. Dia tersenyum melihat Bayu berusaha melakukan beberapa hal seperti, merubah posisi duduk, dan bergeser kesana kemari tapi dia tetap tidak mendapatkan cara dan tempat yang baik untuk bisa melihat dan membuktikan bahwa ibunya memang tidak memakai celana dalam.

Susan sendiri sengaja membuat Bayu kesulitan untuk mendapat pemandangan yang diinginkannya. Dia tahu bahwa ia telah menggoda Bayu habis-habisan, tapi entah kenapa ia tidak bisa berhenti menggoda. Akhirnya ketika anggur yang diminumnya mulai menunjukkan pengaruhnya, ia duduk kembali di sudut sofa dalam posisi bersimpuh nyaris tengkurap dan kakinya berada di samping pantatnya sehingga gaun mini yang dipakainya hampir tidak menutupi pipi pantatnya.

Bayu melihat perpindahan posisi ibunya dengan sudut matanya. Dia menggeser posisinya lagi sedikit sambil diam-diam melirik kaki ibunya. Kini dia bisa melihat sampai bagian atas paha belakang ibunya sekarang, tapi baju yang dipakai ibunya masih cukup menutupinya.

Beberapa saat kemudian, mereka tetap saling mempertahankan posisinya. Bayu yang melihat ibunya tidak banyak bergerak segera berbalik untuk memeriksa apakah ibunya sedang tidur.

Bayu tahu bahwa ibunya sering tertidur setelah minum anggur. Tiba-tiba, sebuah pikiran kotor timbul di benaknya. Dia segera bangkit duduk dengan tenang dan lembut di sofa, di samping ibu yang bersimpuh setengah tengkurap.

Jam di dinding terdengar berdetak keras seperti jantungnya yang berdetak keras di dadanya. Sesaat dia menunggu untuk memastikan bahwa ibunya benar-benar tertidur. Kemudian dengan jari-jari gemetar, ia mengulurkan tangan dan memegang ujung baju ibunya.

Perlahan-lahan, hampir tak kentara, ia mulai menarik baju tersebut sampai keatas paha ibunya. Ketika ujung baju itu berada tepat di atas pantat ibunyanya, Bayu berhenti “cukup segini” pikirnya. Lalu ia duduk kembali di lantai. Dia menunggu satu atau dua menit lalu berpaling untuk melihat ibunya.

“Wahh…” sebuah desahan lirih keluar dari mulutnya, ketika ia melihat bibir vagina ibunya dengan jelas.. Meskipun ruangan itu gelap karena lampunya yang dimatikan, tapi cahaya yang terpancar dari layar TV memberi cukup penerangan sehingga dia dengan jelas bisa melihat vagina ibunya.

Susan mengerang pelan dalam tidurnya dan tubuhnya bergerak sedikit, membuat baju yang dipakainya terangkat lebih tinggi lagi di pantatnya. Lalu ia menarik satu lutut lebih dekat ke dadanya dan bajunya itu bergerak lebih jauh lagi sampai pinggulnya. Bahkan dalam tidurnya Susan bisa merasakan udara dingin mengelus pada bagian pribadinya serta membuatnya terangsang.

Sekarang Bayu bisa melihat segalanya. pantat lembut putih ibunya seperti bersinar dalam cahaya yang terlontar dari layar TV. Dia bahkan bisa melihat lubang kecil tersembunyi di antara pipi dan bibir dalam vagina ibunya yang berwarna merah muda. Dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, Bayu membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang telah berdenyut-denyut. Kemudian sambil menatap pada bagian pribadi ibunya, ia mulai melakukan masturbasi.

Rasa dingin di vaginanya akhirnya membuat Susan terjaga, tapi sengaja tidak bergerak, dia sadar vaginanya telah terbuka dan nalurinya bisa merasakan mata anaknya melotot memandang vaginanya.

Perasaan bahwa vaginanya tengah menjadi tontonan Bayu, menimbulkan sebuah rangsangan tersendiri bagi dirinya, sehingga tanpa dapat ditahan lagi vaginanya mulai dibasahi cairan pelicinnya, semakin lama semakin banyak sampai menetes ke atas pahanya.

Perlahan ia membuka matanya sedikit, diintipnya Bayu yang tengah bermasturbasi. Kegairahan yang sangat menyentak dalam dirinya, membuat kepalanya terasa bagai berpusing, ketika ia melihat Bayu tengah melakukan masturbasi. bibir vaginanya yang tembem terasa membengkak serta berdenyut dengan keras oleh gairah terlarang saat ia lebih mengangkangkan kakinya serta menekan pinggulnya ke bawah, sehingga bajunya semakin tertarik keatas dan ujungnya sekarang hampir berada di pinggangnya.

“Oh Yesus,” bisik Bayu sedikit keras. Sekarang Bayu bisa melihat dengan jelas kedua lubang ibunya, termasuk bibir vagina ibunya yang tembem dan membengkak serta lubang coklat kecil dari anus ibunya yang hanya beberapa inci jauhnya.

Tangannya naik ke atas dan ke bawah pada batang penisnya, Bayu terpacu dengan cepat menuju puncak masturbasinya. Tiba-tiba Bayu mengerang dan mulai menyemprotkan air mani-nya. Ledakan pertama terbang di atas Bayu dan berceceran ke belakang paha ibunya, dan jatuh di dekat persimpangan bagian atas paha ibunya, hampir pada vaginanya.

Ketika Bayu mulai reda dari kenikmatan puncaknya, dia melihat bahwa tetesan air maninya, sebagian jatuh disofa dekat ibunya, bahkan sangat dekat dengan vagina ibunya, dia sadar bahwa dia tidak mungkin bisa membersihkannya tanpa membuat ibunya terbangun.

Susan sendiri hampir tidak bisa melihat apa yang terjadi tapi dari suara lenguhan Bayu, dia tahu bahwa Bayu anaknya telah mencapai puncak kenikmatan masturbasinya. Hal ini juga memacu gairahnya, sehingga tanpa terasa vaginanya menjadi semakin basah, dan nyaris mengalami orgasme akibat dari pengaruh angan dan khayalnya.

Ketika pancaran air mani tersebut akhirnya berhenti, karena buah pelir yang telah menjadi kosong, Bayu mengancingkan kembali celananya, yang tertinggal hanyalah bekas pancaran air mani dilantai dan ditubuh ibunya, serta rasa bersalah karena kehilangan kendali diri serta mrmiliki pikiran kotor terhadap ibunya. Dilihatnya juga air maninya yang jatuh ditubuh ibunya mulai menetes di bagian belakang paha ibunya. “Ya Tuhan apa yang harus saya lakukan oh?” pikirnya.

Tapi sebelum Bayu bisa memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan air maninya yang mengenai tubuh ibunya, Susan telah menggeliat lalu duduk sambil membuka matanya. “Aku pasti tertidur” kata ibunya sambil merentangkan tangannya dan menguap. “Eh … eh … oh iya, tapi hanya sebentar kok” jawab Bayu sambil melihat air maninya yang menetes diantara kedua paha ibunya.

Susan yang berpura-pura baru terbangun, bertindak seolah tidak tahu apa-apa, namun gairahnya yang sudah memuncak menyebabkan dia bergegas pergi kekamarnya, untuk melampiaskan tuntutan birahinya, dia sangat sadar kalau sperma masih membasahi belakang pahanya. Karenanyanya setelah memberikan ciuman selamat malam dia segera pergi dan masuk kedalam kamarnya, dibalik pintu kamar tangannya terulur ke belakang paha dan meraba bekas cecahan air mani Bayu, terasa sangat lengket di jarinya.

Kegairahan yang sangat kembali menerjangnya, lubang vaginanya terasa mulai mengemut dengan kuat, terhuyung-huyung dia merebahkan diri di pembaringannya, bersamaan dengan tubuhnya yang merebah, datanglah gelombang orgasme yang sangat kuat melanda tubuhnya “ookhhh…” desahnya.

Ketika semua berakhir, dia kembali menarik bajunya menggunakan jari-jarinya untuk melacap sampai kembali meraih orgasmenya, lagi dan lagi. Sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan, pakaiannya masih naik sampai pinggang dan sperma Bayu yang sudah mengering berada di belakang pahanya sampai keesokan harinya.
Ke Bahagian 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s