Hamili Aku Dik (1)

Posted: December 12, 2011 in CerBung

Sudah setahun lebeih aku menikah dengan suamiku Badrul. Aku belum juga mendapatkan seorang anak pun, sebagai buah hati. Aku selalu mendapat sindiran dari keluarga suamiku, juga sesekali dari keluargaku. Bila aku mendapat sindiran dari keluargaku, aku hanya menunduk saja. Sebagai putri tertua dari keluargaku, aku memiliki empat orang adik. Dua perempuan dan dua laki-laki. Suamiku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya laki-laki. Dari keluargaku, baru aku yang menikah, sedangkan dari keluarga suamiku, semua sudah menikah.

Suamiku selalu menentang apa yang disindirkan oleh keluarganya. Bahkan ada keluarga yang menyindir, agar suamiku menikah lagi, mana tau bisa cepat punya anak. Bukankah kedua orang tua Badrul suamiku sudah tua? Aku merasa sedih atas sindiran, walau pun disampaikan secara seloro. Sebagai seorang perempuan, aku merasa sangat tersinggung. Aku tahu kemampuan suamiku. Terkadang baru ujung penisnya yang menempel di bibir kemaluanku, dia sudah menyemprotkan spermanya. Untuk itu aku menganjurkan agar dia berobat ke dokter spesialis, juga ke “orang pintar”. Keduanya-duanya pun dijalani suamiku. Termasuk pijat khusus. Hasilnya sedikit lumayan. Penis suamiku sempat memasku liang vaginaku dan sesaat kemudian dia menembakkan spermanya.

Hanya sebulan dalam pernikahan, kami merasakan hidup sebagai suami isteri yang pas, karean suamiku walau bersusah payah, sempat membobol perawanku. S etelah sebulan, dia mengalami ejakulasi dini. Mungkin karena banyaknya merokok (suamiki perokok berat) dan kurangnya olah raga.

Saat pernikahan adik bungsu ibuku, keluarga besar kami berangkat menghadirinya, kecuali adikku Khaidir tidak ikut, karean harus mengkuni Ujian Negara (UN). Dia sudah kelas 3 SMP. Saat belajar, aku menemaninya bahkan mengajarninya. Suamiku sudah tertidur pulas, karean sebagai ontrantor, dia sangat letih. Aku memang memanjakan adikku yang berusia 14 tahun itu. Aku suka memeluknya, mungkin karean itu sudah terbiasa sejak dia masih kecil dan kami semua memanjakannya, karena dia anak bungsu.

Usai belajar, aku memeluk dan mencium pipinya dengan kasih sayang. Adikku membalas ciumanku. Tidak seperti biasanya, dia membalas mencium pipiku. Adikku justru memegang tengkukku dan mencium bibirku. Darahku berdesir. Tapi dai adalah adikku. Kelembutan bibirnya berlaga dengan bibirku, membuat nafsuku cepat bergolak. Akhirnya kami berciuman dan lidah kami berkaitan. Aku pun membiarkan ketika tangan adikku menyelusup ke dalam dasterku dan mengelus tetekku.
“Kamu mau, dik?” tanyaku.
“Aku menginginkannya, mBak,” adikku balas berbisik. Aku melepas kancing dasterku dan mengeluarkan tetekku dan adikku dengan cepat mengisap tetekku dan meremas yang sebelahnya lagi. Tiba-tiba aku sadar, kalau di rumah ada suamiku.
“Besok aja dik. Ada Mas Badrul,” kataku. Aku melihat adikku kecewa. Wajahnya lesu. Aku takut besok di bangku ujian, ini bisa mempengaruhi jiwanya. Aku tahu apa yang diinginkan oleh adikku. Saat aku meraba celananya, aku merasakan penisnya sudah mengeras.
“Boleh cepat?” bisikku. Dia diam saja. Kulepas celananya dan dia duduk di atas kursi. Setelah kulepas celana dalamku, aku menaiki dan mengangkangi tubuhnya, kemudian aku memasukkan penisnya yang keras ke dalam vaginaku. Aku tak menyangka, rasanya baru kemarin aku mandi bersama dengan adikku. Kini penisnya justru sudah besar dan berbulu lebat. Begitu cepatkah adik bungsu yang selama ini masih aku anggap anak-anak, menjaadi dewasa?
AKu mengoyangnya, sampai spermanya muncar beberapa kali. Nah… justru aku yang kecewa, karean belum terpuaskan. Aku berbisik padanya, agar besok sepulang ujian bisa dilanjutkan. Adikku mengangguk dan masuk ke kamarnya. Aku pun memasuki kamar tidur, lalu menelentangkan diriku di samping suamiku. Aku sudah tidur dan terus membayangkan yang baru saja terjadi.

Kenapa aku bisa melakukannya dengan adik kandungku sendiri? Betapa berdosanya aku sebagai seorang kakak tertua. Namun, aku merasakan, kalau penis adikku jauh lebih baik dibanding dengan penis suamiku. Akhirnya kata hatiku yang berkata. Inilah kesempatan bagiku. Aku akan bersetubuh dengan adikku, tanpa siapapun yang tau, agar aku segera hamil.

Aku terlambat bangun pagi, karean susah tertidur tadi malam. Namun aku masih sempat memberi sarapan suami dan adikku. Kemudian suamiku mengantarkan adikku ke sekolah untuk UN. Pukul 11.00 WIB adikku sudah berada di rumah. Dia kelihatan riang sekali, karean dia dengan cepat bisa mengerjakan semua soal-soal ujian. Katanya dia sangat senang dan tadi malam dia bisa cepat tertidur pulas.
“Pasti kamu bisa tertidur pulas, setelah kamu….” kataku dengan senyum nakal. Senyumku dibalas dengan senyum nakal pula oleh adikku yang tinggi kami sudah sama, walau dia masih SMP.

Usai makan siang aku memeluknya dan menciumnya. Adikku membalas ciumanku dengan nafsunya yang bergelora. Aku mengelus-elus kepalanya, saat aku memasukkan pentil tetekku kemulutnya. Aku merasakan jilatan dan emutan pentil tetekku demikian lembut dan sangat nikmat. Aku merasa adikku jauh lebih pintar memainkan pentil tetekku daripada suamiku sendiri.

“Dik.. maukah kamu menghamiliku?” bisikku perlahan di telingannya. Adikku tidk menjawab. Dia hanya menatap wajahku sejenak, kemudian mengemut kembali pentil tetekku lebih agrsif. Satu-satu kancing dasterku bagian depan dilepasnya. Aku tinggal memakai celana dalam saja. Oh…. aku merasa demikian senang. Beda umur kami enam tahun, tapi bukan menajdi penghalang bagi kami untuk mendapatkan kenikmatan. Aku juga heran, kenapa adikku demikian cepat dewasa dan mampu bermain seks seakan sempurna.

Aku pun melepas semua pakaiannya. Kami sudah bertelanjang bulat di ruang dapur yang tak begitu besar. Kami saling memagut dan aku merasakan inilah benar-benar kenikmatan. Aku sudah basah sekali. Vaginaku sudah berlendir, bahkan sudah meleleh di pahaku.
“Dik… dimasukkaaaaannnn…” rintihku, menarinya untuk telentang di lantai dapur yang memang sudah bersih aku pel. Aku menelentangkan diriku dan membuka lebar-lebat kedua pahaku, kemudian aku menarik tubuh adikku untuk menindihku.
“Ayo dik… dimasukkkkkk…”
Adikku menusukkan penisnya ke dalam vaginaku. Seperti orang kelaparan tidak makan selama berbulan-bulan, aku langsung menjepit kedua kakiku di pantat adikku dan aku menggoyangnya dari bawah. Aku tak ingin kehilangan kenikmatanku, sementara adikku terus mengemut bibir dan lidahku. Adiku membenamkan saja penisnya jauh ke dalam lubangku dan aku terus menggoyangnya. Aku pun merintih kenikmatan dan memeluk adikku sekuat tenagaku. Terasa ada sesuatu yang membuncah keluar dari tubuhku yang teramat dalam dan aku merasakan nikmat yang teramat sangat yang tak pernah kutemukan selama dalam hidupku.

Perlahan tubuhku melemah dan kedua kakiku tak lagi menjepit tubuh adikku. Adikku tersenyum dan menciumi pipiku. Kemudian dia mengelus-elus kepalaku. Duh… aku merasa bahagia sekali diperlakukan seperti anak kecil oleh adikku yang usianya jauh di bawahku. Aku merasa mendapat seorang laki-laki yang menyayangiku sepenuh hati.

Adikku mulai menusuk-tarik penisnya dalam vaginaku Gesekan-gesekan batang penis adikku pada dinding vaginaku, membuatku kembali bernafsu. Terlebih bibir adikku yang mengemut-emut tetekku. Aku membelai tubuhnya dengan kasih sayang dan memciumi lehernya dan m,enjilatnya. Saat adikku menjilat leher sebelah kiriku, aku menjilat leher sebelah kirinya pula. Kami terus saling menjilati dan mengelus.

Dalam benakku terbersit juga pertanyaan singkat, dari mana aduik bungsuku mengerti soal seks, sementara usianya masih 14 tahun. Untuk sementara pertanyaan itu aku buang, karean aku takut kehilangan momen yang terindah dalam hidupku.

“mBak.. aku udah mau keluar….” rintihnya. Aku menjepit tubunya dengan kedua kakiku dan aku memberikan respons yang kuat dari bawah. Saat adikku menghunjam-hunjamkan batangnya dalam vaginaku, aku mulai memutar-mutar batang penisnya dalam liangku. Kami berpelukan. Semakin kuat akyu memeluk tubuh aduikku, lebih kuat pula adikku memelukku dan menekan jauh ke dalam batangnya di dalam vaginaku.

Aku merasakan siraman lendir kental beberapa kali dalam laing vaginaku dan aku merasakan terbang melayang dan rasa nikmatku sampai ke ubun-ubun. Aku sampai pada puncak terindah dengan berdesir-desirnya air kental keluar dari dalam tubuhku. Aku juga merasakan kehangatan sperma adiku dalam liangku. Kami bepelukan kuat sekali. Aku sampai menahan nafasku, sakin kuatnya aku memeluk tubuh adikku.

Lama kelamaan pelukan kami berdua melemas. Nafasku memburu dan aku juga mendengar nafas adikku yang memburu. Tubuh kami dipenuhi keringat. Adikku menatap mataku dan dia menghadiahiku sebuah senyuman yang manis. Aku menyambut senyumannya itu dengan senyuman manis pula, sembari aku mengecup pipinya.
“Semoga aku cepat hami, agar keluarga Mas Badrul tidak menyindirku lagi, ” kataku.
“Ya.. aku kasihan pada mBak yang selalu disindir.”
“Karenanya, hamili aku Dik,”
“Semoga mBak bisa hamil. Bila mBak hamil, berarti itu adalah anakku, kan?”
“Ya.. anak kita, DIk. Tapi anak rahasia kita,” bisikku. Kami sama-sama tersenyum.
Setelah nafas kami niormal, kami bangkit dan berdua kami ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berpakain.

“Besok lagi, ya mBak…” bisiknya.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s