Hamili Aku Dik (2)

Posted: December 12, 2011 in CerBung, Kakak - Adik

Empast hari adikku mengikuti ujain negara (UN) dan empat hari pula kami melakukannya. Akhirnya aku menyampaikan kepada suamiku, kalau adik bungsuku tinggal bersama kami saja, karean aku selalu sepi di rumah sendirian. Aku tidak diizinkan bekerja, terkadang suamiku dua sampai tiga hari tak pulang bila ke luar kota memerika pekerjaanya. Ternyata suamiku sangat senang. Dia tahu, kalau aku sebagai anak tertua sangat memanjakan adik bungsuku. Hal itu kusampaikan juga kepada ayah dan ibuku. Mereka juga setuju. MUlailah adikku tinggal bersama kami dan semua pakaian dan sepatu basket untuk olahraganya dibelikan oleh suamiku. JUga sebuah speeda motor matic dan suamiku menyuruh adikku ikut les mengenderai mobil. Adikku sangat senang.

Mungkin, aku adalah isteri membawa rezeki. Atau mungkin adikku, atau mungkin kami berudua. Suamiku pun berkata, kehadiran adiku bersama akmi membuatnya tenang bila keluar kota dan rezeki terus membaik. Suamiku pun membeli sebuah villa mungil berkisar 14 Km dari rumah kami dengan harga murang, namun harus diperbaiki. Villa itu dijual pada suamiku, karena terdesak untuk menutupi hutang di bank dan diberbagai tempat. Biasalah kontraktor, selalu saja ada pasang surut dan [pasang naiknya.

Waktu terjadi perbaikan, aku meminta pada suamiku agar aku punya kegiatan dan mumpung adikku masih libir, agar aku diizinkan menata tamannya dan menanami bunga-bunga hias. Suamiku senang sekali dan memberikan uang kepoadaku, utnuk membeli bunga apa saja yang aku mau. Aku dan adikku membeli bunga dan meminta diantar ke villa baru kami. Ajku dan adikku berboncengan naik sepeda motor. Dalam perjalanan aku memeluk adikku dari belakang. Bila jalan sunyi, sesekali dengan nakal aku mengelus penisnya dari balik celananya.
“mBak.. nanti dia bangun…”
“Biarin aja dia bangun. mBak ingin agar dia segera bangun,” kataku nakal menangapinya.
“Kalau dia bangun, mana mungkin dia ditidurkan di tepi jalan…” adikku seloro pula.
“Karenanya, yang cepat, biar segera sampai,” kataku. Benar adiku tancap gas dan kami lari kencang meliuk-liuk menaiki bukit dan kami sudah melihat villla kami dari kejauahan. Aku merasa diriku sepati BG kembali. Terlebih tubuhku memang mungil. Jika aku memakai seragam SMP. mungkin saja masih banyak yang percaya. Hahahaha….

Sesampai di villa, kami melihat pekerja mulai memasang pagar tinggi mengelilingi villa kami. Ada yang mengecat, ada yang memperbaiki genteng dan kami mulai asyik mengangkatan bvunga-bunga dan tanaman hias ke mana yang akan kami tanam. Tak lama suamiku datang dan melihat aku dan adikku sedang serius bekerja, padahal kami baru saja bercanda. Dia begitu kagum pada kami berdua. Dia mnghadiahi kami dua bungkus nasi padang yang lezat dan kami bersantap. Untuk suamiku ingat beli nasi, kalau tidak mungkin kami kelapan.

Tak lama suamiku pergi kembali ke kantornya dan pekerja istirahat. Kami naik ke lantai dua villa dan mengunci pintu pada tangga dan kami duduk sejenak pada balkon di lantai dua memandang ke kali berair jernih dan bening. Kami terlindung dari semu apandangan dan aku mulai memeluk adiku dan menciumnya. Kami pun bercerita, terutyama tentang pacarnya, tentang seks yang diketahuinya. Mendengar ceritanya, aku baru mengetahui. Sejak empat bulan lalu, adikku sudah mengerti dan melakukan hubnungan seks. Hubungan seks itu dia lakukan dengan anak tetangga ibuku yang baru mingu lalu menikah.

Adiku bercerita, kalau anak tetanga itulah mengajari segalanya dari A sampai Z. Buluku bergidik mendengarnya. Tapi aku ingin adiku melakukannya. Menjilati vaginaku, seperti apa yangh diajarkan oleh anak tetangga itu. Adikku pun melakukannya dan menjilati vaginaku. Aku menggelinjang, karena seumur hidupku, aku baru merasakannya. Akhirnya kami melakukian persetubuhan yang sebenarnya. Sejak itu pula aku ingin pula mengetahui bagaimana sebenarnya, kalau penis masuk ke dalam ronga mulutku dan itu pun kami lakukan.

Semua rehabilitasi villa sudah selesai. Aku dan adikku setiap hari ke villa, karena banyak bunga yang belum ditanami. Kami bahkan diantar oleh suamiku. Bila ingin pulang, kami menghubunginya dan suamiku akan menjemput kami. Villa sudah berisi perabotan masak dan makan serta semuanya sudah lengkap.
Tentu saja kelengkapan itu tak kami sia-siakan bersanma adikku.
Suamiku pun merasa senang, kalau aku sudah hamil. Saat tidur malam, aku membangunkan penisnya dengan elusanku, kemudian aku menaiki tubuhnya, hingga berkali spermanya tumbah dalam liang vaginaku. Tapi hanya aku dan Tuhan yang mengetahui, kalau janin dalam rahimku adalah dari sperma adikku.

Jika suamiku tidak ada, aku merasakan, kalau adikku sangat menyayangiku bahkan memanjakan diriku. Rasanya aku sering kikuk saat menerima kemanjaan dari adikku, tapi aku menikmatinya.
Usaha suamiku pun semaki besar dan maju. Peerlahan-lahan secara diam-diam aku mengumpulkan uang sembunyi-sembunyi yang disimpan dalam rekening adikku. Kamu harus hemat dik. Biar bila kamu sudah sarjana nanti, kamu bisa buka usaha sendiri, kataku pad adikku. Sementara segala kebutuhan sekolahnya, dipenuhi oleh suamiku.
Saat adikku lulus SMA kami sudah memiliki sepasang anak. Suamiku setuju, kalau rahimku ditutup agar aku bisa intens mengasuh kedua sepasanga nak kami. Suamiku pun terus pijat agar dia benar-benar sembuh. Aku pun mendorongnya agar terus pijat, walau dalam hati aku tersenyum. Aku terkadang harum, bila suamiku demikian menyayangi kedau anakku. Di sisi lain adiku justru selalu pergi menghindar, biloa suamiku sedang ememlukda nemncium kedua anak kami. Bila suamiku pergi bekerja, baru adikku memanjjakan mereka.

Setelah rahimku ditutup, hubungan seks kami semakin intens dan kami tidak takut untuk kehamilan beruikutnya. Terlebih setelah suamiku mengalami kecelakaan, penisnya total lumpuh walau tubuhnya kelihatan gagah seperti tiada masalah. Aku bersyukur aku tak bisa hamuil lagi, hingga bila aku bersetubuh dengan adikku, tiada kecurigaan dari siapapun.

KIni usiaku sudah 50 tahun dan adikku sudah 42 tahun, suadgh menikah dan memiliki dua orang anak dan sudab melanjutkan usahan suamiku, karena suakimu sudagh mengalami stroke. Selain itu, adikku membuka usaha untuk dirinya sendiri. Suamiku sangat bersyukur adikku mau melanjutkan usahanya dengan keuntungan 50%-50%. Jangan dikiera dalam usia 50 tahun aku berhenti bersetubuh dengan adikku. Justru dalam usia ini aku dan adiku masih menggebu-gebu. Mungkin adikku mengalami puber keduanya dan aku mengalami puber ketiga. Hahahaha… Yang jelas hubungan seks kami berjalan lancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s