Kisah Andi (2)

Posted: December 12, 2011 in Keluarga

Lima bulan lepas dari pernikahanku, hubungan dengan Rara semakin harnonis saja. Apalagi dia juga memiliki libido yang tinggi. Hampir tiap hari kami berhubungan badan. Kalau sedang masa subur kutumpahkan air maniku di luar atau pake kondom, sedangkan kalau sdg tidak masa subur kusemprotkan air maniku di dalam vaginanya.

Hampir semua tempat di rumahku sudah pernah dijadikan tenpat bercinta. Kalau tempatnya di luar kamar, kami pastikan dulu pembantu kami, Sari, gadis manis berusia 16 tahun asal Tasik itu sudah tidur atau sedang di luar rumah. Tak hanya di ruang tamu atau dapur, kami pun sering bercinta di taman belakang dgn berbagai posisi, kadang sambil berdiri atau duduk di sofa.

Sampai kemudian Rara mengutarakan maksudnya bahwa dua adik perempuannya yg ada di Manado sebentar lagi akan masuk SMP dan SMA. Icha umur 12 tahun dan Cinta umur 15 tahun. Rara menuturkan niat baiknya utk membantu orangtua agar kedua adiknya itu melanjutkan sekolah di Bandung dan tinggal di rumah kami serta seluruh biaya hidupnya termasuk sekolah kami tanggung.

Akupun tdk keberatan. Membantu orangtua tentu hal mulia. Terlebih aku anak tunggal dan cukup mampu utk melakukan itu.

Sebulan kemudian Icha dan Cinta datang. Mereka gadis remaja yg tak kalah cantik dari kakaknya. Sesuai umurnya Icha masih kecil sedangkan Cinta badannya mulai tumbuh.

Akupun menyekolahkan mereka ke sekolah sekolah terbaik di kota Bandung. Hingga kini kami tumbuh menjadi keluarga yg indah. Meski mereka adik ipar, aku sangat sayang pada mereka.

“Udah pulang Cha?” Tanyaku siang itu. Kulihat icha di ruang tengah sedang nonton tv dgn masih pakai pakaian seragam.

“Udah Kak, kok kakak udah pulang kerja?”
“Iya sudah beberapa hari ini kakak lembur terus jd hari ini kaka pulang cepet pengen istirahat. Sari ke mana?
“Sedang belanja kak disuruh kak Rara. Kak Rara sendiri sedang kuliah sampai sore.

Lalu kuhampiri Icha duduk di sofa ruang tengah. Deg!! Tiba tiba jantungku berdegup kencang ketika kulihat paha mulus Icha di sampingku. Icha sepertinya tak sadar rok SMP nya tersingkap sampai 10 cm di atas lutut. Kulitnya putih mulus seperti kakanya.

“Tuhan jgn biarkan aku berpikir macam macam, dia adikku, dia jg msh sangat kecil” ucapku dlm hati. Namun mata ini tak mampu kutahan terlebih dari sela sela kancing bajunya akupun meliahat sekilas atasan payudara dari balik bra nya. Kubayangkan bayudaranya baru tumbuh, masih kecik, seukuran kepalan tangan. Tanpa dikomando, kont*lku di balik celana mulai mengeras.

“Kenapa kak kok kaya ngelamun?” Tanya Icha membuyarkan khayalanku.
“Ah nggak, cape aja” sergahku.

Akupun segera bergegas ke dalam kamar dan kuputuskan utk masturbasi sambil membayangkan mem*k Icha yg kuyakin masih sangat kecil dan imut.

***
Sejak saat itu aku jadi merasa bersalah karena telah berpikir sesuatu yg seharusnya tak boleh kupikirkan. Apalagi aku ingat Rara yg begitu baik dan tak ada cacat sedikitpun di mataku. Namun pikiran nakal itu tak sepenuhnya dapat kulepaskan. Aku suka berkhayal bagaimana bercinta dengan gadis mungil cantik berumur 12 tahun yg dia adalah adik iparku sendiri.

Dan kesempatan itu datang tanpa diduga. Rara istriku pamit 3 hari akan kuliah lapangan ke pangandaran. Otakku sontak berpikir macam macam.
Hari pertama istriku kuliah lapangan, aku mulai makin mengakrabkan diri dgn icha. Kami ngobrol macam macam termasuk masalah masalah pribadinya. Kubilang padanya agar jangan dulu pacaran, fokus pada sekolah dulu. Icha pun mengiyakan sambil bilang dia sayang padaku dan berterima kasih karena telah membiayai hidup dan sekolahnya dgn penuh kasih sayang.

Hari kedua aku sengaja tidak masuk kantor. Alasan ke kantor ga masalah karena ku sudah menduduki posisi yg cukup tinggi hingga dgn mudah dpt mengatur waktuku.

Hari itu Cinta akan pulang sore karena harus les dulu. Sari pembantuku agak siangan kusuruh belanja berbagai kebutuhan hingga sore. Sementara Icha seperti biasa sekolah hingga siang.

Aku sendiri tinggal di rumah. Ketika Icha bertanya kubilang aku sedang kurang enak badan hingga ga ke kantor.

Sambil menunggu Icha pulang sekolah, aku terus memikirkan dirinya. Aku msh terbayang pahanya yg putih mulus dan payudaranya yg kubayangkan masih sangat kecil. Tanpa sadar tanganku kembali meraih kont*lku dan mengocoknya hingga air pejuhku keluar cukup banyak. Lalu aku pun tiduran di sofa ruang tengah sampai tertidur.

“Kak, bangun.. Ada tamu,” dgn lembut Icha membangunkanku. Rupanya dia udh pulang.

“Oh icha. Kakak ketiduran nih abis lemes. Tamu siapa?”
“Gatau kak.” Setelah kudatangi ternyata tamunya adalah suruhan pak RT utk minta sumbangan. Setelah aku berikan uang secukupnya ia pun pergi.

Aku pun kembali ke ruang tengah. Kulihat Icha sedang membuka sepatu di sofa, dan degggg…! Hatiku langsung berdegup kencang ketika tanpa sengaja kaki icha agak mengangkang, roknya agak tersingap. Dan yg membuatku tercengang dari kejauhan aku melihat sekilas CD nya warna merah menyala. Aku segera merapikan celanaku, takut burungku yg mulai bangun kelihatan membesar.

Aku segera bergegas duduk di samping icha. Aku pun berbincang sejenak ttg aktivitas sekolahnya hari ini.

“Katanya kakak ga enak badan? Udah baikan? Udah makan obat?”
“Ga makan obat cha, kakak cuma pegel pegel kecapean, udah baikan kok”
“Syukurlah kak. Mau icha pijitin biar agak enakan?”

Wah, kesempatan, pikirku. “Boleh cha klo icha ga keberatan.”

Segera saja icha naik ke atas sofa di belakangku. Ia mulai memijit pundakku. Tanpa sengaja payudara yg masih mungil itu menggesek gesek punggunggu. Sambil memejamkan mata aku menikmati sensasi yg luar biasa itu. Aku sudah benar benar tak ingat bahwa dia adalah adik iparku sendiri.

Dan aku makin tak tahan.

“Cha..” Ujarku sambil memegang tangannya yg sedang memijit. Kutarik sedikit dan kini kami sudah berhadapan di ata sofa.

“Ada apa kak?”
“Bole kakak jujur ga? Biarpun masih kecil, kamu ini cantik sekali.. Ga kalah sama kakakmu. Kakak sayang sekali sama kamu.”
“Ah kakak bisa aja. Icha jg sayang bgt ama kakak. Emang bener icha cantik?” Ujarnya dgn muka memerah.

“Bener cha, kmu cantik banget.. Kalau icha sayang kakak, boleh ga ngesun kamu tanda sayang,” ujarku dengan tetep memegang kedua tangannya.

“Ah kakak, icha malu kali kak, icha kan ga pernah kaya gitu.”
“Ga usah malu cha, kan ga ada orang.”
“Mhmmm iya deh kak…”

Tanpa menunggu lama aku segera mengesun pipinya. Aku semakin diliputi nafsu birahi yg luar biasa. Akal sehatku sudah hilang entah ke mana. Aku tak tahan untuk menggeser bibirku dari pipi ke bibirnya. Dan mulai kujilat bibirnya yg kecil tipis dgn lidahku. Rasanya sungguh nikmat tiada tara.

“Kak apa ini kak, kok sampai bibir? Icha malu…” Tanya icha mencoba menghentikan ciuman.
“Ga papa sayang ga usah malu. Tutup aja mata icha dan nikmati apa yang terjadi”.

Aku kembali melumat bibirnya yang kecil ranum. Kali ini icha mulai memberikan reaksi. Ia mulai menyedot bibirku. Aku segera menimpali dengan menjulurkan lidah dan ia pun membalasnya. Lidah kami salih beradu.

“Shhhh….” Icha mulai merasakan sensasi dari ciuman kami.

Aku bimbing tangannya utk memeluk pinggangku dan kupeluk pula pinggangnya hingga kami berciuman sambil berpelukan.

Birahiku makin menjadi jadi. Gadis kecil ini telah mengubahku menjadi singa yang lapar. Aku mulai ga tahan untuk membuka kancing baju seragamnya. Dan ternyata icha ga berontak. Kulepaskan bajunya. Kulepas branya. Pemandangan yg sungguh indah kini terhidang di depan mataku. Sepasang payudara kecil yang baru tumbuh dgn puting kecilnya yg coklat memerah. Segera saja kujilati.

“Aahhh.. Geli kak…” Icha makin terbuai dgn sensasi yg kuberikan.

Sejenak kubuka saja seluruh pakaianku, senjataku yang sudah keras langsung mendongak ke atas. Icha terlihat sedikit kaget. Mungkin baru kali ini ia melihat kemaluan laki laki yg sedang ereksi. Entah terinspirasi oleh aksiku saat mengulum putingnya, dan ia merasakan itu sungguh nikmat, tiba ia mendekati dadaku dan mulai menjilat putingku. Sungguh kenikmatan yg tiaada tara.

“Terus sayang… Enak sekali…” Ujarku sambil mengerang. Sembari itu aku mulai mengarahkan tangn mungil icha utk mulai mengelus dan mengocok kont*lku. Kenikmatan itu makin menjadi jadi.

Segera kurebahkan icha di atas sofa. Dan kulucuti rok seragamnya. CD merah menyala itu kini di hadapanku dan kini mulai kubuka.

Kini aku menikmati pemandangan yg sungguh langka. Mem*k yg msh kecil yg belum ditumbuhi bulu sedikitpun.

Sejenak akal sehatku menyergap. Aku tak tega memasukkan kont*lku yg besar ini ke dlm mem*k yg masih kecil itu. Takut tdk masuk atau menimbulkan sakit.

“Kenapa kak kok jadi melamun?”
“Mhmmm ngga cha. Kakak ingin masukin kont*l kakak ke mem*k kamu tapi ga tega takit kamu sakit..”
“Ga pp kak. Icha sayang kakak.. Lakukan kak..” Sebuah jawaban tak terduga keluar dari mulut icha.

Akan sehat yg sempat singgah itu seketika sirna. Aku mulai mengarahkan batang kejantananku ke vaginanya. Saat kepala kont*lku menyentuh bibir vaginanya, kurasakan vaginanya sudah sangat basah, tanda Icha sudah begitu terangsang.

Lalu kumasukkan kont*lku dgn perlahan dan slebbb…
“Ahhh…. Teruskan kak…” Rintih icha semakin tak bisa menahan diri.

Meskipun terasa begitu sempit akhirnya aku bisa memasukkan seluruh kont*lku dengan sempurna. Setelah itu aku semakin memacu memompa kont*lku dengan cepat. Keringat mengucur deras.

Setelah beberapa lama, “kak icha pengen pipis…” Rupanya icha sudah mau puncak orgasme. Begitu pula aku. Dan benar saja icha sudah pada puncak orgasme. Dinding vaginanya berdenyut denyut keras, air vaginanya membanjir. Aku pun segera menarik kont*lku dan menumpahkan air pejuh di payudaranya. Kulihat sekilas di kont*lku ada sedikit bercak darah tanda malam itu aku merenggut kegadisan adik iparku sendiri yg masih berusia 12 tahun.

Kami saling berpelukan sambil aku merenung terjerat kenikmatan sekaligus rasa bersalah karena telah memerawani icha.

“Kak jangan menyesal. Icha ga sedih kok. Icha malah senang sudah menyenangkan kakak dan ini juga pengalaman paling indah buat icha…..” Sepertinya icha membaca pikiranku. Kami pun berpelukan semakin erat.

Waktu semakin sore. Kami pun segera membereskan ruang tengah agar tdk ada yg curiga. Lalu kami mandi bareng dengan syahdu. Tak lupa di kamar mandi kami sempat bercinta cepat sambil berdiri. Sungguh pengalaman yg sangat indah.

Kamipun kembali ke ruang tamu. Tak lama kemudian Cinta datang sambil menolek ke adiknya.

“Wah cha keliatannya cerah sekali. Abis dapet hadiah ya dari kak andy?”
“Iya dong!”
“Hadiahnya apa tuh?
“Ada deh… Pokoknya special…”
“Uhhh pelit ga ngasi tau..” Ujar cinta sambil pergi ke kamarnya. Dari belakang kulihat jelas bentuk pinggul Cinta yg begitu indah.

Tak lama berselang, Sari datang dengan barang belanjaannya yg begitu banyak. Aku ikut membantunya. Saat membantu aku tak henti memandang Sari. Semakin kulihat, aku semakin menyadari bahwa Sari terbilang cantik. Walaupun kulitnya tak seputih Rara, Icha, atau Cinta, tetapi kulit Sari juga mulus. Hidungnya mancung, matanya besar bening. Dan yang paling bikin penasaran adalah payudaranya yg besar. Entah ukurannya berapa, yg pasti cukup untuk menjepit kont*lku hingga keluar.
****
Malamnya aku melamun. Setelah petualanganku dgn Icha aku jd terinspirasi utk melakukan hal serupa dgn Sari dan Cinta. Namun tinggal sehari besok aku tanpa isteriku. Bagaimana caranya bisa bercinta dgn dua orang dlm satu hari? Itupun belum tentu mereka mau. Lalu aku berpikir, mengapa malam ini aku tdk mencoba Cinta, dan besok Sari.

Malam itu sudah pukul 21.00. Lalu aku mencoba sms Cinta.
“Sudah tidur cin?”
“Belum kak lagi ngerjain PR matematik, susah bgt nih. Kakak mau bantu?”
“Ok. Kakak ke situ ya?”
“Ok kak”

……….. bersambung ke EPISOD 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s