Kisah Andi (5)

Posted: December 12, 2011 in Kakak - Adik, Keluarga

Setelah dibuai percintaan yang dahsyat, aku dan mamah Dina segera merapikan pakaian.
“An, mamah istirahat dulu ya di kamar, cape banget nih pengen tidur, baru dateng langsung diserang kamu pula,” ujar mertuaku sambil berkedip manja.
“Iya mamah, istirahat yang banyak ya. Jangan khawatir Andi ga akan bicara ke siapapun tentang kejadian tadi,” ucapku.

Mertuaku segera bergegas ke kamar tamu yg sudah siap dihuni setelah dibersihkan sari. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Aku kemudian pergi ke halaman belakang utk melihat kolam ikan kesukaanku. Aku melintasi dapur. Kulihat Sari pembantuku dengan seorang gadis cilik.

“Eh Sar siapa tuh?”
“Eh iya Pak, ini ada keponakan Sari, baru dateng mampir, belum sempet bilang ke Bapak.”

Gadis cilik itu bernama Dini. Ia anak dari kakak perempuan Sari. Umurnya baru 12 tahun. Dini baru lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah karena orangtuanya hidup pas-pasan.

“Ya sudah Dini tinggal di sini aja Sar. Kan bisa bantu bantu kamu,” ucapku.
“Aduh Sari jadi malu. Baru saja sari mau mengakatakn itu tapi rupanya Bapak sudah tau apa yg mau Sari katakan.”
“Baguslah kalau begitu,” ucapku.

Kuperhatikan sejenak Dini. Tubuhnya masih kecil masih kanak kanak. Toketnya baru sedikit menyembul dari kaosnya. Kubayangkan payudaranya itu memang masih kecil, baru tumbuh. Tapi kecantikan Dini sudah terpancar, lebih cantik dari Sari. Bibirnya yang tipis, hidunya bangir, bulu matanya lentik. Terlebih saat itu ia pake rok. Benar benar khas kanak kanak, tapi menggemaskan.

“Eh Sar kenalin sini dong keponakanmu,” seruku. Sari kemudian menghampiriku bersama Dini.

“Aku Om Andi, siapa namamu gadis cantik?” Tanyaku.
“Namaku Dini om,” ujarnya singkat.
“Namanya kaya sinetron ya..hehe” ucapku berguyon dengan harapan suasana menjadi nyaman.
“Dini tinggal di rumah om aja ya bantu bantu kak sari,” tambahku. Dini memang memanggil Sari dengan sebutan kakak.
“Iya om, dini juga mau minta ijin tinggal di rumah om. Kata kak sari om andi itu baikkkkk banget…” Ujar ujar dini tersenyum.
“Iya dong om baik.. Tapi Dini juga ga boleh nakal yah dan selalu menuruti kata-kata om,” pintaku.
“Iya om, Dini janji akan selalu menuruti kata kata om,” tegasnya.

“Ya udah dini kan baru datang. Sekarang ga usah kerja, istirahat dulu di kamar sari. Kabetulan rumah om masih ada kamar kosong tapi belum dibersihkan. Nanti kalau sudah dibersihkan kamu tinggal di situ aja ya,” pintaku.
“Iya om” jawab dini singkat. Sepintas kuamati kembali dadanya. Kubayangkan toketnya memang masih benar benar mungkil, lebih mungil dari payudara Icha. Membayangkan itu, perlahan tapi pasti kont*lku mulai bangun dari tidurnya.

Segera aku dan Sari mengantar Dini ke kamar sari. Sesampainya di kamar, kupanggil sari mendekat dan aku mulai berbincang dengannya dengan perlahan takut didengar Dini.
“Sar, Dini cantik banget yah…” Ucapku membuka pembicaraan, sedangkan Dini sedang asik di sudut kamar yg lain.
“Iya dong siapa dulu dong tantenya..” Ucap sari tersenyum. Terus terang saja pikiran ngeresku mulai mengembang. Meski tadi aku baru menyetubuhi mertuaku tapi hari ini aku ingin bersetubuh sepuas puasnya sebelum istriku datang.

“Sar, boleh ga aku melakukan sesuatu seperti yg aku lakukan padamu dengan Dini?” Aku mulai memberikan pertanyaan dgn pertanyaan yg paling halus agar sari tdk tersinggung. Sari terdiam sesaat, sepertinya agak terkaget juga tak menyangka aku akan meminta itu.

“Mhmm gimana ya pak. Bukannya sari tidak mau tapi Dini masih sangat kecil. Umurnya baru 12, belum saatnya. Memangnya bapak belum cukup yah dengan bu rara, icha, sari atau bu dina barusan?”

Sejenak aku tersentak kaget ternyata sari tahu persetubuhanku dengan mertuaku.
“Jangan kaget pak, tadi sari memang tidak sengaja melihat. Tenang pak, sari ga akan bilang siapa siapa,” rupanya sari membaca pikiranku.

“Makasih Sar, terus bagaimana dengan Dini tadi?”
“Ya udah gimana Bapak aja. Tapi jangan ada paksaan sedikit pun dan Sari harus tetap di sini,” akhirnya Sari menjawab setelah lama terdiam. Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku pun menyuruh Sari untuk mengunci kamar pintu takut mertuaku terbangun.

“Din, sini dong duduk dekat om.”
“Ada apa om?” Dini menghamiriku. Duduk disebalah kananku, sementara sari di sebelah kiriku. Rasanya aku ingin segera menyetubuhi gadis cilik yang cantik itu, tapi semua harus berjalan dengan baik dan tak boleh ada paksaan. Harus sama sama rela dan menikmati.

“Mhmm.. Ga apa apa Din. Tadi kan dini bilang dini akan menuruti semua kata kata om, bener ga tuh?”
“Bener dong om. Dini akan menuruti semua kata kata om.”
“Kalau om pengen kamu buka baku boleh ga?”
“Ihhh mo ngapain om?”
“Tuh kan… Katanya mo nuruti kata kata om”
“Iya om tapi mo ngapain?”
“Dini kan cantik banget, om penasaran aja pengen liat dada kamu pasti indah banget…”

Suasana terdiam sejenak.
“Iya deh om, dini udah janji. Tapi om aja yang bukain.”
Hatiku bersorek. Aku melihat Sari sejenak. Ia tersenyum sambil mengangguk. Aku pun segera membuka kaos sari. Ternyata meskipun masih kecil Dini sudah pake bra.

“Om bukain branya ya Din”
“Iya om” jawab dini lirih.

Aku segera membuka bra nya. Kini pemandangan yang menakjubkan tersaji di depan mataku. Benar saja toket Dini masih sangat kecil tapi sudah tumbuh. Pentilnya masih sangat mungil. Ingin aku segera menyentuhnya tapi harus minta ijin dulu.

“Din bolehnya om menyentuh payudaramu?”
“Katanya tadi cuma liat aja om. Emang enak gitu om kalau disentuh?”
“Kamu pejamin mata aja Din dan coba rasakan,” ujarku dengan nafas mulai memburu.

Tanpa bilang ya atau tidak, dini memejamkan matanya, itu tanda persetujuan. Aku segera menyentuh susunya. Susunya sungguh sangat kencang. Aku mulai menyentuhnya dan memilin putingnya.

“Enak ga Din?”
“Geli om… Shhhmmm” rupanya dini mulai menikmati. Meskipun masih kecil tapi secara naluri dia bisa merasakan itu adalah kenikmatan.

Segera kudekatkan mukaku dengan payudaranya lalu mulai kujilati payudara kecil itu. Lidahku kumainkan berputar di atas putingnya. Sejenak kugigit lembut putingnya untuk menambah sensasi. Dini pun semakin disergap kenikmatan.

“Ahhh…. Tambah geli ommm…” Erangnya.

Sari yang dari tadi memperhatikan adegan panas ini mulai tak tahan. Ia kemudian bersimpuh di depanku dan mulai membuka resleting celanaku. Konto*lku yang dari tadi disergap birahi langsung tegak berdiri. Tanpa dikomando sari mulai mengulum batang kemaluanku. Aku yg sedang asik mengulum pentil Dini tak kuasa menahan nikmat. Sejenak aku menghentikan kulumanku itu.

“Ahhhhhhh……” Desisku.

Pegal dengan posisi duduk aku membawa Dini rebah di kasur. Lalu aku kembali menyerangnya dengan jilatan di toket. Tak kurasakan ia mengulum kembali senjataku. Rupanya ia sedang melakukan aksi lain. Ia melucuti rok Dini beserta cd nya. Aku pun menghentikan aksi jilatku ingin melihat mem*knya Dini. Sungguh panorama yg indah. Mem*knya mungil belum ditumbuhi satu bulu pun. Belahannya begitu halus dan alami.

“Mem*kmu indah sekali Din…” Ucapku berburu nafsu.
“iya om, tapi Dini mau diapain?”
Tanpa aku memiliki kesempatan untuk menjawab, justru Sari yang menyambar menjawab duluan.
“Rasakan aja Din, kakak ada sesuatu yang spesial buat kamu…”

Sari lalu mendekatkan wajahnya ke mem*k Dini. Ia mulai menjilati kemaluan Dini yang mungil itu. Sepertinya Sari sengaja merangsang Dini sekuat-kuatnya agar pada saatnya kont*lku dapat masuk lebih mudah ke lubang kenikmatan Dini yang pasti masih sangat sempit itu.

“Ahhhh kakak…. diapain kak… vagina Dini jadi bedenyut-denyut….” erang Dini. Sepertinya ia semakin diselimuti kenikmatan yang makin memuncak. Dini dalam hal ini lebih bersikap pasif karena ia belum berpengalaman. Aku sendiri makin tak kuat menahan birahi yang makin menjadi jadi. Konto*lku sudah berdenyut denyut ga karuan. Segera saja aku pergi ke belakang sari. Dan kupelorotkan celananya. Lalu kusodok kemaluannya dari belakang. Sementara Sari sendiri tetap asik menjilati mem*ek Dini.

“aghhh… aghhh…..” nafas sari megap-megap saat kont*lku mulai masuk menggeseki dinding-dinding kemaluannya. Sari merasakan kenikmatan sambil tetap bekerja merangsang Dini sekuat tenaga. Aku sendiri terus memaju mundurkan tongkolku semakin kencang. Cairan kenikmatan semakin terdesak ke ujung kemaluan.

“saarrrr…. aku sudah ga tahan… sebentar lagi sarr…..” erangku.
“aku juga pak, terus pak…. gesek terus cepat pak… kita keluar bareng….” rintih Sari.

Dan crotttt… crotttt.t……. tanpa terasa aku ejakulasi di dalam memiaw sari. Nikmat yang luar biasa menyelusup di dalam jiwaku. Aku pun terkulai sejenak.
“Maaf Sar, aku tak sengaja keluar di dalam….”
“nggak apa-apa pak, sari lagi ngga masa subur kok…”

Setelah istirahat sesaat, aku bertanya pada Dini.
“eh, kalau Dini udah menstruasi belum?” tanyaku.
“belum om, kenapa emang?”
“nggak apa apa, ya udah sekarang aku bantuin ya kerjaan Sari ke Dini..” ujarku pada Sari. Luar biasa memang, Dini belum mens, artinya selain dia memang masih kecil, aku pun bebas mengeluarkan pejuhku di dalam mem*knya karena tidak akan hamil.

Lalu aku segera mendekatkan wajahku ke mem*k Dini. Mulai kujilati sedikit demi sedikit. Permukaan vaginanya begitu halus dan licin. Kumasukkan sedikit lidahku ke dalam lubang kenikmatannya, lalu kuputar putar.

“ahhh…. om… enakkk…….” Dini makin tak bisa menyembunyikan kenikmatan yang direguknya. Pada saat yang bersamaan Sari tak mau tinggal diam. Ia membersihkan sisa air pejuhku yang tersisa di batang kemaluan. Setelah bersih ia mulai mengulumnya. Senjataku yang tadi mengerut kecil setelah mereguk kenikmatan, sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali. Aku sendiri kini mulai mengalihkan jilatanku kembali ke toket Dini yang mungil itu.

“Din, boleh ya om masukin kont*l om ke mem*k Dini?” aku berbisik perlahan.
“tapi om ntar Dini hamil?”
“Ga akan Din, kamu kan belum mestruasi, jadi ga akan hamil…” terangku.
“Tapi om katanya sakit kalau dimasukin?”
“Ga akan Din, dijilati aja udah enak apalagi kalau dimasukin…” terangku lagi meyakinkan.

Tanpa menunggu jawaban, aku mulai melepaskan batang kemaluanku dari hisapan Sari. Kini mulai kuarahkan ke mem*k Dini yang supermungil itu. Sangat perlahan aku masukan sedikit demi sedikit. Benar saja, sungguh susah memasukannya. Tapi kurasakan memiaw Dini sudah basah. Ini satu modal agar kont*lku bisa menyelusup.

“sakit Din?”
“nggak om.. terus aja masukin pelan-pelan….”
Kini tongkolku sudah setengah masuk ke mem*k Dini.
“Sakit Din?” tanyaku lagi.
“nggak om, terus saja masukin….”

Ajaib, Dini yang kupikir akan merasakan sakit ternyata tidak. Ia begitu pandai merasakan kenikmatan yang baru pertama dialaminya. Kini konto*lku sudah masuk semua. Mulai kumaju mundurkan perlahan-lahan. Kurasakan dinding vagina Dini begitu hangat dan mulai bergerak memilin milin. Ah sungguh nikmatnya. Ternyata dinding vagina Dini begitu responsif saat ditimpa kenikmatan. Aku semakin kencang memaju mundurkan kont*lku.

“Ommmm… enak sekali ommmm……. shmmmmm” erang dini.
“Iya Din, mem*k kamu juga enak banget,……” desisku.
Sementara itu Sari yang menyaksikan aksi kami mulai terangsang kembali juga. Ia memasukkan jarinya sendiri ke dalam mem*knya untuk masturbasi.

“Om terusss ommm…. “
“Ommm… Dini kenapa ommmmmm…. ahmmmm……”
“tahan din kita keluar bareng bareng…….”
“ooommmmmmmmmmmmmm…………………… ahhhhhhhhhhh……….”
“Diniii…. ahhhhhhhhhhhhh….”
Crot crotttt…………. air maniku tak terbendung membanjiri vagina Dini. Dari belakang tiba tiba Sari memeluk pingganggku erat-erat. Rupanya dia pun baru saja merasakan ejakulasi akibat masturbasi yang dilakukannya. Lalu kulihat mem*k Dini dan sprei di bawahnya, ternyata tak ada bercak dara. Dari buku sex education yang kubaca, hilangnya keperawanan memang tidak selalu ditandai dengan keluar darah.

Habis menikmati kenikmatan yang tak terkira itu kami bertiga saling berpelukan sambil telanjang. Beberapa lama kemudian aku segera memakai baju kembali. Kalau kelamaan takut mertuaku keburu kebangun dan melihat aksiku. Dari saku celanaku lalu kuambil uang beberapa lembar ratusan ribu.

“Sar, Din, ini buat kalian jajan ya bagi dua. Ini ga ada hubungannya dengan kejadian tadi loh… Ini ikhlas aku berikan untuk kalian berdua…”
Kulihat Dini sangat girang sekali. Sepertinya ia baru pertama kali akan memegang uang sebanyak itu.
“makasih ya om…. tapi boleh ga kalau Dini minta yang seperti tadi lagi?” tanyanya sambil berkedip manja.
“tentu boleh sayang…” ucapku senang, “tapi dini nggak boleh bilang siapa-siapa.
“Pastinya Om,” jawab Dini.

BERSAMBUNG KE EPSISODE 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s