When The Devil Comes (1)

Posted: December 15, 2011 in CerBung, Kakak - Adik

Suasana di ruang makan ini terasa hangat dan penuh dengan keakraban keluarga. Derai canda tawa keluarganya membuat hati Fitri terasa gembira. Wanita cantik yang baru berumur 22 tahun itu tersenyum saat melihat wajah ayahnya, Suparno, bersinar ceria. Sejak kematian ibunya dua tahun yang lalu, Fitri merasa ayahnya selalu terlihat kesepian dan murung. Fitri dan suaminya, Farrel, memang tinggal di Jakarta setelah mereka menikah tiga tahun yang lalu. Begitu juga dengan kakaknya, Sarah, yang mengikuti suaminya, Joko,
tinggal di Surabaya.
WALAUPUN masih ada adik laki-lakinya, Bimo, yang menemani ayahnya di Bandung sini, tapi Fitri merasa ayahnya masih merasa kesepian. Dan sekarang kesepian di hati ayahnya seakan sirna dengan kehadiran semua anak dan mantunya di rumah ini. Apalagi dengan kehadiran si kecil, Indi, anak dari kak Sarah. Ayahnya seakan tak pernah bosan menimang balita yang masih berumur 1 tahun itu.

“Say, makan dulu dong. Entar kamu sakit lho.”, kata Farrel sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauknya kehadapan Fitri. Fitri tersenyum manis melihat suaminya itu. Farrel memang selalu romantis dan perhatian, yang membuat Fitri selalu mencintai suaminya itu. Bahkan dia rela melepaskan cita-citanya untuk menjadi model atau pemain film ketika Farrel meminangnya ketika Fitri baru lulus SMU. Padahal berbekal wajah cantik, tubuh tinggi semampai bak model-model catwalk, serta bakat aktingnya yang terasah lewat sanggar teater yang diikutinya, jalan Fitri untuk meraih cita-citanya itu sudah terbuka. Dulu juga ada modeling agency profesional di Jakarta yang sudah bersedia mengontraknya menjadi model profesional. Tapi semua itu dia lepaskan, karena Farrel, lelaki yang sangat dicintainya meminangnya dan ingin dia menjadi ibu rumah tangga biasa saja.

“Aduh! Kalian benar-benar pasangan serasi ya. Sudah tiga tahun menikah tapi mesranya kayak masih pengantin baru aja he… he… he…”, goda Sarah.

“Ih, kak Sarah, apaan sih….”, kata Fitri malu. Wajah Fitri merah mendengar godaan kakak perempuannya itu. Sarah tertawa melihat adiknya salah tingkah.

“Mmm… kamu nggak usah godain Fitri terus. Kalo kamu mau kita bisa bulan madu lagi kok. Papi juga pasti senang kalau punya cucu lagi selain Indi.”, kata Joko sambil merangkul istrinya dengan mesra. Kini ganti wanita cantik itu yang tersenyum malu.

“Sudah jangan bercanda terus, makan dulu. Farrel, adik kamu Cindy disuruh makan juga dong.”, kata Suparno.

“Iya, Pi.”, jawab Farrel yang segera menyuruh Cindy, adik perempuannya, untuk mengambil makanan. Cindy, adik perempuan Farrel yang baru berumur 17 belas tahun sebaya dengan Bimo, ikut berkunjung kesini karena kebetulan sekarang sedang libur sekolah. ABG cantik yang masih SMU itu senang bisa ikut liburan kesini, apalagi disini ada Bimo yang sebaya dengannya dan bisa mengantarnya keliling kota Bandung. Keluarga itu kemudian makan malam dengan gembira. Setelah makan malam, mereka bercengkrama dan bercanda dalam kehangatan suasana kekeluargaan. Tapi tiba-tiba…..BRAAAAKKK

“JANGAN BERGERAK!!! SEMUANYA DIAM DAN JANGAN MELAWAN.

Pistol ini bukan pistol mainan, kalau ada yang melawan, gue nggak akan segan-segan ngebunuh kalian semua.”, teriak seorang lelaki tak dikenal yang tiba-tiba saja mendobrak masuk ke ruang makan itu. Laki-laki itu mengancam sambil menodongkan sepucuk pistol. Laki-laki itu masuk bersama dengan dua orang temannya yang juga bersenjata pistol. Teriakan ketakutan segera terlontar dari para kaum hawa yang ada di ruangan itu. Farrel dan Bimo berdiri kelihatan seperti mau melawan tapi..DOORR…PRANGG…. Suara letusan pistol terdengar keras. Farrel dan Bimo segera mengurungkan niat mereka melakukan perlawanan. Untung saja peluru pistol itu tak terarah ke mereka tapi ke televisi kecil yang ada di pojok ruangan ini, membuat tivi itu hancur berantakan. Para wanita yang tadi berteriak-teriak menjadi terdiam ketika mendengar suara tembakan itu, mereka hanya menangis ketakutan.

“Apa mau kalian? Kalian boleh ambil apa saja yang kalian mau, tapi tolong jangan usik keluarga kami.”, kata Farrel.

“Ha.. ha.. ha… tenang. Selama kalian tidak melawan dan mau menuruti perkataan kami maka tidak ada satu orang pun yang akan terluka. Chelsea. Barong. Kalian ikat mereka semua dengan tali agar tidak bisa melawan.”, kata si Brewok kepada dua orang temannya. Dua orang itu segera mengikat Fitri dan keluarganya dengan tali yang sepertinya sudah mereka siapkan. Tak lama kemudian seluruh anggota keluarga yang naas itu sudah terikat erat di masing-masing kursi mereka. Mulut mereka juga disumpal dengan saputangan sehingga tak bisa bersuara. Meja makan besar itu mereka singkirkan hingga keluarga itu kini duduk terikat dengan posisi mengelilingi ruang kosong di tengahnya.

“Ha…ha…ha… kayaknya kali ini kita nggak salah pilih. Rumah ini ternyata sarang bidadari ha.. ha..ha…”, kata si Brewok yang kelihatannya merupakan pemimpin gerombolan itu.

“Bener banget, Juk. Loe emang jago ngincer target. Sekarang cepet loe ambil pilihan loe siang tadi, gue sudah nggak tahan nih.”, kata laki-laki botak yang bertubuh agak gendut.

“Oke Rong. Loe tahan dulu nafsu loe.”, kata si Brewok sambil menghampiri Fitri. Dia melepaskan ikatan FitrI sambil terlebih dulu mengancamnya agar tidak melawan. Wanita muda itu terlihat ketakutan.

“Rong, loe jaga dulu disini. Biar gue sama Chelsea yang ngasih briefing buat si cantik ini.”, kata si Brewok sambil menarik Fitri menuju ruangan lain.

Laki-laki yang satunya lagi yang berbadan tinggi besar dan berkulit hitam memakai kaos bola Chelsea mengikuti mereka ke ruangan itu yang ternyata adalah ruangan tamu.

“Apa mau kalian? Tolong jangan apa-apakan kami. Kalian boleh ambil semua uang atau perhiasan yang kami punya, tapi tolong lepaskan kami.”, kata Fitri. Fitri bukanlah wanita bodoh.

Dia bisa menerka dari percakapan mereka tadi kalau yang diinginkan gerombolan ini bukan hanya uang dan harta. Pandangan mereka yang bagai serigala lapar terlihat selalu melihat ke arahnya, kak Sarah, ataupun Cindy. Fitri seakan tahu bahwa nasib yang akan menerpa dirinya dan para wanita disini merupakan hal yang paling tragis bagi para kaum hawa.

PERKOSAAN.

Tapi Fitri berharap kalau perkiraannya itu salah, dan bajingan-bajingan itu hanya menginginkan harta dan tidak mengganggu mereka.

“He..he..he… Kami sama sekali tak butuh uang, cantik he..he..he…”, kata si Brewok.

“La…lalu apa yang kalian inginkan? To… tolong jangan ganggu kami.”, kata Fitri memohon. Airmata mulai menetes lagi dipipinya ketika dia menyadari kalau apa yang menjadi perkiraannya ternyata benar.
“Apalagi yang diinginkan laki-laki seperti kami dari wanita cantik seperti kamu dan dua bidadari lagi yang ada di ruang sebelah he..he.. he…”, kata si Brewok sambil tertawa. Fitri pun menangis karena dia sangat paham apa yang mereka inginkan. Si Brewok dan temannya hanya membiarkan wanita itu menangis. Sekitar lima menit Fitri menangis sebelum akhirnya dia menenangkan dirinya.

“Baik. Kalian boleh lakukan apa saja kepadaku, tapi tolong jangan ganggu kak Sarah ataupun Cindy.”, kata Fitri. Wanita cantik itu akhirnya mengambil keputusan bahwa cukup dia saja yang harus mengalami musibah ini. Kak Sarah dan, terutama Cindy yang masih perawan tak usah mengalami nasib mengenaskan seperti dia.

Si Brewok tertawa mendengar perkataan Fitri.

“Wanita pintar. Tapi sebelum itu, lebih baik kamu lihat ini dulu. Chelsea, kemariin kameranya.”, kata si Brewok sambil mengambil sebuah kamera digital dari temannya. Dia lalu menunjukkan pada Fitri sebuah rekaman yang tersimpan di memori kamera itu.

“AAKKKHHH………”, Fitri menjerit. Wanita itu sangat shock ketika melihat rekaman itu. Rekaman itu menunjukkan rekaman si Brewok yang sedang memperkosa seorang wanita di hadapan keluarganya. Wanita itu kelihatan menderita dan menangis. Kemudian dia melihat si Brewok mulai marah-marah lalu terlihat adegan yang membuatnya shock sampai ingin muntah. Si Brewok dengan kejamnya membunuh semua anggota keluarga itu dengan pistolnya. Pria, wanita, bahkan anak kecil pun tak luput dari tangan kejam si Brewok.

Fitri menangis, wajahnya pucat pasi, tubuhnya lemas sampai dia terjatuh dari kursi dan meringkuk di lantai.

“Itu adalah contoh apa yang akan terjadi bila kamu tidak mau menuruti perintahku. Kamu dan wanita yang lainnya tetap akan aku perkosa, kemudian aku bunuh. Lalu aku juga akan membunuh semua keluargamu, termasuk bayi yang tadi siang aku lihat. Dimana dia? Dikamar atas??? Jangan kuatir kami pasti akan menemukan dia. Mmm…. aku minta kamu menuruti semua perintahku tanpa ragu, kalau tidak hal yang seperti kamu lihat barusan akan menimpa keluargamu. Aku beri kamu waktu sepuluh menit untuk berpikir.

Jangan kecewakan aku he he he…”, bisik si Brewok dengan suara dingin di telinga Fitri yang masih menangis dan shock. Selama sepuluh menit itu, Fitri dilanda dilema atas tragedi yang menimpa dirinya itu. Dia sangat mencintai keluarganya, terutama Farrel suaminya. Bahkan dia rela melakukan apa saja untuk kebaikan keluarganya. Tapi masalahnya dia tak tahu apa yang diminta si Brewok agar dia mau melepaskan keluarganya. Perasaannya mengatakan, apapun itu tentulah sesuatu yang mengerikan.

“Waktu sudah habis. Sekarang cepat kamu katakan apa keputusan kamu?”, kata si Brewok.

“Ngg… ka…kalau aku lakukan semua yang kamu minta, apa kamu akan melepaskan aku dan keluargaku?”, kata Fitri setelah dia berhasil menenangkan dirinya.

“Jangan kuatir. Aku memang bajingan, tapi aku tak pernah ingkar janji.”, kata si Brewok. “Mmm… baik. Aku akan menuruti semua perkataanmu, tapi lebih baik jangan ingkari janjimu. Trus apa maumu?”, kata Fitri. Wanita itu sudah mengambil keputusan, dia akan melakukan apa saja demi keselamatan keluarganya karena dia sangat mencintai keluarganya. “Keputusan yang bagus ha.. ha… ha… Pertama-tama, kenalkan namaku Juki. Yang hitam itu, orang ambon, namanya Chelsea. Dan si Gendut yang bersama keluargamu itu namanya Barong. Sekarang kamu sebutkan siapa nama kamu dan semua orang yang ada di ruang makan, dan juga jelaskan apa hubungan kalian, suami, kakak, adik, atau yang lainnya.”, kata Juki.

Fitri pun segera menuruti perintah Juki. Wanita cantik itu menceritakan nama dan hubungan keluarga diantara dia dan keluarganya yang lain, meskipun dia masih bingung apa mau Juki sebenarnya. “Sekarang buka semua pakaianmu!”, perintah Juki. Fitri pun melakukannya walaupun dalam hatinya dia merasa sangat malu dan terhina. Satu-persatu, pakaian yang melekat ditubuhnya, dia lepaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s