Akibat ke dukun 2

Posted: April 11, 2012 in CerBung, Ibu
Tags:

Di sekolah aku tidak bisa konsen. Aku terus terbayang keindahan tubuh Mamaku dan nikmatnya mengentoti tubuh mulus itu. Kulit Mama begitu halus dan lembut. Ototnya begitu kenyal tanda berolahraga. Aroma tubuhnya begitu harum terasa menusuk hidung. Namun aku belum puas. Aku ingin menciumi tiap jengkal tubuh Mama. Ingin kurasakan seluruh kulitnya di lidahku. Ingin aku mengecap tubuhnya yang seksi itu.
Pikiranku mencoba mencari cara untuk mendapatkan Mama. Bagaimana caranya agar ia mau dicumbu olehku. Sepanjang jam pelajaran otakku berputar-putar untuk mendapatkan jalan keluar masalah ini. Bahkan, cewek gebetanku selama ini yang bernama Siska tidak aku pedulikan. Siska berusaha mengajakku ngobrol waktu bel istirahat. Namun aku hanya menjawab sekedarnya dan lalu tampaknya ia mengerti aku sedang tidak mood sehingga akhirnya ia menyerah dan berlalu.
Aku dikagetkan ketika sedang berjalan ke arah mobilku oleh Siska. Ia memojokkanku dan berkata,
“Ken. Elo kok jadi pendiam akhir-akhir ini. Siska lihat kamu sekarang suka menyendiri dan tidak mau bergaul?”
Aku yang sedang pusing memikirkan cara menaklukkan Mama, menjadi sedikit geram. Siska adalah cewek Menado yang tinggi semampai dan berbadan aduhai. Dia adalah model paruh waktu yang terkadang muncul di majalah remaja perempuan. Walaupun bukan untuk cover majalah, namun dia terkadang suka difoto untuk produk-produk baju remaja. Cukup lama aku mengejar cewek ini. Namun dia suka jual mahal. Kami hanya beberapa kali menonton film di bioskop dan makan di beberapa restoran terkenal. Akupun hanya mendapatkan cium pipi dan pegang-pegang tangan. Selebihnya Siska menolakku. Pernah aku mencoba menggerepe toketnya, Siska malah marah dan menamparku. Kami tidak bertegur sapa selama sebulan. Namun akhirnya aku minta maaf dan kami berteman lagi. Setelah itu kami biasanya sms-an seperti orang yang pacaran namun tidak lebih dari itu. Jadi bisa dibilang TTM.
Melihat Siska menghadangku begitu aku berkata ketus,
“Lo mau ngapain sih?”
Siska tampak terpukul oleh perkataanku dan di matanya kulihat ada kilatan marah mengancam. Katanya,
“Elo udah punya cewek baru ya? Ngaku deh!”
“Cewek baru? Emangnya gue selama ini punya cewek, apa?”
“Oh begitu? Jadi hubungan kita selama ini elo anggap apa?”
“Tau deh. Yang jelas bukan pacaran. Elo gue cium bibir aja nggak mau.”
“oke. Gue ngerti. Jadi sekarang elo udah punya cewek yang mau elo cium-cium gitu?”
“Apaan sih? Gue belum punya pacar sampai sekarang. Dari dulu juga enggak punya. Elo jangan belagak cemburu gitu deh. Pacar juga bukan. Udah deh, gue mau pulang.”
Aku bergegas meninggalkan Siska. Namun, tiba-tiba Siska memegang tanganku.
“Elo marah ya?” tanyanya kepadaku.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas aku sedang pusing mikirin Mamaku dan kini Siska yang cantik itu sedang menggelayuti tangan kananku, dadanya ditekan sehingga aku merasakan payudara kirinya menempel di lenganku itu.
“Sis. Gue udah cape. Tolong deh, jangan bikin gue frustasi begini. Kita temenan aja. Bener-bener temenan. Bukan flirting-flirting kayak gini. Gue udah ga tahan.”
“Emang elo ga tahan mau ngapain?” tiba-tiba saja suara Siska terdengar manja sekali. Kulihat wajah cantiknya, matanya yang belo menatapku begitu sayu, hidung mancungnya dikerutkan sementara mulutnya yang manis dimajukan, tampak menggoda sekali. Tiba-tiba saja aku merasakan kontolku ngaceng. Aku yang sedang frustasi karena Mama, menjadi gelap mata dan berkata,
“Gue mau perkosa aja, gimana?”
Siska terkejut mendengar kata-kata vulgarku. Pegangannya mengendur. Aku pikir sekarang doi sudah takut kepadaku. Aku sedikit lega lalu ku tarik lenganku dari pegangannya dan kemudian berjalan ke mobil tanpa berkata apa-apa.
“Ken….” Siska memanggilku. Dengan malas aku menoleh. Aku mendapatkan matanya berkaca-kaca.
“Lo kenapa Sis?”
“Kok elo jahat gini sih? Ngaku aja deh kalo kamu udah dapet cewek baru….”
Melihat Siska ternyata ada hati kepadaku, aku merasa sayang kalo kesempatan ini berlalu begitu saja. Maka kataku sambil mendekatinya,
“Sis. Gue belum punya pacar. Titik. Gue dari dulu ngejar-ngejar elo, tapi ga ada hasil sampai sekarang.”
“Kan Elo yang ga pernah nembak gue, Ken?”
“Soalnya gue ga ngerasa elo sayang sama gue. Buktinya dicium aja enggak mau. Gue pegang-pegang juga ga mau. Gue ga merasa elo cinta kepada gue sebesar cinta gue ke elo, Sis…”
Mulut Siska perlahan menunjukkan senyum kecil.
“Jadi elo cinta sama gue, gitu?”
Aku merasa kalau sudah basah ya nyebur aja sekalian. Maka aku menggombal dan bilang,
“Banget.”
Perlahan Siska berkata,
“Aku juga cinta sama kamu….”
“Siska,” kataku pelan,” Kita ini hidup di jaman modern. Sekarang cinta bukan sekedar kata-kata. Kalo elo emang sayang sama gue, elo harus membuktikannya.”
Ada semburat rasa takut kulihat di matanya. Siska mengerti bahwa aku ingin make love dengan dia. Maka aku menyambung,
“Dan kalau ada keraguan di pihak elo, sebaiknya kita sampai di sini saja.”
Siska tampak shock mendengar perkataanku dan hanya termangu dengan rasa takut di matanya. Aku yang melihat bahwa hasil dari percakapanku ini setidaknya berguna bagiku. Bila Siska tidak mau, aku jadi bebas memikirkan hubunganku dengan Mama, namun bila Siska mau aku akan mendapatkan tubuh cewek remaja ini. Siapa tahu dia masih perawan. Aku menjadi tertawa dalam hati.
Beberapa saat tak ada tanggapan darinya, aku segera berjalan meninggalkan Siska. Setidaknya tidak ada lagi yang mengganggu, pikirku. Aku bebas mencari cara untuk mendapatkan Mama. Namun, betapa kagetnya ketika aku mematikan alarm dan membuka pintu mobil, Siska tampak berjalan ke arah pintu yang satu lagi dan lalu membuka pintu itu dan duduk di sampingku. Wajahnya menunduk namun tak berkata apa-apa.
“Bokap sama Nyokap Lo di rumah?” tanyaku. Siska menggeleng. “Kak Sandra?”
Siska menggeleng lagi. Maka aku menjalankan mobilku menuju rumahnya. Sepanjang jalan tangan kiriku meraba-raba rok seragam sekolah Siska. Berhubung mobilku matic, maka tangan kiriku bebas berkelana. Kali ini Siska tidak menolak, bahkan ketika tanganku dengan bernafsu menarik rok itu ke atas dan menyusup ke dalam. Paha Siska yang putih dan halus kuraba-raba. Siska seperti belagak tidak tahu dan hanya menatap jalanan yang kami lalui.
Ketika tangan kiriku mulai naik, kulihat dada Siska mulai naik turun lebih cepat. Entah karena horny atau sedang ketakutan aku tidak tahu. Namun tidak ada penolakan dari Siska. Siska tetap diam saja sambil melihat jalanan. Aku lalu mengobokkan tanganku ke selangkangannya. Celana dalam Siska halus sekali. Aku membelai-belai memeknya yang ada di balik CDnya itu. Siska mulai mendesah-desah. Aku ingin sekali menggagahinya saat itu juga, namun dengan sekuat tenaga kutahan birahiku itu.
Akhirnya kami sampai di rumah Siska. Celana dalamnya sudah basah oleh cairan kewanitaannya. Bau kelamin Siska mulai tercium di kabin mobil. Bau tubuh Siska berbeda dengan Mama, namun keduanya bagiku sungguh harum dan memabukkan. Kepalaku sudah pusing tujuh keliling dan waktu bergerak cepat sekali.
Kami tahu-tahu sudah ada di kamarnya. Pembantu-pembantu Siska sedang asyik mengurus rumah. Siska adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuan yang sulung sudah kuliah semester empat dan jarang di rumah karena aktif di kampusnya. Papa Mama Siska adalah tipikal orang kaya yang jarang di rumah pula. Sehingga menjadikan rumah Siska tempat yang tepat untuk memadu kasih. Apalagi hari itu Papa dan Mamanya sedang ke Singapura.
Siska berdiri menghadapku dengan seragam sekolahnya. Tinggi badannya 168 cm. sedikit lebih pendek dariku. Tubuhnya proporsional. Dadanya tidak besar, bahkan terlihat lebih kecil dari Mamaku. Namun tetap saja cukup mancung di balik bajunya. Entah karena BH atau tidak, aku akan segera mengetahuinya.
Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Kucium bibirnya. Kurasakan ia memberikan perlawanan dengan bibirnya walaupun dalam pengamatanku perlawanannya itu tidak begitu hot. Entah karena Siska malu atau memang tidak begitu berpengalaman. Perlahan tangannya mulai merangkulku. Kumainkan lidahku perlahan untuk menyapu bibirnya. Tak lama lidah Siska ikut bermain pula. Kami asyik bertukaran ludah selama beberapa saat.
Aku melepaskan rangkulanku dan menarik tangannya sehingga rangkulannyapun terlepas juga. Dengan perlahan aku membuka kancing seragam sekolahnya. Siska memejamkan matanya. Perlahan-lahan kemejanya terlepas. Aku dapat melihat BH putihnya. Lembah antara kedua dadanya terlihat menyembul di balik kemeja yang kancingnya telah terlepas. Kulitnya begitu putih. Aku melepaskan kemeja sekolahnya dan melemparnya ke lantai. Kini Siska hanya memakai BH putih yang menutupi tubuh atasnya. Kedua payudaranya begitu bulat dan menonjol tampak naik turun seiring nafasnya.
Aku kemudian merangkul tubuhnya untuk melepaskan pengait roknya yang berada di belakang. Kubuka resletingnya, lalu dengan tarikan perlahan akhirnya rok seragam abu-abu itu jatuh ke lantai. Kini gadis tercantik di sekolahku berdiri hanya menggunakan BH dan CD putih.
Perlahan aku membuka BHnya. Kulempar BH itu setelah pengaitnya terlepas. Aku menahan nafas melihat kedua payudara putihnya yang bulat tegak dengan puting yang masih rata dengan areolanya menghiasi kedua gunung kembarnya dengan sempurna. Letak pentilnya hampir tempat di tengah-tengah. Berhubung payudaranya tidak besar maka tidak terlihat turun seperti halnya perempuan yang memiliki toket gede. Payudara ini tampak begitu tegak menantang. Payudara yang belum pernah diremas oleh lelaki.
Aku mencium tetek Siska yang sebelah kiri dengan perlahan, tepat di bulatan bagian atasnya. Siska mendesah perlahan. Kulitnya begitu halus dan kenyal. Bau parfum Davidoff begitu manis tercium dari kulitnya. Aku menciumi sekujur toket Siska yang bulat itu dengan gerakan searah jarum jam, menghindari pentilnya yang merah muda. Siska memeluk kepalaku. Lalu setelah puas menciumi sekujur toket kirinya, aku mulai menjilati gundukan kenikmatan itu.
“mmmmmhhhhhh……..” Siska menggumam-gumam keeenakan saat lidahku mulai menjilati bukitnya itu. Lidahku bagaikan menari di atas kain sutera yang begitu halus dan harum. Mulutku tak sabar mulai menyedoti gundukan itu. Kusedot dan kuhisapi payudara kiri Siska hingga tak lama bekas cupanganku tercetak di sana-sini.
Sementara, tanganku mulai menarik tali celana dalamnya ke bawah. Dengan bantuan kaki kananku, aku menginjak celana dalam Siska saat CD itu sudah di lututnya. Kemudian aku melepaskan rangkulanku dan mundur selangkah untuk melihat pemandangan indah di hadapanku.
Siska telanjang bulat di depanku dengan wajah yang malu-malu ditundukkan. Kulihat jembut Siska tidak selebat jembut Mama. Namun tampak jembut itu dicukur rapi segitiga. Bibir luar vaginanya atau labium majoranya tampak terlihat rapat tertutup di bawah jembutnya yang keriting itu.
Birahiku sudah tinggi sekali. Aku segera melepaskan bajuku secara tergesa-gesa. Pakaianku kulempar dengan cepat sehingga berjatuhan di lantai di sana-sini. Aku gendong Siska sambil kuserang bibirnya, lalu aku setengah terjun ke tempat tidurnya.
Aku sudah mabuk oleh birahi, sehingga nafsuku menjadi liar. Kujilati seluruh wajah Siska mulai dari kepala sampai dagu. Bahkan lubang hidung Siska beberapa saat ku rogoh dengan lidahku. Aku ingin merasakan seluruh jengkal wajah cantik gadis ini. Aku sungguh merasa beruntung, karena gadis model ini mau disetubuhiku.
Mulutku mulai bergerak menjelajahi lehernya. Tak lama leher Siska sudah bau mulutku dan dipenuhi ludahku. Cupanganku mendarat di berbagai tempat di lehernya dan meninggalkan bekas di sana-sini. Tubuh ini adalah milikku dan cupanganku adalah tanda bahwa lahan ini sudah dimiliki. Bukan lahan pribumi tentunya, karena aku keturunan Tionghoa. Hahahah.
Lalu mulutku mulai menggarap dadanya. Lembah antara kedua bukit kembarnya begitu seksi karena terlihat begitu dalam disebabkan payudaranya yang begitu mancung dan agak berjauhan. Ada tahi lalat kecil di lembah payudaranya. Tak lama lembah itu penuh dengan liur dan bekas cupangan. Siska mulai mengerang kecil sambil menyebutkan namaku.
“aaaahhhh….. Keeeen…………. Aaaaaaahhhhhh”
Kemudian mulutku mulai mengembara di payudara yang sebelah kanan. Berhubung toket kirinya sudah penuh cupanganku. Kujilati gundukannya terlebih dahulu, karena inilah kesukaanku. Aku suka menjilati gundukan terlebih dahulu sebelum akhirnya bercokol di pentil perempuan. Kukenyot-kenyot tetek kanan Siska dengan penuh nafsu sementara Siska memeluk erat kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Setelah cukup mencupangi dada kanannya itu, aku mulai menyedoti pentil Siska. Yang menggemaskan adalah karena pentil itu masih kecil sehingga kini walaupun sudah kusedot-sedot, pentil itu hanya sedikit saja menonjol.
Cukup lama aku mengenyoti payudara Siska yang imut itu. Akhirnya aku mulai menjilati perut gadis itu. Aku mengenyoti pusarnya yang tampak menggairahkan. Pusarnya bagaikan celah yang sempurna. Kusodoki celah itu dengan lidahku, kukenyoti celah itu, sementara bau tubuh Siska mulai memenuhi ruangan. Kugerakkan mulutku ke bawah lagi, dan lidahku mengenai bulu kemaluannya. Kusedoti jembut Siska yang jarang dan keriting itu sementara Siska mulai bertambah keras erangannya. Atau bisa saja dibilang bahwa sekarang Siska mulai melenguh. Memek Siska kini mengeluarkan bau badannya dengan hebat sekali hingga hidungku seakan dipenuhi bau tubuhnya itu.
Aku beringsut duduk dan membuka pahanya lebar-lebar. Bibir luar memeknya masih rapat sekali. Dengan kedua jempolku kubuka bibir luar itu dan melihat kemaluan Siska yang merah muda dan basah mengkilat. aku menerjunkan lidahku ke dalam vagina Siska yang mengeluarkan bau menggiurkan. Siska melenguh keras,
“Uuuuuuuhhhh……. Enak Saaaayyyyyy…………..”
Baru kali ini kudengar kata-kata ‘say’ keluar dari bibir Siska. Aku kini paham bahwa gadis ini sudah jadi milikku sepenuhnya hari ini. Apalagi bila aku telah menyetubuhi Siska, tentu akulah yang akan menjadi satu-satunya lelaki di dalam hidupnya.
Kunikmati air kemaluan Siska. Lubang memeknya begitu lembek, hangat dan basah. Mulutku kini sudah basah oleh cairan vagina Siska. Bau tubuh Siska begitu kerasnya sehingga walaupun sudah bercampur dengan air liurku, bau mulutku tidak tercium sama-sekali di kemaluannya. Hanya bau tubuh Siska yang dapat tercium di hidungku. Inilah mengapa aku suka sekali menjilati kemaluan perempuan. Aku tidak harus terganggu dengan bau mulutku sendiri. Maka cukup lama aku menjilati dan menyedoti memek Siska hingga Siska mulai berteriak kecil dan pinggulnya mulai bergerak untuk menekan memeknya ke mulutku.
Aku pikir sudah saatnya menuntaskan rasa hausku akan tubuh Siska. Maka aku segera mengarahkan kontolku ke lubang memeknya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menopang badanku yang telah kugerakkan sehingga berada di atas tubuh Siska. Aku sodok pantatku sehingga tahu-tahu kepala kontolku melesak ke dalam.
Memek Siska sangat sempit. Dinding vaginanya menjepit kepala kontolku dengan begitu kuatnya sehingga ada rasa linu yang kurasakan. Namun dipihak lain, kemaluan Siska demikian hangatnya dan lembab sehingga menimbulkan sensasi yang begitu nikmat. Siska menjerit kecil lalu merangkulku erat-erat.
“Sakiiiit saaaay……………”
Aku menindih Siska dengan kedua tangan di samping sehingga sedikit membagi beban agar Siska tidak menopang tubuhku seratus persen. Kucium bibirnya dengan rakus. Siska meremas-remas rambutku sambil membalas ciumanku juga dengan penuh nafus. Kusodok lagi kontolku, namun kontolku tertahan oleh selaput daranya. Siska melepaskan ciumannya dan berteriak kecil lagi,
“Sakkiiiiiittttt…………..”
Dengan suara perlahan aku bujuk dia,
“Sayangku……. Nanti aku sodok kuat-kuat supaya keperawanan kamu jebol. Pasti akan sakit. Tapi aku janji nanti akan jadi enak. Oke?” karena sudah tumbuh cintaku pada Siska yang selama ini terpendam, aku mulai mengganti elo gue menjadi aku kamu.
Dengan dahi berkerut menahan sakit dan mulut bawah yang digigit Siska mengangguk. Pelukannya begitu erat kurasakan. Aku segera menyusupkan tanganku di kedua pantatnya, lalu dengan sekuat tenaga aku menghantamkan pantatku ke depan sehingga robeklah selaput daranya dan seluruh kontolku amblas masuk ke liang senggama Siska.
Siska berteriak sambil memelukku dengan kedua tangan dan kakinya. Kakinya merangkul paha belakangku erat-erat. Kurasakan memek sempit Siska menggenggam kontolku erat sekali. Kontolku senat-senut jadinya.
“Kalau udah reda sakitnya, kamu goyang pantatmu maju mundur, ya Say?”
Siska hanya mengangguk sambil tetap meringis dan memejamkan matanya. Aku memeluknya dan mencium bibirnya. Siska membalas pagutanku dan untuk beberapa lama kami berciuman dengan perlahan. Makin lama, ciuman Siska makin hot. Lidahnya mulai menyapu-nyapu dengan cepat. Dan nafasnya mendengus-dengus di hidungku. Akhirnya kurasakan pantat Siska mulai bergoyang. Pertama kalinya perlahan, dan makin lama makin terasa sodokan pantatnya. Memek Siska pun mulai mengeluarkan pelumas lagi sehingga kontolku mulai licin terkena cairan kemaluannya.
Maka aku mulai membalas goyangan pantatnya dengan tusukan pantatku sendiri. Karena Siska baru pertama kali ini ngentot, maka mula-mula susah juga untuk menyeragamkan gerakan kami berdua, namun lama kelamaan kami berdua mulai menemukan irama ngentot yang tepat. Kontolku mengocoki memeknya yang sempit dan hangat itu berkali-kali. Selangkangan kami terus beradu mengeluarkan bunyi tamparan yang semakin lama semakin keras terdengar. Siska mulai terbiasa ngentot, bahkan kini mulutnya tak mau tinggal diam dan mengimbangi jilatan dan hisapanku. Bahkan kala aku mengenyoti leher dan pundaknya, Siska menciumi dan menjilat pipi dan jidatku. Siska mulai melepaskan nafsu binatang yang dimiliki manusia tanpa malu-malu lagi.
“Enak yang?” tanyaku.
“he-eh…” jawabnya.
“Memek kamu rapet banget…….”
“Ih ngomong jorok…… burung kamu aja yang gede, yang.”
“Burung apaan? Kontol……. Bilang aja kontol……..”
“Ihhh… jorok!”
“Aku marah nih….. aku pulang nih……….”
“Ah…… kamu jahat………….”
“Bilang dong kontol………..”
“Kontoooolll…………..”
“Gitu baru pacarku……”
Lalu aku kembali mencium bibirnya sembari mengentoti tubuh Siska yang sintal dan hangat itu.
Kedua tubuh kami sudah mengeluarkan keringat walaupun di kamar yang ber AC. Keringat kami bersatu padu, sementara di selangkangan kami, kedua keringat kami telah bercampur dengan cairan memek Siska dan darah dari selaput daranya.
Lama-kelamaan kami mulai mencapai puncak kenikmatan. Selangkangan kami mulai berbenturan dengan keras karena gerakan pantat kami yang makin cepat dan kuat.
“Yaaaaaang……………………………. Kenny sayaaaaaaaaaaaaaaaaaangggggg…………. Aku mau pipiiiiiiiiiiissssssss…………”
“Bukan pipis, neng…… itu mau sampeeeeeeeeeeeee………………… aku jugaaaaaaaaaaa……….”
Tiba-tiba Siska mencengkram tubuhku kuat-kuat dan kurasakan kemaluannya yang sempit itu bagaikan bergetar bagaikan orang yang sedang kedinginan. Dinding memek Siska bagaikan bernafas cepat yang menyedot-nyedot kontolku. Jebol sudah birahiku, aku akhirnya ejakulasi berkali-kali di dalam kemaluan pacarku yang cantik itu.
Untuk beberapa saat kami bertindihan lemas setelah masing-masing mencapai klimaksnya. Aku segera berbaring di sebelah tubuh telanjang Siska agar tidak menindihnya terlalu lama. Beberapa saat kami terdiam hingga akhirnya Siska berkata,
“Kalau aku hamil, gimana?”
Aku hanya tersenyum dan berkata,
“Ya kita nikah saja. Gitu aja kok repot…..”
Siska menyergapku tiba-tiba dan memelukku.
“Oh Suamikuuuuuuuuuuuu…………..”
Kami asyik berpelukan dan bercanda sehingga tidak terasa sudah jam empat sore ketika Sandra menelpon Siska. Ternyata Sandra ada kegiatan kampus sehingga baru pulang besok. Kebetulan sekali, pikirku. Maka kami merayakan keberuntungan kami dengan melakukan hubungan seks lagi. Hari itu tiga kali kami berhubungan badan. Kami hanya break sebentar waktu maghrib untuk makan lalu kami kembali bergumulan di ranjang Siska. Tidak hanya seks, tapi kami juga bercanda dan membicarakan banyak hal layaknya orang pacaran.
Ketika itu sudah pukul delapan malam kala kami baru saja selesai berhubungan seks kali ketiganya saat tiba-tiba HPku bordering. Siska yang cepat-cepat mengambil HPku sambil berkata curiga,
“siapa sih yang telpon malem-malem?”
Namun saat Siska melihat nama yang muncul di layar HP, ia segera memberikannya kepadaku lalu berkata,
“Mamamu……. Aku mandi dulu ya, Say…….” Lalu Siska bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
“Halo,” Kataku.
“Koko….. kamu di mana?”
“Di rumah teman…..”
“Kok belum pulang sih?”
“Tanggung nih, Ma…….”
“Kamu di rumah siapa?”
Aku menimbang-nimbang apakah akan jujur atau tidak. Namun ide brillian tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Lalu aku menjawab,
“Di rumah Siska……”
“Siska? Siapa itu? Pacar kamu?”
“Iya, Ma. Emang kenapa?”
“Kok wakuncar bukan di week end? Ini kan hari sekolah…. Emangnya orangtua Siska ga marah?”
“Enggak lah, Ma. Orangtuanya kan di singapura…”
“Di sana ada siapa? Ada Kakaknya?”
“Ya enggak lah. Yang ada Cuma Siska, Koko sama pembantu-pembantunya Siska…”
“Apa? Kamu lagi ngapain?”
“Koko lagi tiduran”
“Tiduran?”
“Iya, di kamarnya Siska.”
“Apaaaa????”
“Udah lah, Ma. Koko kan bukan anak kecil lagi. Udah dewasa. Biasa aja kali, Ma.”
“Koko…… kamu berhubungan seks sama dia?”
“Iya, dong. Ma. Kan Siska pacar Koko.”
“Kamu itu! Kamu masih kecil! Gimana kalo dia hamil?”
“Masih kecil? Koko udah dewasa Ma. Koko udah pernah gituan sama Mama, kan?”
Mama terdiam. Mungkin sedang bingung harus ngomong apaan. Akhirnya Mama berkata,
“Pokoknya kamu sekarang harus pulang.”
“ga mau ah…. Koko mau nginep di sini aja.”
“Apaaa? Kamu ga mau pulang?”
“enggak.”
“Koko! Kamu harus bantu di rumah! Kamu mau jadi orang miskin?”
“Bantu apa, Ma?”
“Jangan belagak bodoh, Ko! Kita harus melakukan ritual kalau ga mau sengsara!”
“Maksud Mama, Koko harus ngentot sama Mama, kan?”
“Anak kurang ajar! Ini Mama kamu, masak ngomong begitu?”
“Ritualnya kan ngentot, Ma. Emangnya ngapain?”
“Kamu jadi bandel begini Ko!”
“Pokoknya Koko ga mau ngentot sama Mama! Ga mau!!!”
Mama terdiam. Ada jeda beberapa saat sebelum Mama berteriak lagi,
“bagus! Kamu anak durhaka! Kamu senang ya kalau kita jadi melarat?!”
Aku belagak terdiam sebentar lalu menarik nafas.
“Sebenarnya Koko ga mau kita melarat, Ma,” kataku pelan,” tapi untuk ngentot sama Mama, koko rasanya ga enak saja”
“Maksud kamu?”
“Abis, setiap kali kita ngentot masa pakai baju, terus ga boleh cium lah ga boleh beginilah begitulah, Koko ga merasa nyaman.”
“Habis mau kamu apa?”
“Koko kalau ngentot sama Siska ngerasa asyik sekali. Karena bisa ciuman dan pegang-pegang sebebasnya. Tapi kalau sama Mama kayaknya gimana gitu. Ga ada kebebasan….”
Mama terdiam agak lama. Lalu Mama berkata perlahan,
“Ya udah, kamu pulang sekarang. Terserah deh kamu mau ngapain…..”
Lalu mama menutup telpon. Aku bersorak kegirangan. Akhirnya aku buru-buru berpakaian. Aku pamit pada Siska yang sedang mandi. Siska pikir bahwa Mamaku concern dan ingin anak kesayangannya pulang sehingga akhirnya membiarkan aku pulang. Aku segera bergegas pulang ke rumah dengan memacu mobilku secepatnya.

BAB LIMA
MIMPI JADI KENYATAAN

Aku sampai di rumah pukul setengah sepuluh. Kamar tamu sudah gelap. Aku bergegas ke kamarku. Kulihat kamar Papa dan Mama masih menyala lampunya. Aku buka pintu kamarku dan kaget melihat Mamaku sedang tidur tanpa selimut di tempat tidurku dengan memakai gaun tidur mahal berenda yang mini dan sedikit transparan. Mama mematikan AC sehingga tidak kedinginan dan dapat tidur nyaman tanpa kedinginan. Bahkan, aku rasa udara di kamar cukup panas karena aku mulai sedikit berkeringat.
Gaun tidur Mama tampaknya sebatas setengah paha, namun karena posisi tidurnya miring maka bagian hemnya tertarik sampai di bawah pinggul. Sedikit pantatnya menyembul menunjukkan ia tidak memakai apa-apa. Dari pintu masuk aku hanya bisa melihat bagian belakang tubuh Mama. Aku segera menutup pintu lalu membuka seluruh bajuku.
Setelah telanjang, aku beringsut menghampiri Mama di tempat tidur.
“Baru datang?” Tanya Mama perlahan. Ternyata beliau belum tidur.
Aku tidak menjawab melainkan memeluk Mama dari belakang. Walaupun belum berhubungan seks, namun badan Mama sudah mengeluarkan bau tubuh tanpa ada campuran sabun maupun parfum. Kontolku ku tekan di belahan pantatnya. Mama menengok ke belakang.
“Kamu mau cium Mama?” tanyanya sambil mengangkat tangannya dan berbalik hingga kini tidur telentang menghadapku yang sedang tidur miring. Posisi kepalaku tepat di hadapan ketek Mama. Kini aku dapat melihat ketek Mama ditumbuhi bulu-bulu halus keriting, sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya karena hubungan kami berdua selama ini hanya seks tanpa eksplorasi. Dari ketiak itu tersebar aroma tubuh Mama. Apalagi ketiak itu kini lumayan basah, karena Mama yang biasanya di ruangan AC kini tidur di kamarku yang panas. Kulihat sekujur tubuh Mama juga sudah berkeringat sehingga membuat kulitnya mengkilat bak batu intan yang indah.
Aku mendekatkan hidungku ke ketek Mama.
“Terserah kamu mau ngapain. Tapi Mama kasih tahu ya, Mama hari ini belum mandi. Gosok gigi Cuma tadi pagi aja.”
Rupanya Mama berusaha membuatku mengurungkan niatku untuk mencumbu Mama dengan cara ini. Namun anehnya, aku menjadi kepincut bau tubuh Mama yang belum mandi ini. Aku tidak menjawab Mama melainkan segera menubruk Mama dari samping dan membenamkan wajahku ke ketek Mama yang berbulu itu.
Aroma tubuh Mama yang tajam memasuki hidungku hingga memenuhi benakku. Keteknya yang lembat membasahi ujung hidungku. Bulu ketek halusnya menggelitik indera penciumanku ini. Mama tampak kaget dan menarik nafas. Aku segera menjilati ketek Mama yang keringetan itu. Sementara, tanganku mulai menyusup dari bawah gaunnya dan merayap ke atas. Tangan kananku itu menemukan payudara kanan Mama setelah menyusup dan membuat gaun itu terangkat sampai ke tengah tubuhnya. Mama juga membantu dengan sedikit mengangkat tubuh sehingga gaun tidurnya secara mudah tertarik ke atas.
Setelah asyik menjilati ketek kanan Mama, aku segera duduk dan menarik gaun tidur Mama ke atas sampai terbuka. Mama duduk agar memudahkanku melucuti gaun tidurnya. Kini kami berdua telanjang bulat dan saling duduk berhadapan. Tubuh Mama yang berkeringat dan mengeluarkan aroma perempuan yang tajam membuatku tak dapat menahan diri. Aku tomplok Mama dengan buas sehingga kini aku menindihnya lalu aku sergap bibirnya.
Awalnya aku menyerang bibir Mama dengan bibirku tanpa ada perlawanan. Aku terus menjilat, mengecup dan menyedoti bibir Mama dengan rakus sementara kedua tanganku memeluk tubuhnya yang telanjang dan basah itu. Kedua kaki Mama yang tadinya rapat aku buat mengangkang dengan kedua kakiku sehingga kini kedua kakiku di dalam kedua kaki Mama yang mengangkang.
Tangan kananku kutarik dan kini aku mengelusi paha kiri Mama dengan tangan itu. Mama belum membalas ciumanku, maka aku menyedoti bibirnya agar bibir itu membuka. Suatu kali aku berhasil mengenyoti bibir atas Mama sehingga kedua bibirnya terbuka, aku segera memutar kepalaku lalu mulai menjilati dalam mulut Mama yang sedikit terbuka. Sementara tangan kananku mulai mengelusi pantat Mama yang sedikit kutarik ke atas.
Dengan tangan kiri yang memeluk Mama aku ubah posisi kami sehingga sedikit menyamping dengan kaki kananku di antara kedua kaki Mama. Kutarik pantat Mama dan aku tekuk lutut kananku sehingga pahaku menempel di selangkangan Mama dengan kaki kiri Mama di atas pahaku sehingga akhirnya Mama posisinya miring menghadapku.
Mama belum membalas ciumanku. Aku tetap menjelajahi mulutnya kini dengan lidahku. Kujilati bibirnya yang diam itu sementara aku meremasi pantat kiri Mama dengan tangan kananku sembari pahaku ku gesek-gesek di bibir memek Mama. Lama kelamaan Memek Mama basah. Tangan kiriku tetap memeluk badan Mama, sementara kedua tangan Mama hanya memegangi lenganku perlahan.
Kemudian aku mulai mendorong pantat Mama ke bawah sambil terus meremas pantat itu sehingga gesekan memek Mama dan pahaku bertambah keras. Memek Mama makin basah dan akhirnya Mama membuka mulutnya untuk mendesah sementara pegangan tangannya menguat di lenganku.
“Aaaahhhhh…..” mulut Mama membuka dan dengan sigap aku menjulurkan lidahku memasuki mulut Mama yang terbuka. Serta merta lidahku menempel di lidah Mama. Aku jilati lidah Mama sambil sesekali mengecupi bibirnya yang sensual. Mama memejamkan matanya. Aku lalu menciumi leher Mama. Mama tetap hanya mendesah. Kucupangi lehernya dan kujilati juga. Lalu aku kembali mengarahkan mulutku ke bibir Mama. Ternyata kedua bibir Mama tidak tertutup melainkan terbuka walau tidak terlalu lebar. Aku menjilati mulutnya dan mengenai giginya. Ketika lidahku masuk di giginya, Mama mendesah lagi yang menyebabkan mulutnya terbuka lagi sehingga kini lidahku menjilati lidah Mama lagi.
Kemudian aku mengecupi pipi Mama sambil menjilati sekali-kali. Kuselomoti juga seluruh wajah Mama yang cantik khas oriental itu lalu kembali aku menjilati bibirnya. Mama mendesah lagi dan membuka mulutnya. Aku kembali dapat menjilati lidahnya.
Kemudian aku menarik kepalaku lalu sedikit mendorong tubuh Mama dengan kedua tanganku sehingga kini aku dapat melihat kedua tetek Mama yang berukuran sedang namun dengan bulatan yang lebih besar dibanding miliknya Siska. Dengan cepat aku mulai menciumi dada kiri Mama. Seperti biasa, aku menyelomoti seluruh gundukannya dulu sebelum beralih ke pentilnya yang sudah mengeras dan mancung. Pentil dan areola Mama lebih besar dibanding Siska. Aku berikan cupangan disekeliling toket kiri itu, terkadang aku lama juga mengenyoti satu tempat sebelum pindah ke tempat berikutnya. Toket Mama lebih lembut dibanding Siska yang memiliki toket dengan otot yang lebih keras. Namun toket Mama menawarkan sensasi bola yang memantul, atau bisa dibilang sofa yang empuk namun memantul sehingga memiliki cita rasa yang berbeda dengan payudara Siska.
Setelah payudara itu penuh dengan liur dan cupanganku, aku mulai mengenyot-ngenyot pentil Mama yang besar itu. Kunikmati rasa menjepit pentil di antara langit-langit mulut dan lidahku. Lidahku membelai-belai pentil itu kadang dengan gerakan memutar kadang dengan gerakan menjilat. Saat ini Mama mulai mendekap kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah.
Aku ingin mengetes Mama, maka aku kini kembali menjilati bibir Mama. Mama membuka mulutnya dan aku mulai menjilati lidahnya lagi.
“Julurin lidah Mama…… kurang nih……..” kataku diselingi desahan penuh nafsu.
Mama tetap memejamkan mata namun perlahan lidahnya keluar. Aku mulai mengenyoti dan menjilati lidah Mama. Kupegang kepala Mama sehingga agak tegak, lalu aku mulai meludah tepat ke lidah Mama yang terjulur.
Mama membuka matanya dan melihat ketika aku meludah kedua kalinya ke lidahnya.
“Telan ludah Koko, Mah………”
Mama menatapku dengan tatapan aneh lalu menutup mulutnya. Terlihat sejenak Mama mengulum-ngulum lalu menelan ludahku. Aku menjilati bibir Mama lagi dan Mama otomatis membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya. Sementara, memek Mama sudah basah kuyup jadinya.
Aku menghentikan aksiku untuk sejenak. Kuposisikan Mama tidur dan aku menaruh kontolku di depan lubang memeknya. Kemudian aku memasuki Mamaku. Mama mengerang-erang. Ketika aku peluk tubuh Mama, Mama balas mendekapku. Aku mulai mengocok kemaluan Mama dengan kontolku. Mama terus mengerang-erang kenikmatan.
Aku mencium bibir Mama dan kali ini Mama membalas! Dengan gembiranya aku menciumi bibir Mama dengan penuh nafsu dan Mama pun mengimbangi dengan ciuman yang ganas pula. Akhirnya pertahanan Mamapun jebol!
Kamar tidurku kini dipenuhi suara selangkangan beradu ditingkahi dengan suara kecipak kecipuk ciuman dan juga terkadang erangan dan desahan. Bau tubuh kami berpadu menjadi satu mengisi segenap penjuru kamar. Keringat pada tubuh kami sudah tidak jelas lagi dari pihak yang mana karena sudah menyatu seperti halnya tubuh kami yang sudah bersatu di alat kelamin kami.
Dengan jeritan kecil Mama mencapai orgasme yang disambut dengan muntahan spermaku yang memenuhi rahimnya. Kami berciuman lama setelahnya.

EPILOGUE
Si dukun berkata bahwa kami harus melakukan ritual tiga kali dalam sebulan, namun pada kenyataannya, kami melakukannya hampir tiap hari dengan pengecualian malam minggu aku harus memuaskan pacarku, Siska.
Mama hamil anak kami tiga bulan kemudian, sementara Siska untungnya tidak hamil ketika kami melakukannya pertama kali tanpa kondom. Untuk selanjutnya dengan Siska, aku selalu memakai kondom.
Usaha Papaku semakin maju. Papa mengambil isteri kedua dan tinggal di rumah yang berbeda dengan kami. Kehidupanku, singkatnya sangat Bahagia. Hanya saja, aku masih bingung untuk ke depannya. Pada akhirnya aku pasti akan menikahi Siska dan tinggal dengannya. Bagaimanakah caranya agar hubunganku dengan Mama dapat berlanjut seterusnya? Mama adalah cinta pertamaku, tentunya. Aku masih belum kepikiran bagaimana seharusnya nanti ketika aku sudah berumah tangga. Tapi biarlah aku nikmati saja dahulu kehidupanku dengan dua kekasih dalam hidupku…..

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s