Anak petani 2

Posted: April 11, 2012 in CerBung, Ibu
Tags:

Kegiatan Arjuna mengintip Ibunya mandi sekarang menjadi aktivitas harian yang tidak akan dilewatkannya. Arjuna kini sudah hafal bentuk tubuh Ibunya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari bagian belakang maupun bagian depan. Apalagi kedua buah dada Ibunya yang besar dan ranum itu, yang dihiasi oleh puting indah bagaikan buah yang ditaruh di atas es krim sebagai penghias. Bentuk payudara Ibunya terekam dengan begitu jelas sehingga seakan meninggalkan jejak di benaknya yang tak dapat dihilangkan. Arjuna tinggal memejamkan mata, maka kedua payudara itu akan muncul di benaknya. Lekuk lingkar buah dada itu, jurang yang terjadi antara dua buah payudara itu, warna kulitnya yang kuning langsat, dan kilauan kulitnya yang basah ketika terkena sinar neon.
Kemudian ilham kedua datang saat Arjuna sedang asyik mengintip Ibunya yang mandi pagi. Arjuna ingin sekali melihat Ibunya dan ayahnya melakukan hubungan suami isteri. Ilham ini membuat Arjuna ejakulasi lebih cepat dari biasanya. Namun Arjuna tidak kecewa, malah menjadi asyik memikirkan bagaimana rencana selanjutnya akan dilakukan.
Setelah matang rencananya, Arjuna menjalankan niatnya hari itu juga. ketika ia pulang sekolah dan Ibunya sedang keluar mengantarkan makanan kepada ayahnya, maka Waluyo masuk kamar orang tuanya yang letaknya persis di sebelah kamar tidurnya sendiri untuk menyelidiki keadaan. Rumah mereka adalah rumah kayu tanpa langit-langit. Tipikal rumah petani sederhana. Membolongi kayu tidaklah mungkin, karena pasti akan terlihat, namun karena rumah mereka tidak memiliki langit-langit, maka ada jalan lain untuk dapat mengintip.
Arjuna dapat melongok dari atas dinding kamarnya secara langsung, hanya saja tempat itu banyak debunya sehingga sangat kotor, lagian letaknya cukup jauh. Maka mulailah Arjuna mendekorasi ulang kamarnya. Ia menempatkan lemari pakaiannya pada dinding kamarnya yang tepat di sebelah kamar orangtuanya. Meja belajarnya – yang dIbuat ayahnya, yang sebenarnya hanya sebilah papan dipaku pada empat buah kaki, buatannya kasar namun sangat kokoh – ditaruhnya disamping lemari pakaiannya. Berhubung lemari itu tidak begitu tinggi, melainkan hanya setengah dinding, maka pas sekali kalau ia jongkok di atas lemari dan melongok.
Dewi, Ibunya, sempat melihat ke dalam kamar dan menyaksikan Arjuna sedang membersihkan bagian atas lemari itu. Ibunya malah senang melihat anaknya mendekorasi ulang kamarnya dan membersihkannya juga. Dewi tidak tahu bahwa anaknya begitu rajin justru karena memiliki otak yang kotor dan ingin mengintip kedua orangtuanya ngemprut! Dewi tidak melihat ketika Arjuna juga membersihkan bagian atas dinding penyekat kedua kamar itu dan juga tiang di tengahnya, agar nanti tangan Arjuna tidak kotor.
Ketika tengah malam datang, Arjuna yang tidak tidur, mulai beraksi. Dipanjatnya meja belajarnya, kemudian dengan hati-hati dipanjatnya lemari pakaiannya dengan perlahan. Ketika ia sudah berjongkok di atas lemari itu, di pegangnya ujung atas dinding pembatas itu lalu mulai melongokkan kepalanya untuk melihat ke kamar sebelah.
Arjuna kecewa karena yang dilihatnya hanya Ibunya yang tidur dengan kain, namun ayahnya tidak terlihat. Arjuna bingung, karena jadwal ronda ayahnya masih jauh. Maka dengan perlahan ia turun dari lemari itu lalu keluar kamar dan mencari ayahnya. Ayahnya ternyata tidur di bale-bale di depan rumah. Hari itu Arjuna gagal. Namun Arjuna tidak patah semangat, mungkin saja hari ini ayahnya begitu letih sehingga tertidur di depan. Maka, Arjuna berencana untuk melihat keesokkan harinya.
Namun, ayahnya tidak tidur di kamar tidur bersama Ibunya keesokkan harinya, atau esoknya lagi, atau besoknya lagi, bahkan selama seminggu ini Arjuna tidak pernah melihat kedua orang tuanya tidur bersama. Bahkan pada hari sabtu, ayahnya justru tidak ada di rumah sama sekali. Padahal malamnya mereka makan bersama, namun pada tengah malam ayahnya tidak dapat ditemukan di mana-mana.
Anehnya, ketika sepanjang minggu depannya lagi, hal yang sama terjadi. Arjuna menjadi bingung dan menjadi sangat ingin tahu kenapa kedua orang tuanya tidak tidur sekamar.
Paginya setelah mandi, ketika sarapan pagi, Arjuna bertanya pada Ibunya. Seperti biasa ayahnya sudah berangkat ke sawah ketika Arjuna mandi.
“Bu, minggu lalu Arjuna bangun malam-malam. Terus Arjuna mau ke kamar mandi, tapi karena masih ngantuk Arjuna malah keluar ke serambi. Eh Bapak tidur di bale-bale. Arjuna pikir Bapak kecapekan. Tapi tadi malam waktu Arjuna bangun lagi, eh Bapak kok masih tidur di sana ya? Ibu sama Bapak lagi marahan ya?”
Dewi tampak terkejut dengan perkataan Arjuna.
“Hush… kamu kok ngurusin orangtua? Bapakmu sama Ibu enggak marahan, kok.”
“Bukan ngurusin Bu, tapi Arjuna takut. Temen Arjuna si Arjuna itu dulu orangtuanya marahan, eh tahu-tahu cerai. Jangan cerai ya, Bu?!”
Dewi hanya menghela nafas sambil menggeleng,
“Bapak sama Ibumu ini ga bakalan cerai. Kamu tenang saja. Bapak memang dari dulu tidak tidur di kamar. Soalnya panas. Bapak lebih senang tidur di luar karena sejuk dan dingin. Kamu ga usah takut, Jun.”
Arjuna mengangguk saja. Namun ia jadi tambah heran. Menurut Harun temannya itu, ngemprut itu kegiatan paling enak. Jadi, pasti hampir tiap hari suami isteri itu ngemprut. Kecuali kalau perempuannya haid atau datang bulan. Tapi biasanya datang bulan itu hanya seminggu. Nah, kedua orangtua Arjuna tidak puasa ngemprut hanya seminggu, tapi sudah dua minggu. Pasti ada sesuatu yang aneh. Maka, Arjuna tetap mengintip kamar Ibunya selama sebulan. Jadi dalam sehari, ia mengintip Ibunya dua kali. Sekali waktu mandi pagi, kedua kali waktu Ibunya tidur. Dan Arjuna menyadari bahwa kedua orangtuanya tidak pernah tidur bersama!
Setelah mengetahui hal ini, Arjuna yang adalah anak pintar mulai dapat melihat bahwa sebenarnya hubungan ayah dan Ibunya tidaklah harmonis. Ada sesuatu masalah dalam keluarganya yang ia sendiri tidak tahu apakah itu. namun dihadapan Arjuna, kedua orangtuanya tetap berbicara santai seperti biasa. Hanya saja kini Arjuna dapat menilai bahwa perhubungan mereka bukanlah hubungan yang intim dan romantis. Lebih seperti seorang kakak dan adik. Mereka saling menyayangi, namun tidaklah saling mencintai selayaknya pasangan suami isteri.
Dan Harun pernah mengatakan kepada Arjuna, bahwa lelaki dan perempuan itu sama saja. Dua-duanya butuh melakukan hubungan suami isteri. Karena contohnya, Mbak Sari yang suaminya, Mbah Bejo yang sudah kakek-kakek itu pernah ketahuan warga melakukan hubungan terlarang dengan pemuda dari dusun seberang. Saat itu heboh sekali. Arjuna juga mendengar bahwa Mbak Sari itu selingkuh, hanya saja waktu itu Arjuna tidak mengerti, dan kedua orangtuanya ketika ditanya malah menyuruh Arjuna diam. Barulah dari Harun Arjuna mengerti bahwa selingkuh itu berarti melakukan hubungan suami isteri bukan dengan pasangannya, melainkan dengan orang lain. Dan Mbak Sari selingkuh, karena ia butuh melakukan hubungan seks sedangkan Mbah Bejo sudah tidak sanggup lagi melakukan itu.
Kini, Arjuna menjadi curiga. Apakah dengan ini Ibunya juga selingkuh? Untuk beberapa lama, Arjuna akhirnya berusaha mengikuti Ibunya kemana-mana, tentunya ketika sudah pulang sekolah. Namun Ibunya tidak pernah keluar rumah kalau tidak perlu. Ibunya hanya pergi mengantar makanan pada ayahnya. Sesekali mampir di tetangga untuk bertamu, namun bertamu kepada Ibu-Ibu yang lain. Kalau begitu, kalau perempuan butuh tapi tak pernah melakukannya bagaimana jadinya?
Harun yang tahu banyak itu malah berkata,
“Kalalu kamu ketemu perempuan yang sudah menikah dan dia sudah tidak lama begituan sama suaminya, kamu kasih tahu aku, Jun. biar aku dekati. Perempuan seperti itu pasti gampang dirayu karena nafsunya sudah lama ditahan-tahan. Kamu kenal perempuan jablay seperti itu?”
Arjuna buru-buru berbohong dan berkata,
“Belum sih. Cuma mau tahu aja, kalau ada perempuan seperti itu harus bagaimana?”
“Ya dirayu donk. Pasti mau deh!”
“Kamu kok tahu sih? Umur kita kan sama!”
“Aku ini kenal sama Zainal. Itu loh, selingkuhannya Mbak Sari. Nah, Zainal itu pernah cerita tentang perempuan yang jarang dibelai, atau jablay. Yang penting dideketin, dipuji-puji sama dirayu-rayu deh. Itu katanya.”
Arjuna mengangguk-angguk. Ia simpan hal ini dalam hatinya baik-baik. Apakah Ibunya bisa dirayu-rayu sama dia? Berhubung Arjuna masih kecil, ia belum bisa berfikir baik dan buruk. Orang dewasa tentu tahu bahwa merayu Ibu sendiri adalah sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan. Namun, bukanlah salah Arjuna bahwa ia tidak tahu, namun keadaan lingkunganlah yang membuat Arjuna dewasa pada saat yang tidak tepat.

BAB TIGA
AKSI-AKSI PERTAMA ARJUNA

Maka keesokkan harinya, Arjuna mulai beraksi. Ia kini tidak malas di rumah. Ia bantu Ibunya untuk mencuci piring bahkan pakaian sendiri. Kamar tidurnya selalu rapi bahkan kamar mandi dan dapur dibersihkannya seminggu sekali. Ibunya tentu senang Arjuna membantunya karena selama ini untuk merapikan tempat tidur sendiri saja Arjuna malasnya bukan main. Ketika ditanya Ibunya, Arjuna menjawab,
“Arjuna baru sadar, Ibu capek sekali merawat rumah, anak dan ayah. Arjuna baru sadar Ibu sayang sama keluarga. Nah, Arjuna memutuskan untuk membalas kebaikan dan rasa sayang Ibu. Arjuna akan bantu Ibu dan akan menyayangi Ibu.”
Dewi yang tidak mengetahui intensi dari anaknya, menjadi berkaca-kaca dan terharu. Dipeluknya anak tunggalnya itu lalu berkata,
“Kamu memang anak Ibu yang pintar.”
Sementara Arjuna bagaikan diberikan kado sebelum hari ulangtahun. Baru kali ini setelah ia mengetahui mengenai seks, Ibunya merangkulnya. Arjuna tak ingat kapan terakhir kali dipeluk Ibunya, mungkin kelas satu SD atau dua SD. Tapi kini Ibunya merangkulnya.
Arjuna balas merangkul dengan kencang sambil berkata,
“Arjuna sayang Ibu. Arjuna akan selalu menyenangkan Ibu, jangan sampai Ibu capek atau sedih. Arjuna akan menjaga Ibu selamanya.”
Dewi tambah terharu dan mempererat rangkulannya. Sementara, Arjuna bagaikan di awang-awang. Saat itu sudah sore hari. Ia membantu Ibunya mencuci banyak perabotan dan piring. Berhubung mereka cuci piring di kamar mandi, maka keduanya jongkok sambil mencuci. Suasana hari itu panas sekali, mungkin karena hujan tidak turun selama berminggu-minggu. Keduanya berkeringat saat mencuci dan membilas perabotan itu. setelah selesai, maka barulah kedua Ibu dan anak itu berangkulan.
Kepala Arjuna masih setinggi mulut Ibunya. Ketika Ibunya memeluknya, hidung Arjuna hinggap di bagian atas dada Ibunya, karena Dewi menarik kepala Arjuna sehingga dagu Dewi menempel pada ubun-ubun anaknya. Arjuna dapat mencium bau tubuh Ibunya yang berkeringat itu. Bau tubuh perempuan dewasa yang belum mandi. Baunya lumayan jelas dan menyengat hidung, namun bukan bau yang membuat mual, namun justru bau yang membuat gairah kelelakian bangkit, membangkitkan si rudal scud untuk bersiap-siap mencari sarang beludru di mana bau itu sangat jelas memancar, selain dari dua buah ketiak yang jauh di atas.
Kulit Ibunya licin di wajah Arjuna karena keringat. Baik keringat Arjuna sendiri dan Ibunya kini berbaur. Dapat dirasakan Arjuna, buah dada Ibunya menekan dadanya sendiri. Ingatan akan bentuknya membuat burung Arjuna kini menegak sampai seratus persen dan tidak dapat bertambah panjang lagi. Maka Arjuna membenamkan wajahnya di dada Ibunya, dapat dirasakan bibirnya menempel di bagian atas kedua payudara Ibunya dan sedikit bibirnya menempel di sela-sela buah dada itu yang seakan adalah jurang pemisah kedua gundukan indah.
Tiba-tiba Dewi membeku. Lalu mendorong tubuh anaknya sambil berkata,
“Jun, sekarang kamu mandi dulu. Badan kamu keringetan.”
Arjuna kecewa. Namun ia harus sabar. Ia tahu bahwa usahanya tidak akan langsung berhasil melainkan keberhasilan akan datang bila ia sabar. Maka Arjuna bergegas bangkit untuk mandi, sesuai dengan perintah Ibunya.
Untuk selanjutnya, Arjuna terus membantu di rumah. Bahkan tanpa disuruh ia membantu. Ketika atap bocor, maka Arjuna tanpa diminta membetulkannya. Ketika pagar perlu diperbaiki, ia segera membetulkannya. Untuk sebulan kemudian, Arjuna menjadi anak yang berbakti sekali, menjadikannya tidak hanya disayang Dewi, melainkan bahkan mulai dipuji oleh Waluyo.
Selama sebulan itu ia tidak pernah berpelukan lagi dengan Ibunya. Maka Arjuna berpikir apa yang akan menjadi aksinya berikut, karena usahanya tampak tidak berhasil menambah kedekatannya dengan Ibunya. Akhirnya ia menemukan suatu akal.
Saat itu Arjuna akan pergi sekolah. Ia telah sarapan dan sudah berseragam dan menyandang tasnya. Ibunya sedang membereskan bale. Karena mereka selalu sarapan di sana, berhubung tidak punya meja makan. Arjuna menghampiri Ibunya dan mencium tangannya seperti kebiasaannya selama ini. Namun setelah itu ia bertanya kepada Ibunya,
“Bu, kenapa ya, orang indonesia cium tangan orangtuanya ketika mau pergi?”
“Mmmm….. sudah tradisi dari dulu, Jun.”
“Iya, tradisi ini memang bagus, karena menunjukkan rasa hormat pada orang tua. Namun sepertinya tetap memberikan jarak. Sepertinya susah sekali untuk menjadi dekat dengan orangtua.”
“Maksud kamu apa sih, Jun?”
“Iya, Bu. Waktu itu Arjuna nonton film barat di kelurahan. Itu loh yang hari minggu. Film tentang keluarga yang harmonis di Amerika sana.”
“Terus?”
“Di sana mereka bukan cium tangan, lho Bu.”
“Lah? Terus bagaimana?”
“Mereka itu cium pipi kanan kiri. Kalau dilihat, keluarga mereka dekat sekali. Banyak masalah dalam keluarga diselesaikan dengan mudah dengan saling berbicara bukan seperti orangtua dan anak, tapi seperti sederajat begitu. Mungkin itu karena mereka sangat dekat satu sama lain.”
“Itu kan orang Amerika, Jun. kita kan orang Indonesia.”
“Iya sih. Tapi selama sebulan ini, Arjuna bantu Ibu di rumah, Arjuna merasa kita menjadi semakin dekat. Ga kayak dulu-dulu. Sekarang kita banyak ngomong, deket sekali, Bu. Nah, Arjuna pikir, Ibu dan Arjuna sudah mulai berbicara dengan nyaman, seperti sederajat, sudah kayak orang Amerika itu dan terbukti hubungan kita lebih dekat lagi. Benar kan, Bu?”
“Betul. Terus?”
“Nah, bagaimana kalau selain cium tangan, Arjuna juga cium pipi Ibu, siapa tahu nanti kita bisa lebih dekat lagi, Bu. Supaya nanti Ibu lebih sayang Arjuna, dan Arjuna lebih sayang Ibu?”
Dewi berpikir sebentar. Namun, berhubung Dewi tidak tahu niat Arjuna sebenarnya, maka akhirnya ia memutuskan untuk memperbolehkan Arjuna.
Segera Arjuna mencium kedua pipi Ibunya dengan cepat, agar tidak menimbulkan curiga. Lalu Arjuna segera berangkat sekolah. Akhirnya, kegiatan ini menjadi rutinitas setiap pagi. Arjuna akan cium tangan Ibunya, lalu mencium kedua pipi Ibunya. Minggu-minggu pertama ciuman Arjuna hanya sekejap. Namun makin lama, ciuman itu sedikit dilamakan oleh Arjuna. Dari hanya sepersekian detik, pada akhir minggu ketiga ciuman itu menjadi satu detik.
Dewi senang juga dalam hatinya. Anaknya menunjukkan kasih sayang padanya. Arjuna selalu membantu di dalam rumah, selain itu Dewi juga merasa bahwa perkataan Arjuna benar, bahwa dengan mencium pipi, mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Dewi menjadi lebih banyak bercerita kepada Arjuna mengenai rumah dan permasalahannya. Tentu saja bukan permasalahan seks dengan suaminya yang sudah lama tak pernah menafkahi secara batin, namun mengenai permasalahan rumah lainnya. Terkadang pula Dewi curhat bila ada permasalahan dengan tetangga. Makin lama mereka seakan menjadi teman yang dekat.
Suatu hari, sekitar dua bulan setelah ciuman pertama Arjuna, Dewi memutuskan untuk membelikan baju baru untuk Arjuna dari uang tabungannya selama ini. Walaupun tidak menghabiskan tabungan, namun cukup mahal juga kalau dalam ukuran petani kecil. Arjuna gembira sekali, dipeluknya Ibunya, lalu diciumnya pipi Ibunya, kali ini sekitar dua detik dan ciuman Arjuna ketika dilepas terdengar suara kecupan. Dewi kaget, namun ketika dilihatnya wajah Arjuna sangat gembira, Dewi tidak curiga apa-apa. Mulai saat itu Arjuna mencium Ibunya dengan memberikan kecupan saat melepaskan bibirnya. Dan mereka menjadi lebih dekat lagi.
Beberapa hari kemudian, saat hari minggu dan banyak orang desa menonton disana, Dewi memutuskan untuk menonton juga. Kali ini film barat mengisahkan tentang perjuangan seorang Ibu membesarkan keluarganya tanpa suami. Dan yang lucu, anak lelaki perempuan itu yang berusia sekitar enam tahunan, mencium bibir Ibunya ketika akan pergi bermain.
Ketika mereka pulang, mereka membahas hal ini. Saat itu mereka sudah selesai cuci piring dan telah selesai pula menaruh perabotan dan piring di rak piring di dapur. Waluyo entah pergi ke mana, karena biasanya hari minggu ia pergi sampai waktu makan malam.
“Tuh, kan bu. Orang Amerika cium anaknya juga. bagaimana kalau kita juga cium seperti mereka, di bibir? Boleh kan, Bu?”
Hanya Waluyo yang pernah mencium Dewi di bibir. Namun itu ciuman yang penuh nafsu dan lama. Dewi berfikir kalau hanya sebentar apalagi dengan anak sendiri tentunya tak masalah. Malah hubungan mereka mungkin bertambah kental. Maka Dewi menjawab dengan mengangguk.
Arjuna lalu mengecup kedua pipinya seperti biasa lalu mengecup bibir Dewi. Entah kenapa Dewi merasakan sesuatu yang aneh. Bibir Arjuna begitu hangat ketika menempel pada bibirnya. Nafas Arjuna tercium bersih, beda dengan nafas perokok Waluyo. Hanya 2 detik dan Dewi tiba-tiba saja merasa bahagia. Mungkin Arjuna benar, pikir Dewi. Karena ia merasa menjadi sangat dekat dengan anaknya itu.
Sementara itu Arjuna berteriak senang dalam hatinya. Rupanya aksi dia berhasil. Tentunya bila ia tetap sabar, maka apapun bisa dilakukan. Arjuna memegang tangan kiri Ibunya, lalu menariknya sambil berkata,
“Aku punya hadiah untuk Ibu. Aku mau kasih Ibu sekarang…”
Ia menarik Ibunya ke dalam kamarnya. Selama ini Arjuna menabung selama beberapa bulan ini. Selama usahanya dalam merayu Ibunya. Pada hari sabtu kemarin, ia bertemu dengan pedagang keliling yang menjual pakaian. Kebetulan ia melihat daster. Daster itu jenisnya menggunakan karet sehingga dapat melar, namun ukurannya lebih kecil satu nomer untuk Ibunya yang lumayan tinggi itu, bila dipakai Ibunya tentu akan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah tanpa menyebabkan robek. Dibelinya daster itu, dikatakan Arjuna bahwa ia mau beli kado untuk teman sekolah. Padahal untuk Ibunya.
Arjuna mengambil daster itu dari lemari sambil berkata,
“Ibu kan ga pernah punya daster kayak tetangga. Selama ini Arjuna perhatikan Ibu Cuma pakai kain kalau mau tidur. Nah, Arjuna bela-belain beli ini dengan menyisihkan uang jajan Arjuna. Arjuna ga jajan selama empat bulan, lho bu.”
Ibunya menjadi terharu. Dicobanya daster itu dengan menempelkannya didepan tubuhnya, dan ternyata tidak sama dengan ukuran tubuhnya. Daster itu bermodel rok di atas lutut, namun karena ukurannya kecil, jatuhnya tepat di tengah antara pantat dan lututnya. Untung saja ada karetnya sehingga bila dipaksa dipakai tidak akan robek.
“Ibu ga suka, ya?” tampak wajah Arjuna menjadi sedih. Dewi berfikir mungkin karena Arjuna melihat reaksi dari dirinya yang terkejut.
“Oh, Ibu suka,” katanya untuk menghIbur Arjuna.
“Ibu pakai ya nanti malam? Udah Arjuna cuci tuh…”
Dewi hanya mengangguk. Namun ia menjawab,
“Ibu pakai, nanti kalau Bapakmu sudah selesai makan.”
Itu berarti kalau Bapak tidak masuk rumah lagi, pikir Arjuna. Tentunya Ibunya takut kalo Bapaknya melihat Ibunya memakai daster kecil sehingga membuat tubuh menjadi seksi.
“Arjuna boleh lihat ya? Soalnya Arjuna bangga kalau Ibu memakai pemberian Arjuna.”
Dewi hanya mengangguk pelan.
Malamnya, ketika Waluyo telah merebahkan diri di bale-bale, Dewi masuk kamarnya. Arjuna sudah siap di atas lemari mengintip Ibunya. Ibunya membuka kainnya sehingga hanya memakai kutang dan celana dalam. Lalu dipakainya daster itu. Daster itu tidak bertali dan menunjukkan sedikit bagian dada dan agak banyak bagian punggung. Ketika bercermin, Dewi melihat bahwa tali BH nya menyembul keluar, dan di bagian punggung Bhnya terlihat sehingga tampak tidak begitu enak untuk di lihat.
Dengan cekatan tanpa membuka daster, Dewi membuka Bhnya dan menaruhnya di tempat tidur. Barulah dapat dilihat seorang perempuan seksi memakai daster, dengan pentil terlihat menyembul dari balik kain dasternya. Dewi merasa sedikit malu, karena yang dilihat di cermin tampak seperti bukan perempuan baik-baik, namun di lain pihak ia merasa amat seksi sehingga ia cukup lama bercermin dan melihat keadaannya dari berbagai sudut.
Arjuna yang tak sabar segera turun dari lemari dan mendatangi kamar Ibunya. Dewi terkejut ketika didengarnya pintu kamar diketuk. Apakah suaminya mau masuk? Namun didengarnya Arjuna memanggilnya perlahan, maka Dewi membuka pintu.
“Wah….. Ibu cantik sekali,” kata Arjuna ketika melihat Dewi, “ dan Arjuna bangga Ibu menjadi cantik karena pemberian Arjuna. Kok Arjuna baru tahu ya, kayaknya Ibu ini wanita tercantik di desa kita.”
Dewi merasa jengah namun bahagia juga. Ia tidak curiga maupun heran, karena dipikirnya anaknya memuji dia karena sayang saja. Maka Dewi memeluk Arjuna sambil mencium pipi kirinya.
“Terimakasih ya, Jun.”
“Ibu, kok Cuma pipi? Kan kita cium bibir.”
Dewi kemudian mencium bibir Arjuna.
“pipi kanan belum.”
Dewi mencium pipi kanan Arjuna.
“sekarang giliran Arjuna, karena Ibu mau memakai pemberian Arjuna, maka Arjuna juga sangat berterima kasih.”
Arjuna mencium kedua pipi Ibunya. Kali ini sudah tiga detik. Lalu diciumnya bibir Ibunya. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik.. Dewi merasakan tubuhnya hangat karena ciuman bibir Arjuna yang hangat seakan menjalar ke seluruh badannya. Setelah lima detik Arjuna melepaskan bibirnya.
“Bu?”
“Ya?” jawab Dewi dengan suara sedikit serak.
“Arjuna sayang banget sama Ibu. Boleh kan kalo Arjuna mencium Ibu kapan saja?”
“Maksud kamu?”
“Maksudnya ga hanya waktu pamit saja. Soalnya Arjuna pengen kasih liat bahwa Arjuna sayang sama Ibu.”
“Boleh saja.”
Arjuna kemudian mencium bibir Ibunya lagi. Mereka berangkulan semakin erat. Lalu setelah lima detik, Arjuna melepaskan bibirnya dan rangkulannya dan pamit untuk tidur. Sebenarnya ia buru-buru pergi karena tidak mau membuat Ibunya curiga dan selain itu ia ingin masturbasi di kamar.
Ketika Arjuna bangun, Ibunya sedang menata piring untuk sarapan di bale-bale. Tubuhnya membungkuk ke depan. Arjuna menyapa Ibunya, lalu mencium pundak Ibunya selama lima detik. Ia mencium bau ketiak Ibunya secara jelas.
“Ih ngapain kamu cium pundak Ibu? Lagian Ibu kan belum mandi.”
“Katanya Arjuna boleh cium kapan aja. Dan biar Ibu belum mandi tetap aja wangi, kok.”
“bau gini kok wangi? Ngaco!”
Ibunya lalu duduk di pinggir bale-bale. Arjuna yang pintar itu segera duduk di sebelahnya.
“Untuk Arjuna sih bau badan Ibu itu wangi. Ga percaya?”
Arjuna mengangkat tangan Ibunya lalu membenamkan wajahnya di ketika Ibunya yang lembab. Hidungnya dibelai bulu ketiak halus namun tidak lebat milik Ibunya. Bau tubuh Ibunya kini menyerang hidungnya dan menguasai otaknya.
Ibunya yang kegelian menarik tubuhnya ke samping dan tertawa sambil berkata,
“dasar bocah gemblung! Makan sana!”
Maka Arjuna makan dengan lahap. Setelah itu, seperti biasa, ia mencium pipi dan bibirnya Ibunya. Kali ini proses ciuman di bibir sudah lima detik. Ibunya mendorong kepala Arjuna perlahan dan berkata,
“Nanti kamu terlambat sekolah.”
Arjuna hanya tertawa, lalu mencium ketek Ibunya. Namun karena sedang tertutup, maka ia mencium bagian kiri atas dada Ibunya dan tangan kirinya tepat ditempat di mana ketek itu berada.
“Mending Ibu jangan mandi deh sebelum sarapan,” kata Arjuna lalu bergegas berangkat ke sekolah.
Setelah itu Ibunya tidak pernah mandi sebelum selesai sarapan yang menyebabkan Arjuna mengintip Ibunya mandi hanya pada sore hari saja. Ada sedikit penyesalan, namun setidaknya dia dapat mencium Ibunya tidak hanya pipi dan bibir.
Aktivitas cium Arjuna menjadi bertambah. Kini bilamana mereka berduaan saja, maka Arjuna mencium pundak Ibunya, pipinya dan bibirnya. Pertama-tama hanya sekilas, namun karena Ibunya tidak marah, maka menjadi lebih lama. Namun untuk tidak mencurigakan, maka ciuman itu dilancarkan sekali-kali dan belum beruntun. Arjuna segera mencari akal agar dapat menciumi Ibunya secara beruntun.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s